Konten dari Pengguna

Sikap Mental yang Mau Murah Sendiri

JOHNSON WIJAYA

JOHNSON WIJAYA

Sedang belajar menulis

·waktu baca 6 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari JOHNSON WIJAYA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Antrian Panjang Pemburu Premium (Bensin), Foto Pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Antrian Panjang Pemburu Premium (Bensin), Foto Pribadi.

Saya baru saja menyelesaikan membaca Novel karangan Tere Liye yang berjudul Selamat Tinggal. Membaca judulnya, semula saya mengira bahwa Novel

tersebut akan berisi tentang cerita tragis dua muda mudi yang saling jatuh cinta namun akhirnya harus berpisah. Ha ha ha ha. Di sini saya salah besar. Don’t judge a book by its tittle.

Diluar dugaan, novel ternyata berisi sebuah pesan moral yang kuat terkait masalah kronis negeri ini yang tidak jelas dimulai dari era mana, tapi yang pasti, sampai dengan saat ini, sampai dengan detik ini masih eksis, bahkan masyarakat awam hingga aparat penegak hukum sudah mahfum akan masalah ini. “Pembajakan”.

Melalui tulisannya, Tere Liye mencoba untuk menohok para pelaku pembajakan sekaligus para penikmat barang bajakan.

Tak perlulah kita menilik lagi ke kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) hanya untuk sekadar mencari arti kata “Pembajakan”. Karena saya yakin anda juga mahfum pembajakan itu apa.

Meski di dalam novel selamat tinggal, Tere Liye lebih dominan menyinggung terkait buku-buku bajakan, namun kita dapat melihat benang merah dari novel tersebut adalah masalah Pembajakan itu sendiri yang tumbuh subur di Indonesia. Ditambah lagi dengan kehadiran marketplace (e-commerce) sekarang ini, semakin memupuk subur kemunculan toko-toko yang menjual berbagai produk hasil bajakan.

Barang-barang KW, Non Ori atau disebut juga Repro. Merketplace tentu saja tidak dapat memeriksa satu persatu barang yang dijajakan toko-toko online itu. Ratusan, bahkan ribuan jumlahnya. Yang mereka tau hanya cuan dan cuan.

Saya sedikit memahami, mengapa kebanyakan masyarakat kita lebih gemar menggunakan produk bajakan dibandingkan produk yang asli. Murah. Ya, harga yang jauh sangat murah dibanding produk aslinya. Dulu saya juga pengguna produk bajakan, dalam hal ini adalah software bajakan. Saya akui, itu saya lakukan karena harga software yang pada saat itu mahalnya minta ampun. Untuk satu software saja katakanlah itu Microsoft Office atau pun Operating system Windows XP harganya bisa mencapai 2 juta rupiah. Sementara produk bajakannya cuma seharga 50 ribu rupiah.

Dan itu jamak dilakukan, bahkan oleh perusahaan-perusahaan besar yang memperkerjakan banyak karyawan sekalipun. Namun kondisi sekarang sudah jauh lebih baik. Penggunaan software bajakan sudah jauh berkurang seiring turunnya harga-harga software asli di pasaran. Masyarakat pun mulai sadar dan berangsur-angsur beralih kepada software original. Asli gitu loh!

Namun kebanggaan menggunakan software asli tidak berbanding lurus dengan kebanggaan masyarakat kita untuk menggunakan produk-produk asli lainnya. Ya tentu saja lagi-lagi harga yang menjadi alasan mereka untuk mantap menggunakan produk KW.

Pembajakan bukan hal baru di Indonesia. Sudah sejak lama kita mendengar upaya pemerintah dalam memberantas produk-produk bajakan yang berhasil disita dalam setiap aksi sweeping toko-toko yang kedapatan menjual barang bajakan. Mulai dari cd, vcd, dvd, mp3 bajakan, tas-tas branded ternama namun aspal, sampai parfum-parfum kw.

Pemberantasan dilakukan untuk memberikan efek jera bagi si pedagang. Tapi kenyataannya anda tau sendiri kan. Antara pedagang dan aparat seperti sedang bermain kucing-kucingan. Hasilnya tidak terlalu menggembirakan.

Dalam setiap tindakan razia produk bajakan, selalu saja produknya yang dimusnahkan. Mengapa tidak pedagangnya sekalian yang dijebloskan ke dalam penjara? Bukankah pembajakan sama dengan pencurian? Mengambil hak yang bukan milik nya?

