Maluku yang Merana di Tengah Anugerah Ilahi

Analisis Keuangan, Perpajakan dan Investasi
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Johan JLo Mollucas tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Maluku "Lumbung Ikan" pertama kali menarik perhatian ketika tim peneliti kelautan Prancis-Inggris bekerja sama dengan Unpatti (Alm. Bob Wenno, dkk.). Dalam rilisnya, (Kompas, 1990~) mengungkapkan temuan yang cukup mengejutkan bahwa:
"Banyak ditemukan spesies biota laut yang hanya dapat hidup, tumbuh, dan berkembang subur di perairan Maluku. Kawasan ini merupakan laut tersubur di dunia—surga bagi pertumbuhan dan perkembangbiakan kehidupan bawah laut."
Besar kemungkinan penelitian mengejutkan ini yang melatarbelakangi mengapa Maluku disebut "Lumbung Ikan", bukan sekadar karena wilayah lautnya yang luas.
Hal inilah yang mendasari Presiden SBY, jauh hari kemudian setelahnya, barulah menggaungkan secara resmi Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional.
Fakta Laut Maluku
Tuna, khususnya "Yellowfin", dalam migrasinya akan berhenti di Laut Banda. Dukungan sebagai laut terdalam di dunia dengan ribuan cekungannya dan yang terkurung menjadikannya tempat ideal untuk bertelur dan berkembangbiak sebelum melanjutkan perjalanan migrasinya ke utara.
Laut Maluku dengan 3 WPP (Wilayah Pengelolaan Perikanan) : 714, 715, 718, selain surga bagi yellowfin tuna juga surga bagi berbagai jenis ikan pelagis lainnya (kecil-besar) dan demersal yang bernilai ekonomi tinggi. "Blue Gold" yang tak akan pernah punah selama laut masih ber-isi air.
Inilah karunia semesta yang diberikan kepada rakyat Maluku, yang tak dimiliki provinsi lain, namun "sengaja dibiarkan tak terurus, (dinina bobokan).
Anomali Arah Pembangunan Maluku
Kebijakan Pemerintah Daerah Provinsi Maluku sejak kemerdekaan hingga kini yang tetap memfokuskan arah pembangunan wilayahnya "di dan ke darat" yang cuma sejengkal itu merupakan satu anomali yang menyebabkan laut yang begitu kaya (sengaja?) ditelantarkan untuk selanjutnya dengan bebas di huni oleh pihak lain.
Penyelenggara pemerintahan daerah dan para stakeholder yang terkesan masa bodoh dalam mengelola wilayahnya yang pada akhirnya terperangkap dalam lingkaran setan kekuasaan oligarki dan lebih parahnya lagi, "turut menikmatinya pula" menjadikan sebab akibat yang sama-sama kita ketahui hingga hari ini bahwa:
Maluku, wilayah dan warga masyarakatnya jauh tertinggal, miskin, serta tidak memiliki daya saing.
Data BPS 2024 menempatkan Maluku sebagai provinsi termiskin ke 6 dengan persentase tingkat kemiskinan yang cukup besar, 15,78%. Gap terbesarnya adalah lapangan kerja. Lemahnya daya saing sumberdaya manusianya memperparah keadaan ini.
Dua aspek penting yang saling bergantungan yang merupakan Kegagalan dari tanggungjawab mutlak para memimpin daerahnya yang pada akhirnya berandil membawa warga dan wilayahnya terjerembab ke dalam jurang kemiskinan di tengah dahsyatnya karunia Ilahi bagi negerinya.
Keberadaan status Ambon sebagai Kota Musik Dunia, salah satu pengungkit yang diharapkan mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakatnya pun *tumpul sejadi-jadinya.
Kekonyolan-kekonyolan inilah yang menjadikan Maluku sebagai salah satu penyumbang terbesar tingkat kemiskinan di Indonesia yang mencapai 8,57% pada tahun 2024 sebagai yang terparah sepanjang sejarah republik ini.
Kemiskinan dan keterbelakangan yang bertolak belakang dengan kekuatan laut sebagai karunia Ilahi yang dimilikinya harusnya mampu mengubah paradigma ini.
Pesan untuk Gen z Maluku
- Hasil tambang apapun di bumi bisa dan akan habis, tetapi "Ikan Maluku Abadi", Jika punah, itulah akhir kehidupan.
- Berbanggalah sebagai Gen-Z Maluku, BELAJAR dan BELAJARLAH. Jadilah chef di dapur sendiri & dari lumbungmu sendiri. (Johan Lesilolo, Analys Ek.& Keu, 07/2025).
