Konten dari Pengguna

Dari Mindfulness Menuju Compassion: Belajar Tidak Hanya Sadar, tetapi Juga Peduli

Johnson Khuo

Johnson Khuo

Co Founder - Ayurjnana Wellness and Spirit Center

·waktu baca 10 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Johnson Khuo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada September 2026, video Maudy Ayunda berjudul "Mindfulness in the Age of Bad News" ramai dibicarakan. Di dalamnya, ia membagikan cara menghadapi banjir berita buruk: membatasi konsumsi informasi agar pikiran tidak kewalahan. Sebagian orang melihatnya sebagai pengingat penting tentang kesehatan mental.

Sebagian lainnya mempertanyakan apakah mengambil jarak dari berita buruk sudah cukup, ketika banyak orang sedang menghadapi bencana, tekanan ekonomi, dan persoalan sosial secara langsung. Bagi mereka, kabar buruk bukan sekadar tontonan di layar yang bisa dimatikan. Kemampuan untuk menjauh dari berita pun dipandang sebagai privilese yang tidak dimiliki semua orang.

Tentu kita tidak mungkin terus-menerus menyerap seluruh penderitaan dunia. Mengambil jeda dari berita bisa sangat sehat. Namun, ada perbedaan antara jeda agar kita bisa kembali hadir dengan lebih utuh dan jarak yang diambil semata-mata agar penderitaan orang lain tidak mengusik ketenangan kita.

Jadi, pertanyaannya bukan apakah kita boleh menjaga ketenangan batin, melainkan apa yang kita lakukan dengan ketenangan itu. Apakah ketenangan itu membuat kita lebih mampu memahami penderitaan orang lain, atau justru membuat kita makin nyaman dengan keadaan yang seharusnya dipertanyakan?

Dari Bare Attention ke Mindfulness Modern

Mindfulness bukan penemuan dunia modern, tetapi bentuknya yang kita kenal hari ini lahir dari serangkaian adaptasi. Pada pertengahan abad ke-20, metode meditasi vipassanā yang dikembangkan Mahāsi Sayādaw di Myanmar melatih orang mengamati napas, sensasi, pikiran, dan emosi secara cermat tanpa langsung bereaksi. Pada 1954, Nyanaponika Thera memperkenalkan istilah bare attention: menyadari pengalaman apa adanya, tanpa komentar.

Tonggak terpentingnya datang pada 1979, ketika Jon Kabat-Zinn mendirikan program Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR) di University of Massachusetts untuk membantu pasien menghadapi stres dan nyeri kronis. Ia memopulerkan definisi mindfulness sebagai perhatian yang disengaja, pada saat ini, dan tanpa menghakimi (non-judgmental).

Definisi yang sederhana dan sekuler ini membuka pintu bagi mindfulness ke psikoterapi, sekolah, rumah sakit, hingga lingkungan korporat. Manfaatnya nyata: mindfulness membantu kita mengenali pola pikir otomatis, menghadapi emosi sulit, dan menciptakan ruang antara kejadian dan respons. Kini mindfulness menjadi salah satu pilar utama dunia wellness.

Namun, dalam perjalanan adaptasi tersebut, satu aspek menjadi amat dominan: "hadir pada saat ini tanpa menghakimi (non-judgmental awareness)". Masalahnya bukan karena aspek ini keliru, melainkan ketika satu aspek itu saja dianggap sebagai mewakili keseluruhan makna mindfulness.

Ilustrasi Meditasi. AI-Generated Image.

Tiga Sekawan Batin: Bagaimana Mindfulness Bekerja secara Utuh

Kata asli yang diterjemahkan menjadi "mindfulness" (sati dalam bahasa Pali, smṛti dalam bahasa Sanskerta) sebenarnya berarti mengingat atau tidak lupa. Maksudnya bukan terus memikirkan masa lalu, melainkan menjaga sesuatu yang penting tetap hadir dalam kesadaran, seperti lem yang merekatkan perhatian pada objeknya.

Agar "mengingat" itu bermanfaat, dalam kerangka tradisional ia tidak berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari tiga kemampuan yang saling bekerja sama:

  1. Smṛti (mengingat, perhatian, attention): menjangkarkan dan merekatkan perhatian pada objek yang dipilih, misalnya napas.

