Konten dari Pengguna

Mengapa Pengalaman Tidak Selalu Membuat Kita Menjadi Ahli

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Joeana Khalisha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumen pribadi penulis
zoom-in-whitePerbesar
Dokumen pribadi penulis

Ada sebuah temuan dalam dunia kedokteran yang menarik untuk diperhatikan. Sebuah tinjauan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Annals of Internal Medicine pada 2005 mengumpulkan berbagai penelitian mengenai hubungan antara lama seorang dokter bekerja dan kualitas pelayanan yang diberikan. Pada awalnya, kita mungkin berpikir bahwa semakin lama seorang dokter berpraktik, semakin baik pula kemampuannya. Namun, hasil penelitian menunjukkan hal yang berbeda. Dalam sebagian besar penelitian yang ditinjau, dokter yang telah bekerja selama puluhan tahun justru menunjukkan kualitas yang lebih rendah dibandingkan dokter yang lebih muda pada beberapa aspek pelayanan.

Padahal, dokter yang telah lama bekerja tentu memiliki banyak pengalaman. Mereka telah menangani ribuan pasien dan belajar dari berbagai situasi selama bertahun-tahun. Jika pengalaman secara otomatis membuat seseorang semakin ahli, seharusnya dokter yang paling lama bekerja memiliki kemampuan terbaik.

Hal ini menunjukkan bahwa kita sering salah memahami konsep learning by doing atau belajar melalui praktik. Belajar melalui praktik bukan hanya tentang seberapa sering seseorang melakukan sesuatu. Praktik hanyalah salah satu bagian dari proses belajar. Bagian lainnya adalah berhenti sejenak untuk melihat kembali apa yang telah dilakukan dan menilai apakah cara tersebut sudah tepat. Bagian inilah yang sering kali terlewatkan.

John Dewey, tokoh yang banyak memengaruhi konsep belajar melalui pengalaman, menjelaskan bahwa pengalaman saja tidak cukup untuk menghasilkan pembelajaran. Kita perlu melakukan refleksi terhadap pengalaman tersebut. David Kolb kemudian mengembangkan gagasan ini dalam bentuk sebuah siklus belajar. Seseorang mengalami suatu kejadian, kemudian merenungkan pengalaman tersebut, menarik kesimpulan, dan menggunakan kesimpulan itu untuk mencoba cara yang lebih baik pada kesempatan berikutnya. Proses belajar menjadi lebih efektif ketika seluruh tahapan tersebut dilakukan.

Namun, dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang hanya berhenti pada tahap mengalami. Misalnya, seseorang melakukan presentasi di depan kelas dan merasa gugup. Setelah presentasi selesai, ia langsung beralih ke kegiatan lain tanpa memikirkan kembali apa yang terjadi. Ketika harus melakukan presentasi lagi, ia mungkin merasa gugup dengan cara yang sama dan melakukan kesalahan yang sama pula. Akibatnya, pengalaman yang semakin banyak tidak selalu membuat kemampuannya meningkat. Yang bertambah hanya jumlah pengalaman, bukan keterampilan.

Selain refleksi, hal lain yang penting dalam proses belajar adalah adanya umpan balik. Kita perlu mengetahui apakah tindakan yang kita lakukan sudah benar atau belum. Peneliti Robin Hogarth membedakan lingkungan belajar berdasarkan seberapa cepat seseorang dapat mengetahui hasil dari tindakannya.

Dalam beberapa bidang, hasil tindakan dapat diketahui dengan cepat. Misalnya, seorang peramal cuaca membuat prediksi hari ini dan dapat mengetahui hasilnya dalam waktu singkat. Karena mendapatkan umpan balik secara rutin, ia dapat terus memperbaiki cara membuat prediksi. Namun, ada bidang lain yang hasilnya baru dapat diketahui setelah waktu yang lama. Contohnya adalah seorang manajer yang memutuskan untuk mempromosikan seorang karyawan. Dampak dari keputusan tersebut mungkin baru terlihat setelah dua tahun dan hasilnya juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lain. Dalam kondisi seperti ini, pengalaman selama sepuluh tahun belum tentu membuat seseorang menjadi lebih ahli.

Jika bidang yang kita tekuni tidak memberikan umpan balik secara langsung, kita perlu menciptakan mekanisme umpan balik sendiri. Misalnya, meminta dosen atau atasan memberikan penilaian terhadap satu aspek tertentu dari pekerjaan kita. Kita juga dapat merekam presentasi kemudian menontonnya kembali untuk melihat bagian yang perlu diperbaiki. Cara lainnya adalah mencatat perkiraan atau tujuan kita di awal sebuah proyek, kemudian membandingkannya dengan hasil akhir untuk mengetahui bagian mana yang sesuai dan mana yang meleset.

Hal lain yang dapat membuat praktik menjadi kurang efektif adalah kecenderungan untuk terus melakukan hal-hal yang sudah kita kuasai. Anders Ericsson, yang banyak meneliti tentang bagaimana seseorang menjadi ahli, menunjukkan bahwa keahlian tidak hanya ditentukan oleh lamanya latihan, tetapi juga oleh jenis latihan yang dilakukan. Orang yang ingin berkembang biasanya sengaja melatih bagian yang masih menjadi kelemahannya, bukan hanya mengulangi hal yang sudah dikuasai.

Sebagai contoh, menulis lima artikel dengan pola yang sama belum tentu membuat kemampuan menulis kita berkembang secara signifikan. Sebaliknya, mencoba menulis satu artikel dengan struktur yang berbeda dan menantang kemampuan kita dapat memberikan pengalaman baru yang membantu meningkatkan keterampilan.

Jika kembali pada kasus para dokter, masalahnya bukan terletak pada banyaknya pengalaman yang mereka miliki. Masalahnya mungkin karena tidak adanya proses yang mendorong mereka untuk mengevaluasi apakah cara yang selama ini digunakan masih merupakan cara yang paling baik. Hal yang sama dapat terjadi pada siapa saja, termasuk mahasiswa yang sedang magang, seseorang yang baru mulai bekerja, atau siapa pun yang sedang mempelajari suatu keterampilan melalui praktik langsung.

Oleh karena itu, setelah menyelesaikan tugas atau pekerjaan, kita dapat meluangkan waktu sekitar sepuluh menit untuk melakukan refleksi. Cukup tanyakan tiga hal

: apa yang berjalan di luar dugaan, mengapa hal tersebut terjadi, dan apa satu hal yang akan saya ubah pada kesempatan berikutnya?

Kebiasaan sederhana ini dapat membuat pengalaman menjadi lebih bermakna. Dengan melakukan refleksi, memberikan perhatian pada umpan balik, dan terus mencoba memperbaiki kelemahan, kita tidak hanya mengumpulkan pengalaman, tetapi juga benar-benar berkembang melalui pengalaman tersebut. Dengan kata lain, yang penting bukan hanya memiliki sepuluh tahun pengalaman, tetapi memastikan bahwa kita tidak sekadar mengulang satu tahun pengalaman sebanyak sepuluh kali.