Bangkitkan Harapan dan Belajar Menerima Kegagalan di Tengah Tekanan Hidup

Siswa Jurusan Manajemen Perkantoran SMK Katolik St. Familia Tomohon
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Johanes Berliano Putra Lile tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bangkitkan harapan dengan memulai suatu usaha, kegagalan muncul saat kita merasa sudah banyak berusaha dengan mengorbankan waktu, tenaga bahkan perasaan. Bangkitkan harapan dan memulai usaha ketika hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, pertanyaan mulai muncul "kenapa gagal lagi?".
Di titik inilah sering kehilangan arah, harapan yang dulunya begitu besar kini mulai memudar tergantikan dengan rasa ragu dan takut untuk memulai kembali. Di saat inilah kita perlu belajar untuk bangkitkan harapan yang sempat hilang, harapan bukan sesuatu yang datang begitu saja tetapi merupakan suatu usaha yang harus dibangun kembali, sedikit demi sedikit dan dengan perlahan dari dalam diri.
Di tengah tantangan hidup, tekanan yang kita dapatkan dari tuntutan pekerjaan, maupun ekspektasi keluarga. Kegagalan terasa seperti beban yang bukan hanya soal hasil yang didapatkan tetapi juga rasa kecewa pada diri sendiri.
Dalam perjalanan hidup, tidak semua hal berjalan sesuai dengan rencana dan apa yang sudah kita harapkan. Rasanya kecewa, sedih, kadang membuat kita merasa tidak baik-baik saja, apa lagi di lingkungan pekerjaan di mana tekanan dari lingkungan, keluarga, dan dari diri sendiri, sering kali terasa begitu berat.
Dari kegagalan bisa menjadi titik awal untuk memperbaiki diri sendiri, memperhatikan kembali apa yang kurang, dan mencoba kembali dengan cara yang lebih baik. Dari itu kita akan menjadi pribadi yang lebih kuat dan lebih siap menghadapi tantangan berikutnya.
Banyak contoh dari orang yang sukses yang juga pernah merasakan kegagalan, bahkan ada yang gagal berkali-kali dan akhirnya berhasil. Dari hal ini membuktikan bahwa kegagalan bukanlah penghalang, melainkan bagian dari proses pembentukan keberhasilan.
Kegagalan Bukan Akhir, Tapi Langkah Awal Memulai Usaha
Dalam pandangan hidup kegagalan merupakan tanda yang membuat kita merasa tidak cukup baik, padahal kegagalan merupakan cermin yang menunjukkan apa yang belum berhasil dengan apa yang belum terwujudkan, bukan siapa diri kita sepenuhnya. Kita hidup di lingkungan yang sering menuntut kesempurnaan, harus sukses dalam jangka waktu cepat, harus selalu benar dalam setiap situasi, dan harus terlihat kuat.
Cermin tidak pernah berbohong. Ia menunjukkan apa adanya, tanpa memperindah atau mengurangi. Begitu sebaliknya dengan kegagalan yang sering kita alami yang memperlihatkan dengan jelas bagian mana dari diri kita atau proses yang kita jalani yang masih banyak yang harus diperbaiki. Kadang bukan kita yang tidak mampu tetapi cara kita yang belum tepat, strategi yang belum siap atau kesiapan mental yang belum kuat.
Ketika kita melihat kegagalan sebagai cermin, kita sedang belajar menerima kenyataan dalam menjalani hidup. Namun tidak semua orang sadar dengan cermin dengan tidak menyadari ada apa di balik cermin, padahal justru kejujuran itulah proses yang dimulai. Kegagalan bukan untuk mempermalukan tetapi untuk menyadarkan.
Dari segi kehidupan yang terpenting adalah bagaimana kita merespons kegagalan tersebut. Apakah kita memilih langsung saja menyerah atau justru bangkit kembali untuk mencoba lagi. Karena keputusan ada di tangan kita sendiri yang dapat menentukan arah selanjutnya yang akan kita tempuh.
Dapat disimpulkan jika kegagalan jadi pada diri kita sendiri, jangan langsung menganggap semuanya sudah selesai dengan berakhir begitu saja. Mungkin itu tanda bahwa diri kita sedang berproses sedang mempersiapkan untuk sesuatu yang lebih besar. Dengan yakin dan percaya bahwa setiap proses yang kita jalani tidak akan sia-sia.