  2. Samprajanya (memeriksa, meta-awareness): sesekali mengecek keadaan batin, seperti radar atau alarm: "Apakah aku masih memperhatikan napas, atau perhatianku sudah hanyut ke hal lain?"

  3. Apramāda (peduli dan menimbang, caring attitude): menilai dengan bijaksana: "Jika perhatianku berpindah dari napas ke objek lain, apa risikonya? Apakah objek baru ini membawa dampak baik atau buruk?"

Sekarang bayangkan objeknya bukan sekadar napas, melainkan sebuah komitmen moral: "niat untuk tidak menyakiti orang lain".

  • Mengingat (smṛti): merekatkan komitmen "aku ingin bertindak tanpa menyakiti orang ini" dalam ingatan saat berinteraksi.

  • Memeriksa (samprajanya): memeriksa batin di tengah percakapan, "Apakah aku mulai tersulut emosi dan hendak mengucapkan kata-kata kasar?"

  • Peduli dan menimbang (apramāda): menilai risikonya, "Jika aku melepas komitmen ini dan meluapkan amarah, apa akibatnya bagi hubungan ini dan bagi orang tersebut?"

Cognitively-Based Compassion Training (CBCT), program yang dikembangkan Geshe Lobsang Tenzin Negi di Emory University, merangkum kemampuan yang ketiga ini dalam satu pertanyaan reflektif: What's at stake? Apa yang sebenarnya dipertaruhkan di sini?

Kemampuan ketiga ini sangat vital. "Memeriksa" memberi tahu kita bahwa perhatian mulai bergeser, sedangkan "peduli dan menimbanglah" yang memutuskan apakah kita sebaiknya bertahan pada objek semula atau membiarkannya bergeser. Inilah penjaga yang memastikan kita tetap setia (stay true) pada motivasi awal kita.

Niat adalah Kunci Utama: Membedakan Empati dan Welas Asih

Thupten Jinpa, PhD, penerjemah utama Yang Mulia Dalai Lama sekaligus pengembang Compassion Cultivation Training (CCT) di Stanford University, menekankan bahwa dalam bentuk sekulernya, mindfulness relatif netral secara nilai (value-neutral). Untuk membuatnya bermakna dalam konteks etika berkehidupan, dibutuhkan welas asih (compassion) karena welas asih secara eksplisit menyangkut bagaimana kita memperlakukan orang lain. Hal ini menjadi fokus utama dalam karyanya yang berjudul The Question of Mindfulness' Connection with Ethics and Compassion (Current Opinion in Psychology, 2019).

Jinpa menjelaskan bahwa latihan welas asih mengajarkan kita untuk secara sadar membentuk niat (intention) atau motivasi. Melalui proses ini, welas asih dibawa secara lebih utuh ke dalam niat sehari-hari.

Karena itu, ketika publik mendiskusikan pernyataan Maudy Ayunda tentang mindfulness, pertanyaan krusial yang perlu kita ajukan adalah: apa niat kita ketika melatih mindfulness? Apa yang ingin kita lakukan dengan ketenangan itu?

Tanpa niat atau motivasi yang jelas, yang ada hanyalah kepekaan.

Niat dan motivasi inilah yang menjadi pembeda mendasar antara empati dan welas asih:

  • Pentingnya keterlibatan emosional (rasa). Kita membutuhkan empati untuk dapat merasakan penderitaan orang lain. Tanpa emosi, pemahaman kita hanya bersifat kognitif. Dalam tradisi Nusantara, hal ini membutuhkan sentuhan “roso” yang kental dalam budaya Jawa. Pemahaman kognitif tanpa empati yang jujur justru rentan berujung pada tindakan manipulatif.

  • Bahaya empathy fatigue. Berhenti pada empati saja bisa berbahaya. Saat menyerap penderitaan orang lain tanpa niat yang terarah untuk bertindak, kita tertarik masuk ke dalam kubangan penderitaan dan lupa mencari jalan keluar. Inilah yang memicu empathy fatigue (kelelahan empati). Jinpa berulang kali mengklarifikasi poin ini: yang selama ini disebut compassion fatigue sebenarnya adalah empathy fatigue. Empati menyerap penderitaan, sedangkan welas asih mengolahnya menjadi dorongan untuk meringankan penderitaan tersebut.

