Konten dari Pengguna

Perjaka dan Perawan: Kenapa Standarnya Berbeda

John Kenedy

John Kenedy

Siswa SMA Citra Berkat

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari John Kenedy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, perawan dan perjaka sama-sama merujuk pada status belum pernah berhubungan seksual. Namun, dalam masyarakat Indonesia, nilai yang berlaku pada keduanya sangatlah berbeda. Perawan sering dianggap simbol kehormatan dan kesucian bagi seorang wanita. Terdapat sebuah tekanan sosial yang dimana seorang wanita harus menjaga keperawanannya sampai dirinya menikah. Sebaliknya, perjaka tidak mendapat tekanan sosial serupa. Bagi pria, status ini sering dianggap biasa saja dan tidak terlalu penting, bahkan ada pandangan bahwa pengalaman seksual justru bagian dari pendewasaan.

Ilustrasi dibuat oleh Gemini Ai

Perbedaan standar ini berakar kuat pada faktor budaya, tradisi, dan juga agama. Dalam banyak budaya di Indonesia, keperawanan seorang wanita sering kali disamakan dengan kehormatan keluarga. Pandangan ini menempatkan perempuan dalam peran yang harus dilindungi, dan kehilangan keperawanan sebelum menikah dianggap sebagai aib besar yang dapat mencoreng nama baik keluarga. Di sisi lain, laki-laki tidak mendapatkan tekanan sosial serupa. Sebaliknya, pengalaman seksual bagi pria terkadang dianggap sebagai bukti kedewasaan. Meskipun banyak ajaran agama melarang hubungan seksual di luar nikah untuk kedua belah pihak, namun pada kenyataanya stigma sosial dan hukuman bagi perempuan jauh lebih berat dibandingkan dengan pria sehingga menciptakan ketidaksetaraan gender yang jelas.

Ilustrasi dibuat oleh Gemini Ai

Di Indonesia budaya patriarki sangatlah kental, budaya ini membangun sebuah sistem sosial yang menempatkan pria sebagai pemegang kekuasaan tertinggi. Dalam sistem patriarki, perempuan dianggap memiliki derajat yang rendah dibanding pria. Hal tersebut membuat perbedaan standar antara pria dengan keperjakaannya dan perempuan dengan keperawanannya. Padahal kedua hal tersebut tidak ada bedanya, hanya saja sistem sosial ini membuatnya menjadi tidak setara.

Walaupun standar antara perjaka dan perawan di Indonesia tidaklah adil, namun saya mengerti mengapa tekanan sosial pada perempuan lebih besar. Jika pria dan wanita berhubungan seksual, sang wanita berkemungkinan untuk hamil. Maka, pihak yang paling dirugikan adalah wanita jika dalam kasus ini sang pria tidak ingin bertanggung jawab. Oleh sebab itu, anak perempuan sangat dijaga oleh keluarganya agar tidak ada kejadian hamil diluar nikah, karena selain menjadi aib bagi keluarga, kehidupan sang wanita dan anaknya juga akan terpengaruh. Sama halnya dengan pria, jika menghamili perempuan di luar pernikahan akan mendapat sanksi sosial.

Pria dan wanita tidak bisa disamakan. Namun bukan berarti salah satu dari mereka lebih rendah ataupun lebih tinggi. Ada hal yang bisa dilakukan dan ada juga hal yang tidak bisa dilakukan antara pria dan wanita. Bukan sebagai pembeda namun sebagai pelengkap satu sama lain. Maka penting untuk kita menjaga kesetaraan gender.