Konten dari Pengguna
Jujur, Siapa di Sini yang Suka Pura-Pura Baik-Baik Saja?
8 Juli 2025 10:45 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Jujur, Siapa di Sini yang Suka Pura-Pura Baik-Baik Saja?
Melalui karakter baru seperti Anxiety, Inside Out 2 menyadarkan kita bahwa emosi negatif bukan musuh. Artikel ini mengajak kita berdamai dengan perasaan yang sering kita sembunyikan.Jocelyn Lukman
Tulisan dari Jocelyn Lukman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
"Aku baik-baik saja."
Kalimat yang tampaknya sepele ini mungkin menjadi kebohongan yang paling umum di dunia. Kita mengatakannya nyaris tanpa refleksi, bahkan ketika hati kita berantakan, pikiran kita tertekan, atau saat dunia terasa sangat penuh.
ADVERTISEMENT
Kemudian muncul Inside Out 2, film yang kembali menyentuh bagian emosional kolektif kita dengan cara yang tulus dan mengejutkan. Sekuel dari film Pixar yang pertama ini memperkenalkan emosi-emosi baru—seperti cemas, iri, malu, dan bosan—yang muncul ketika Riley memasuki fase remaja. Namun, lebih dari sekadar menambahkan "karakter emosional", film ini seolah memberikan cermin bagi kita: mengapa kita begitu enggan untuk mengekspresikan emosi-emosi "tidak menyenangkan"? Kalimat yang tampaknya sepele ini mungkin menjadi kebohongan yang paling umum di seluruh dunia.
Emosi Tak Selalu Harus Nyaman
Dalam budaya kita, emosi sering ditempatkan dalam kategori tertentu. Kebahagiaan dianggap positif. Kemarahan dianggap negatif. Kecemasan perlu segera diatasi. Rasa malu seharusnya disembunyikan. Kesedihan membutuhkan penghiburan dengan cepat. Namun, seperti yang digambarkan secara indah dalam film Inside Out pertama, setiap emosi memiliki perannya masing-masing.
ADVERTISEMENT
Di dalam Inside Out 2, Kecemasan menjadi pengendali utama emosi Riley. Ia bukanlah sosok yang jahat, hanya saja terlalu melindungi. Ini mencerminkan banyak dari kita—yang berusaha sedemikian rupa untuk meramalkan, merencanakan, dan menghindari rasa sakit, yang pada akhirnya justru menghilangkan jati diri kita.
Kecemasan, dalam takaran yang seimbang, dapat mempersiapkan kita menghadapi ujian atau berbicara di depan umum. Namun, ketika ia mengambil alih, kita mulai hidup dalam ketakutan akan kemungkinan terburuk. Kesedihan membutuhkan penghiburan dengan segera.
Kita Menyembunyikan yang Seharusnya Dikenal
Film ini dengan halus mengingatkan kita bahwa perasaan seperti malu atau cemburu bukanlah musuh. Mereka merupakan indikator—bahwa kita peduli, bahwa kita sedang berproses dalam pembelajaran. Namun, sejak masa kanak-kanak, banyak di antara kita diajarkan untuk “bersikap tangguh”, “tidak boleh menangis”, atau “jangan mempermalukan diri”. Sebagai akibatnya, kita tumbuh menjadi orang dewasa yang terampil dalam menyembunyikan ketidaknyamanan, tetapi kesulitan untuk menghadapinya.
ADVERTISEMENT
Inside Out 2 tidak hanya berkisar pada Riley. Ini menggambarkan kita semua. Mengenai bagaimana kita menekan perasaan di depan umum, mempercantik diri di dunia maya, dan menciptakan jarak antara apa yang kita rasakan dan apa yang kita tunjukkan.
Belajar Menyapa Emosi
Yang paling mengesankan dari film ini adalah kesadaran bahwa beranjak dewasa tidak selalu berarti memiliki kendali sepenuhnya atas perasaan. Justru sebaliknya—kita diajak untuk menerima keadaan, bukan mengatur. Kita diajarkan bahwa membiarkan ketakutan, rasa malu, atau kecemburuan sebagai bagian dari diri sendiri merupakan tanda kematangan emosional.
Mungkin sudah saatnya kita merombak cara kita menyapa orang lain. Alih-alih menanyakan "Apa kabar? " dengan cepat, kita sebaiknya mulai bertanya:
"Apa yang kamu rasakan hari ini? "
ADVERTISEMENT
Dan jika suatu saat ada seseorang yang menjawab, "Saya merasa cemas," maka berikan pelukan penuh empati, bukan jawaban solutif.