  • Niat sebagai kekuatan transformatif. Niat untuk memperbaiki keadaan adalah komponen kunci yang mengubah empati menjadi welas asih. Dengan niat aktif ini, kita keluar dari lingkaran self-pity (rasa kasihan pada diri sendiri) atau viktimisasi diri. Welas asih tidak menguras energi, melainkan memberikan daya batin yang konstruktif.

Dua orang bisa sama-sama mematikan notifikasi berita dengan motivasi yang berbeda. Yang satu agar tidak perlu lagi memikirkan penderitaan orang lain. Yang lain agar punya cukup tenaga untuk menolong esok hari. Tindakannya sama, tetapi arahnya bertolak belakang.

Menariknya, CCT yang dikembangkan Jinpa justru sengaja melatih peserta untuk tidak berpaling. Peserta diajak melihat gambaran penderitaan dan merenungkannya. Tujuannya adalah mengubah kebiasaan reaktif menghindari penderitaan, sekaligus membangun kekuatan batin untuk menghadapinya secara konstruktif (Brito-Pons dkk., 2018). Hasilnya bukan kewalahan: dalam studi tersebut, distres empatik peserta justru menurun. Dalam konteks perdebatan kabar buruk, latihan welas asih memperlakukan "dorongan untuk berpaling" sebagai kebiasaan yang perlu disadari dan diolah, bukan sebagai tujuan akhir.

Perhatian (attention) tanpa niat (intention) yang jelas mudah berhenti pada ketenangan pribadi. Namun, ketika perhatian dipadukan dengan niat yang berorientasi pada welas asih, ketenangan batin tidak lagi berhenti di dalam diri. Ia meluap keluar sebagai kepedulian nyata terhadap penderitaan sesama.

Lanskap Modern: dari Intrapersonal ke Interpersonal

Jika mindfulness memasuki dunia kesehatan pada 1979, welas asih sebagai bidang ilmiah dan terapi menyusul sekitar dua dekade kemudian. Beberapa pionir mengawali gelombang latihan welas asih secara sistematis:

  • Compassion Focused Therapy (CFT): dikembangkan Paul Gilbert sejak akhir 1990-an hingga 2000-an.

  • Self-Compassion dan Mindful Self-Compassion (MSC): Kristin Neff memperkenalkan konsep self-compassion secara ilmiah pada 2003 beserta Self-Compassion Scale, lalu merancang program MSC bersama Christopher Germer sekitar 2010.

  • Cognitively-Based Compassion Training (CBCT): dikembangkan Geshe Lobsang Tenzin Negi di Emory University sekitar 2004–2005.

  • Compassion Cultivation Training (CCT): James Doty mendirikan Center for Compassion and Altruism Research and Education (CCARE) di Stanford University pada 2008, tempat Thupten Jinpa mengembangkan CCT. Dalai Lama juga berperan besar melalui dialog berkelanjutan dengan ilmuwan seperti Richard Davidson.

Program-program ini membawa latihan batin dari ranah intrapersonal (hubungan kita dengan pikiran sendiri) ke ranah interpersonal (hubungan kita dengan sesama). Arah ini sejalan dengan temuan ilmiah bahwa manusia tumbuh lewat relasi.

Gagasan ini sebenarnya sangat tua. Jauh sebelum psikologi modern, filsuf Yunani Aristoteles berpendapat bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial. Kini ilmu pengetahuan memberi angka pada gagasan itu.

Meta-analisis Julianne Holt-Lunstad dan rekan (2010) terhadap 148 studi dengan lebih dari 300 ribu peserta menemukan bahwa orang dengan hubungan sosial yang lebih kuat memiliki peluang bertahan hidup 50% lebih besar (PLoS Medicine). Harvard Study of Adult Development, studi kehidupan dewasa terpanjang di dunia yang berjalan sejak 1938, sampai pada kesimpulan serupa. Direkturnya, Robert Waldinger, merangkumnya: "Good relationships keep us happier and healthier" (World Economic Forum).

