Konten dari Pengguna

Resiliensi Mental Melalui Mindfulness dan Compassion

Johnson Khuo

Johnson Khuo

Co Founder - Ayurjnana Wellness and Spirit Center

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Johnson Khuo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi peduli kesehatan mental. Foto: SewCream/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi peduli kesehatan mental. Foto: SewCream/Shutterstock

Dua orang psikolog di Universitas Harvard, Matthew A. Killingsworth dan Daniel T. Gilbert, melakukan sebuah penelitian yang melibatkan ribuan partisipan dari 80 negara di dunia.

Mereka mengembangkan sebuah aplikasi di iPhone yang akan bertanya secara berkala kepada para penggunanya, seperti:

  1. Apa yang sedang Anda lakukan

  2. Seberapa bahagia Anda sekarang?

  3. Apakah Anda sedang memikirkan aktivitas Anda saat ini atau Anda sedang memikirkan hal lain?

Kesimpulannya cukup mengejutkan: "Pikiran kita pada dasarnya memang suka mengembara dan pikiran yang mengembara inilah yang menjadi sumber ketidakbahagiaan".

Implikasi dari kesimpulan ini juga fatal, karena ini berarti bahwa manusia dengan kemampuan berpikir seperti ini, pada dasarnya memang akan selalu tidak bahagia.

Ilustrasi bermain sosial media. Foto: photobyphotoboy/Shutterstock

Apalagi di era dunia digital dewasa ini, pikiran manusia bahkan semakin mudah terdistraksi dengan hadirnya media sosial. Foto indah dari artis dan model yang cantik dan ganteng menjadi sumber ketidakpuasan diri, cerita liburan orang kaya menjadi mimpi yang dikejar-kejar, ketidakberhasilan menonton konser populer menjadi sebab kekecewaaan, dan sebagainya.

Jadi tidak heran jika generasi Z yang menjadi tumpuan masa depan pun malah terjerumus ke dalam benang kusut masalah kesehatan mental.

Oleh karena itu, sudah menjadi kebutuhan yang sangat mendesak agar generasi muda ini bisa sesegera mungkin memperkuat keahlian-keahlian dasar mereka untuk mengelola pikiran dan emosi secara baik.

Ada dua keahlian dasar yang mutlak diperlukan dalam hal ini, yakni: self-mindful dan self-talk.

Self-Mindful

Ilustrasi berpikir. Foto: Cast Of Thousands/Shutterstock

Self-mindful adalah sebuah kemampuan untuk mengamati dan menyadari aktivitas pikiran sendiri sehingga kita memiliki kesempatan untuk melakukan upaya-upaya untuk mengintervensinya. Dengan kemampuan ini, kita bisa berhenti menjadi korban tak berdaya dari pikiran kita sendiri.

Kemampuan ini terbagi tiga, yakni:

  1. Menenangkan pikiran kita (quieting the mind)

  2. Memberikan instruksi kepada pikiran kita terkait apa yang sebaiknya dipikirkan, yakni mampu memindahkan fokus pikiran kita (focusing the mind) dari hal yang tidak bermanfaat ke objek yang lebih bermanfaat

  3. Observasi pasif terhadap pikiran kita (awareness of the mind) agar kita tidak terjebak dalam kebiasaan subconscious yang otomatis.

Self-Talk

Ilustrasi berbicara dengan suara nyaring Foto: Shutter Stock

Self-talk adalah kemampuan mengajak diri sendiri untuk berkomunikasi dan berkontemplasi.

Namun, ada dua jenis self-talk, yakni yang sifatnya destruktif karena berasal dari over-thinking dan yang kedua adalah yang bersifat konstruktif.

Self-talk destruktif yang dipicu oleh over-thinking dapat digambarkan melalui analogi berikut: sesuatu hal yang kecil terjadi seperti munculnya sebuah kepompong, kemudian karena kita over-thinking, kepompong menjadi ulat, lalu ketika semakin dipikirkan dia berubah menjadi ular, dan jika dilanjutkan lagi maka dia menjadi naga yang akan menelan kita. Ketika ini terjadi maka hal-hal berbahaya pun termanifestasi seperti: tantrum, niat bunuh diri, niat mencelakai dan sebagainya.

Bayangkan, seseorang bisa saja memunculkan niat destruktif, hanya karena temannya lupa membalas pesannya, yang kemudian diinterpretasikan secara berlebihan menggunakan berbagai asumsi tak berdasar seperti "mungkin dia benci saya" lalu "saya tidak punya teman lagi" yang kemudian menjadi "saya kesepian" dan "tidak ada yang menginginkan saya lagi." Ini adalah jenis self-talk yang tidak kita inginkan.

Generasi muda perlu dibekali dengan kemampuan self-talk yang konstruktif dan berbasis pada teknik-teknik kontemplatif yang positif, yakni:

  1. Menerima diri sendiri (self-acceptance)

  2. Memaafkan diri sendiri (self-forgiveness)

  3. Menyayangi diri sendiri (self-kindness)

  4. Melihat bahwa diri sendiri dan semua orang memiliki kesamaan tertentu (common humanity), yakni pasti harus menghadapi masalah dan ingin bebas dari masalah tersebut

  5. Melihat bahwa bagaimanapun juga, hidup ini tidak konstan dan bisa berubah sedangkan di sisi kita sendiri pun kita memiliki potensi untuk mengubah menjadi lebih baik.

Intangible Cultural Heritage Milik Bangsa Kita

Ilustrasi Bendera Indonesia. Foto: Shutterstock

Teknik-teknik membangun resiliensi mental yang dikembangkan melalui metode kontemplatif hidup berkesadaran (mindfulness) dan hidup berwelas asih (compassion) seperti ini mulai mendapatkan perhatian di dunia Barat sejak tahun 1970-an dan selama 15 tahun terakhir semakin berkembang dan semakin banyak pula penelitian yang dilakukan dalam bidang ini.

Meskipun demikian, leluhur bangsa Indonesia sebenarnya tidaklah asing dengan ilmu ini karena pada dasarnya teknik ini justru berakar dari ilmu-ilmu olah batin yang populer di zaman Sriwijaya dan sempat menyebabkan banyak sekali filsuf dan musafir dunia berdatangan ke Sriwijaya di abad-abad 10 dan 11 demi mempelajari ilmu ini.

Kita sebagai bangsa Indonesia perlu menggali kembali intangible cultural heritage ini untuk menyelamatkan generasi muda tumpuan harapan masa depan bangsa kita.