Maaf saya jadi sedikit emosional demi membayangkan nasib “Ratu”, salah satu tokoh dalam novel selamat tinggal. Ratu bocah kecil yang hidup dalam kemiskinan, padahal ia adalah cucu seorang penulis besar yang menghasilkan banyak karya. Dari karya-karya itu seharusnya Keluarga Ratu dapat hidup serba kecukupan dari royalti atas buku-buku yang telah diterbitkan. Tapi sayang buku yang laris terjual itu ternyata adalah buku-buku bajakan yang harganya jauh dari murah, dan dengan kualitas alakadarnya, bukan buku asli dari penerbitnya.

Masih maraknya produk bajakan yang beredar di pasaran di Indonesia merupakan penanda bahwa adanya mentalitas yang penting murah, dalam masyarakat kita. Segala sesuatu kalau bisa didapatkan dengan harga murah, kenapa tidak. Sebuah sikap mental, yang apabila dilakukan oleh orang-orang yang berpenghasilan rendah, atau masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan, mungkin dapat kita maklumi. Karena dengan cara itu pula mereka dapat menyambung hidup. Mereka tidak butuh barang-barang bermerek dan mahal. Yang mereka pikirkan adalah bagai mana dapat bertahan dan bagaimana untuk makan besok.

Tetapi akan menjadi sebuah ironi, jika sikap mental yang penting murah ini menjangkiti golongan masyarakat ekonomi menengah ke atas, para borjuis, orang-orang kaya. Bukan rahasia umum jika para orang kaya ini di Indonesia sangat senang barang-barang yang disubsidi oleh pemerintah.

Seperti yang baru-baru ini viral di media sosial. Unggahan sebuah video singkat yang merekam aksi deretan mobil mewah tengah mengantre untuk mengisi bbm jenis bensin. Sementara disisi lain terlihat pula sebuah mobil jenis pick-up yang berisi penuh aneka sayur dan kebutuhan rumah tangga lainnya sebagai barang dagangan, kedapatan tengah mengisi bbm jenis pertamax yang notabene adalah jenis bbm yang harganya jauh di atas harga bensin.

Kolom komentar pengunggah video pun dibanjiri komentar dari para netizen yang budiman. Sebagian besar komentar menjuluki Si Pemilik mobil pick-up adalah orang kaya sesungguhnya, di mana ia lebih memilih untuk mengisi pertamax yang non subsidi itu, ketimbang bensin yang bersubsidi, yang barang tentu lebih diperuntukkan untuk masyarakat ekonomi kecil.

Setali tiga uang dengan BBM bersubsidi yang lebih banyak dinikmati oleh orang-orang yang mampu, gas elpiji 3 kilogram yang biasa kita sebut gas melon ini juga sama saja. Banyak orang-orang kaya, orang-orang yang memiliki kemampuan ekonomi yang lebih, mendadak kere demi mendapatkan pasokan elpiji. Rela mengantre berjam-jam. Rela mengurus surat keterangan tidak mampu, dan rela-rela lainnya. Karena apa? Ya karena gas elpiji 3 kilo jauh lebih murah dibandingkan gas 5 kilo atau 12 kilo yang non subsidi.

Belum lagi nasib BPJS Kesehatan yang disinyalir lebih banyak dinikmati oleh Si Kaya daripada Si Miskin. Si Miskin yang menunggak iuran harus rela tidak mendapatkan perawatan sampai tunggakan dilunasi terlebih dahulu. Sementara Si Kaya, lenggang kangkung saja menikmati fasilitas BPJS Kesehatan karena tidak pernah menunggak barang sebulan pun dalam membayar iuran. Lagi-lagi Si Kaya lebih memilih BPJS Kesehatan dibanding Asuransi Kesehatan lainnya karena murah rah rah. Padahal BPJS Kesehatan itu disubsidi oleh pemerintah untuk Si Miskin, eh kenapa malah Si Kaya yang menikmatinya?

Anda bisa bayangkan kan, jika saja para orang kaya di Indonesia ini menempatkan diri sesuai pada tempatnya, sesuai pada porsi dan kemampuannya, maka bukan tidak mungkin rakyat kecil yang telanjur kita labeli Si Miskin tadi, dapat menikmati apa yang seharusnya meraka dapat nikmati, bahkan mungkin dapat lebih.

Anda juga dapat membayangkan kan, jika Si Kaya hanya mengambil apa yang seharusnya dapat mereka ambil, maka bukan tidak mungkin kebocoran-kebocoran alokasi dana subsidi tadi, dapat dialokasikan ke pos-pos lainnya yang memang membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah. Bukan tidak mungkin sila ke 5 Pancasila dapat terwujud.

Andai saja masyarakat kita tidak memiliki mental yang maunya murah sendiri, mungkin saja kehidupan kita sudah setara dengan Negara maju seperti Singapura. Anda percaya? Kalau saya sih optimis.