Sisi sebaliknya sama jelasnya. Meta-analisis lanjutan Holt-Lunstad dan rekan (2015) menemukan bahwa isolasi sosial, kesepian, dan hidup sendirian masing-masing berkaitan dengan peningkatan risiko kematian dini sekitar 29%, 26%, dan 32%. Menariknya, kesepian yang dirasakan sama berbahayanya dengan isolasi yang nyata, dan pengaruh keduanya setara dengan faktor risiko kesehatan yang sudah lama dikenal (Perspectives on Psychological Science).

Hidup seperti petapa yang menarik diri dan tidak memedulikan lingkungan sekitar mungkin membawa kita pada tingkat ketenangan tertentu. Namun, welas asih dan koneksi dengan sesama membawa kita jauh lebih dalam dan lebih bermakna.

Ilustrasi Aksi Welas Asih (Compassion). AI-Generated Image.

Mindfulness dan Welas Asih: Saling Melengkapi

Studi yang membandingkan intervensi berbasis mindfulness (MBI) dan intervensi berbasis welas asih (CBI) menunjukkan bahwa keduanya sama-sama bermanfaat, tetapi bekerja lewat jalur yang berbeda:

  • MBI (mindfulness) kuat dalam melatih kemampuan mengamati, tidak bereaksi, dan hadir pada saat ini (ReSource Project).

  • CBI (compassion) lebih kuat menumbuhkan kepedulian empatik dan rasa satu kemanusiaan (Brito-Pons dkk., 2018).

Studi Brito-Pons dan rekan di Chile memperlihatkan perbedaan ini dengan jelas. Dibanding MBSR, CCT secara signifikan meningkatkan kepedulian empatik dan rasa satu kemanusiaan. Peserta CCT juga mengalami peningkatan welas asih terhadap orang lain dibanding kondisi awal mereka.

Namun, para peneliti menegaskan bahwa kedua pendekatan ini saling melengkapi, bukan bersaing. Mereka menyarankan urutan latihan terpadu: mindfulness, lalu self-compassion, lalu compassion untuk orang lain.

Menolak McMindfulness: Menghidupkan Tepa Selira dan Memayu Hayuning Bawana

Kekhawatiran tentang penyempitan makna mindfulness sudah lama disuarakan. Pada 2011, dalam jurnal Contemporary Buddhism, Georges Dreyfus mempertanyakan apakah mindfulness memang semata berpusat pada "saat ini dan tanpa menilai" saja. Bhikkhu Bodhi mengingatkan bahwa makna aslinya adalah "mengingat", sebuah kemampuan yang sebaiknya selalu berada dalam kerangka niat baik dan etika. Pandangan ini bertemu dengan argumen Jinpa di atas: karena mindfulness modern pada dasarnya netral, etika dan welas asih perlu dihadirkan secara sengaja melalui niat.

Kritik yang lebih tajam datang dari Ron Purser, yang memopulerkan istilah McMindfulness. Ia menyoroti bagaimana mindfulness dipotong dari akar etisnya dan dijual sebagai alat untuk menenangkan individu agar tetap produktif dalam sistem yang menekan, tanpa pernah mempertanyakan akar penderitaan itu sendiri.

Jika mindfulness hanya digunakan untuk menumpulkan kepekaan sosial agar batin sendiri tidak terganggu, ia telah kehilangan roh kebaikannya. Ketenangan batin tidak boleh menjadi benteng isolasi. Ketenangan adalah fondasi; welas asih adalah bangunannya.

Dalam kearifan lokal Nusantara, hal ini sejalan dengan prinsip Tepa Selira: kemampuan merasakan apa yang dirasakan orang lain dan mengukur tindakan kita berdasarkan perasaan tersebut. Pada tingkat yang lebih luas, ketenangan dan kebijaksanaan itu diarahkan untuk Memayu Hayuning Bawana: memperindah, merawat, dan menjaga keselamatan dunia beserta isinya.

Mengambil jeda dari berita buruk saat kita kewalahan bukanlah kesalahan. Namun, kejernihan yang kita dapatkan dari jeda itu hendaknya tidak dipakai untuk bersembunyi, melainkan untuk melangkah kembali ke dunia dengan hati yang lebih tangguh, empati yang lebih jernih, dan niat yang mantap untuk meringankan penderitaan sesama.

==

Ditulis dalam rangka Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF), pada 6-7 November 2026, khususnya untuk talkshow bertajuk "Compassion: Deepening the Practice of Mindfulness" yang dibawakan oleh Johnson Khuo.