Konten dari Pengguna

Ancaman di Balik Kemasan Saset Plastik

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jocelyn Virlian Sutrisna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dampak Sampah Kemasan Saset Plastik dan Upaya untuk Mengurangi

Ilustrasi sampah kemasan saset plastik yang berserakan di selokan kawasan Jakarta Selatan. Foto: Dokumentasi pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sampah kemasan saset plastik yang berserakan di selokan kawasan Jakarta Selatan. Foto: Dokumentasi pribadi.

Kemasan saset plastik sekali pakai yang sering dianggap tidak berbahaya ternyata dapat menyimpan permasalahan besar bagi lingkungan. Satu rumah dapat menghasilkan sekitar 8–9 kemasan saset plastik setiap harinya sehingga apabila terjadi pada banyak rumah tangga, jumlah sampah yang dihasilkan dapat meningkat secara signifikan. Sampah kemasan saset plastik yang sulit diolah dan terus menumpuk menunjukkan bahwa kemasan saset plastik bukan hanya sekadar sampah kecil yang dapat diabaikan, tetapi juga menjadi bagian dari permasalahan lingkungan yang perlu ditangani.

Kemasan saset plastik banyak digunakan karena menawarkan kepraktisan dan harga yang terjangkau untuk kebutuhan sehari-hari. Produk dapat dibeli oleh masyarakat dalam jumlah yang kecil, tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar. Berbagai produk, seperti sampo, sabun, kopi, bumbu makanan, dan permen menjadi pilihan banyak orang.

Kemasan saset plastik sekali pakai menjadi salah satu penyebab meningkatnya permasalahan sampah plastik. Meskipun ukurannya kecil, kemasan ini sulit untuk didaur ulang karena umumnya terdiri dari beberapa lapisan bahan yang berbeda. Kemasan saset umumnya terdiri atas berbagai macam plastik dan logam yang membuatnya kecil tetapi fleksibel dan tahan lama. Kondisi tersebut membuat proses pengolahan menjadi lebih sulit sehingga banyak kemasan saset plastik tidak dapat dimanfaatkan kembali. Akibatnya, kemasan saset plastik seringkali berakhir sebagai sampah yang menumpuk di lingkungan.

Selain sulit didaur ulang, kemasan saset plastik juga memiliki durasi penggunaan yang sangat singkat. Produk dalam kemasan saset plastik biasanya hanya digunakan hingga isinya habis, kemudian kemasannya langsung dibuang. Tingginya minat masyarakat terhadap produk saset menyebabkan jumlah kemasan yang beredar semakin banyak sehingga jumlah sampah yang dihasilkan juga berpotensi meningkat.

Peningkatan jumlah sampah kemasan saset plastik dapat memperburuk pencemaran lingkungan. Kemasan yang sulit diolah dan terus dibuang dapat ditemukan di berbagai tempat, seperti Tempat Pembuangan Akhir (TPA), pinggir jalan, saluran air, dan sungai. Berdasarkan data dari Aliansi Zero Waste Indonesia, limbah saset di Indonesia membentuk 16% dari total limbah plastik yang merupakan 768.000 ton per tahun. Meskipun ukurannya kecil, penggunaan kemasan saset plastik yang terus-menerus dapat menyebabkan jumlah sampah plastik semakin meningkat.

Penggunaan kemasan saset plastik sekali pakai memang memberikan kemudahan bagi masyarakat karena praktis dan memiliki harga yang terjangkau. Namun, kemudahan tersebut hanya dirasakan dalam waktu singkat, sedangkan dampak limbah yang dihasilkan dapat bertahan dalam jangka panjang. Tingginya penggunaan kemasan saset plastik membuat jumlah limbah yang dihasilkan terus bertambah dan menumpuk sehingga berpotensi menyebabkan masalah lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk mengurangi sampah kemasan saset plastik agar jumlah limbah tidak terus meningkat.

Berbagai metode untuk mengurangi sampah saset plastik seperti pembuatan ecobrick, produksi kerajinan daur ulang, dan penyebaran kesadaran mengenai sampah plastik saset memang sudah ada. Namun, upaya tersebut masih belum sebanding dengan limbah yang dihasilkan manusia. Tanpa ada larangan tegas, sebagian produsen dan masyarakat akan tetap menggunakan kemasan saset plastik.

Pemerintah perlu mulai membatasi penggunaan kemasan saset plastik sekali pakai dengan menerapkan larangan secara bertahap. Larangan terhadap kemasan saset plastik berukuran di bawah 50 mL atau 50 gram sebenarnya telah direncanakan agar pada tahun 2030 Indonesia sudah bebas dari sampah kemasan saset plastik. Namun, penerapan larangan ini perlu dilakukan dengan lebih cepat untuk mengurangi peningkatan jumlah limbah plastik. Larangan tersebut perlu disertai dengan penyediaan alternatif kemasan yang lebih ramah lingkungan agar masyarakat tetap dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa meningkatkan permasalahan sampah plastik. Produsen dapat menggunakan kemasan isi ulang atau kemasan berukuran lebih besar sehingga penggunaan plastik sekali pakai dapat dikurangi.

Limbah kemasan saset plastik bukanlah sampah kecil yang dapat disepelekan karena penumpukannya dapat menjadi ancaman yang serius bagi lingkungan. Maka dari itu, upaya mengurangi penggunaan kemasan saset tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Pemerintah dan produsen perlu bekerja sama untuk mengurangi penggunaan kemasan saset plastik. Masyarakat juga perlu memilih produk yang mempertimbangkan dampak lingkungan. Melalui kerja sama antara berbagai pihak, jumlah sampah kemasan saset dapat dikurangi sehingga lingkungan dapat lebih terjaga.

Oleh: Jocelyn Virlian Sutrisna