Istriku yang Pendiam

Guru Madrasah di Ngawi
Tulisan dari Johara Masruroh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dua cangkir kopi kubawa ke dalam kamar dan kuletakkan tepat di hadapan Linda yang sedang merenung. “Minumlah, Sayang,” pintaku sambil mengelus punggungnya yang semakin kurus. Ia tetap bergeming. Sudah seminggu lebih Linda tak mau bicara.
Kini, istriku itu selalu duduk merenung di pinggir jendela, menatap apa saja yang ada di luar, entah itu langit atau burung-burung yang beterbangan. Sesekali kulihat air mata mengalir di pipinya. Jika sudah begitu, aku selalu kebingungan membuatnya tenang.
Linda sedang terpengaruh omongan orang. Di luar sana, para tetangga membicarakan keburukanku. Satu per satu teman dekatku juga mulai menjauh. Mereka beralasan sibuk jika kuajak bercengkerama atau menghabiskan rokok bersama. Seorang kakek bahkan tanpa sungkan mengatakan aku ini lelaki bajingan.
Ah, persetan dengan gunjingan mereka semua. Saat ini aku hanya menginginkan Linda kembali seperti dulu, menjadi wanita yang patuh dan penyayang. Dia harus kembali menyiapkan segala yang kubutuhkan. Aku ini lelaki, tak bisa terus menerus menggantikannya mengerjakan pekerjaan rumah yang sudah seminggu lebih ia tinggalkan.
Tiba-tiba ponselku berdering. Buru-buru aku meraihnya. “Mas, tidak rindu?” Kubaca pesan WA dari Sintia. Sintia menjadi teman satu-satunya yang masih setia menghubungiku di saat semua menjauh. Tapi aku tak boleh memikirkan atau bicara dengannya saat ini karena istriku masih sangat bersedih.
Ponsel itu kembali berdering. “Mas, aku ke rumah ya. Kubawakan piza untukmu. Pasti belum makan, kan?” Lagi-lagi itu pesan dari Sintia. Tak kubalas karena aku masih malas menanggapinya. Seingatku, dulu sudah kukatakan agar ia tak datang ke rumah. Semoga saja perempuan itu hanya bercanda atau Linda akan berpikir yang bukan-bukan.
Aku dan Sintia pertama kali bertemu di kedai kopi. Perempuan itu entah datang dari mana, tiba-tiba duduk di hadapanku. Waktu itu kedai sedang ramai-ramainya dan hanya tersisa satu kursi kosong di depanku. Saat itulah kami berkenalan, mengobrol dan pada akhirnya bertukar nomor.
Pertemuan pertama itu melahirkan pertemuan-pertemuan berikutnya. Aku terpikat begitu cepat oleh kemolekannya. Sintia perempuan yang sangat suka bicara. Bibirnya yang mungil dengan lipstik merah muda terlihat begitu seksi, membuatku merasa gemas dan ingin menikmatinya. Aku sungguh beruntung, Sintia tak pernah keberatan saat aku menggodanya.
Meski begitu, bagiku Sintia hanyalah teman. Teman yang sesekali kuhubungi di saat aku membutuhkan. Dia bahkan tak menerima imbalan dari apa yang dia berikan. “Sesama teman, sudah seharusnya saling membuat senang.” Begitulah yang selalu ia katakan.
Kudengar pintu rumah diketuk. Aku membukanya dan mendapati Sintia berdiri menenteng piza. Dia langsung menubruk tubuhku dan tanpa malu menciumi pipiku. Kanan dan kiri, berulang kali seperti seorang kekasih yang baru bertemu setelah sekian lama terpisah.
“Lama sekali Mas buka pintunya,” katanya sambil tiduran di atas sofa.
Aku terbengong melihat tingkahnya. Bagaimana jika Linda tahu ada seorang perempuan bertubuh molek dengan pakaian super ketat seenaknya saja terlentang di sofa rumahnya? Dia pasti akan menangis lagi dan aku akan bingung mencari jawaban untuk semua pertanyaannya.
“Kenapa ke sini? Sudah kubilang dari dulu, jangan dekat-dekat dengan rumahku.” Sengaja kulirihkan suara agar Linda tak mendengar.
“Lho, kan aku sudah bilang di WA. Mas nggak baca pesanku?”
“Baca, tapi Linda sedang tak enak badan. Aku akan menemuimu lain waktu.”
“Mas ini gila ya?” Sintia menatapku sinis.
“Kamu bisa pulang sekarang, tidak enak dilihat istriku,” kataku lagi agar Sintia cepat pergi.
“Sadar, Mas. Mbak Linda sudah mati. Dia bunuh diri!” Sintia membentakku. Dia bangkit dari sofa dan pergi, sementara aku terhuyung lesu mencerna ucapan yang baru saja ia lontarkan.
…………………
“Mbak Linda sudah mati.” Berkali-kali kalimat itu kembali terdengar. Kepalaku terasa berputar. Samar-samar aku mengingat kembali bagaimana Linda bisa menjadi sangat pendiam.
Malam itu aku dan Linda bertengkar hebat. Seorang tetangga yang memergokiku bersama Sintia menceritakan semuanya. Linda terus menangis dan tak berhenti bertanya tentang satu hal. Linda yang penurut mulai berani berteriak.
Bodohnya, aku tetap tidur saat Linda begitu terpukul. Aku memang lelah sekali malam itu. Saat bangun suasana rumah begitu ramai. “Bangun bangsat, istrimu gantung diri!" teriak seorang tetangga. Saat keluar, kudapati beberapa tetangga menurunkan tubuh Linda dari pohon mangga.
Kupeluk tubuh Linda dan mengguncangnya berkali-kali, berharap ia bisa kembali. Aku menangis sejadi-jadinya di hadapan semua orang yang datang ke rumahku waktu itu. Mereka justru menatap sinis. Ada yang bilang tangisku hanya pura-pura, agar pantas saja untuk dilihat tetangga.
“Kau tidur bersama perempuan itu?” Terngiang pertanyaan terakhir Linda padaku.
“Tidak, tidak pernah.” Kuyakinkan dia dengan segala caraku malam itu. Namun, Linda terus mengulang pertanyaan yang sama. Dia terus mendesakku, berteriak, bahkan mencakar wajahku.
”Hanya sekali,” akhirnya jawaban itu terlepas begitu saja dari mulutku.
Demi Tuhan, sebenarnya aku tak pernah berniat menyakiti hati Linda. Seingatku aku hanya melakukan kesalahan itu sekali atau mungkin dua kali. Ah, entah berapa kali pastinya aku lupa. Berapa kali pun itu sungguh tak penting. Tak seharusnya Linda membalasku dengan diam yang begitu panjang.
J. Masruroh, ibu dua anak yang hobi menulis
