Konten dari Pengguna

Di Balik Seragam Ada Manusia: Catatan tentang Mengabdi Tanpa Kehilangan Empati

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari JOKO KHRISTIANTO tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kisah Pengabdian–Perjuangan ASN + KORPRI dan Persatuan Bangsa
zoom-in-whitePerbesar
Kisah Pengabdian–Perjuangan ASN + KORPRI dan Persatuan Bangsa

Ada satu bagian dari pekerjaan seorang ASN yang hampir tidak pernah masuk ke dalam laporan kegiatan:

percakapan.

Percakapan dengan masyarakat yang kecewa. Dengan pedagang yang mempertahankan lapaknya. Dengan orang tua ketika anaknya ditemukan bolos sekolah. Dengan warga yang menyampaikan keluhan karena lingkungannya terganggu.

Percakapan-percakapan itu tidak menghasilkan angka yang mudah dimasukkan ke tabel. Tidak ada grafiknya. Tidak ada persentasenya. Namun justru dari percakapan itulah saya banyak belajar mengenai arti pengabdian.

Bekerja di Satpol PP membuat saya memahami bahwa seragam membawa dua hal sekaligus: kewenangan dan tanggung jawab.

Masyarakat sering melihat Satpol PP ketika penertiban berlangsung. Kamera biasanya merekam saat petugas dan masyarakat berhadapan. Yang tidak selalu terlihat adalah proses sebelum itu: pendataan, sosialisasi, pemberitahuan, surat peringatan, dialog, koordinasi, hingga kesempatan kepada masyarakat untuk melakukan pembongkaran secara mandiri.

Dalam sebuah penataan kawasan, angka dalam laporan mungkin hanya menuliskan jumlah lapak yang terdampak.

Namun ketika berdiri langsung di lapangan, saya menyadari bahwa setiap angka memiliki wajah dan cerita.

Ada pedagang yang bertanya kapan harus pindah. Ada yang khawatir kehilangan penghasilan. Ada yang awalnya keberatan. Ada pula yang sebenarnya memahami tujuan pemerintah, tetapi membutuhkan waktu untuk menerima perubahan.

Dalam situasi seperti itulah saya sering mengingatkan diri sendiri bahwa tugas kami bukan memenangkan pertengkaran.

Tugas kami adalah memastikan kepentingan umum berjalan tanpa kehilangan rasa kemanusiaan.

Menjadi humanis bukan berarti takut menegakkan aturan. Sebaliknya, menurut saya ketegasan yang paling berwibawa justru muncul ketika petugas mampu tegas tanpa merendahkan orang lain.

Kami dapat memberikan surat peringatan sambil menjelaskan alasannya. Kami dapat melakukan penertiban sambil memberikan kesempatan pembongkaran mandiri. Kami dapat berbeda pendapat dengan masyarakat tanpa menjadikan mereka sebagai musuh.

Pengabdian ASN juga tidak selalu hadir melalui peristiwa besar.

Kadang bentuknya sederhana: menerima pengaduan ketika sebagian orang sedang beristirahat, kembali memeriksa lokasi yang sebelumnya telah ditertibkan, membantu orang telantar memperoleh penanganan, menertibkan pelajar yang berada di luar sekolah untuk kemudian dibina, atau berdiri berjam-jam memastikan kegiatan masyarakat berlangsung aman.

Ada hari ketika pekerjaan selesai sesuai rencana.

Ada pula hari ketika lokasi yang kemarin telah tertata kembali semrawut.

Lalu kami datang lagi.

Mungkin inilah bagian paling sunyi dari pelayanan publik: kesediaan untuk kembali.

Dari pekerjaan itu pula saya memahami makna persatuan dan pengabdian ASN secara berbeda. Persatuan bangsa bukan hanya kalimat yang diucapkan dalam upacara. Ia tumbuh ketika aparatur memperlakukan setiap warga dengan ukuran yang sama, tanpa membedakan status sosial, latar belakang, kedekatan, ataupun pengaruh.

ASN berada pada posisi yang unik. Kami bekerja untuk pemerintahan, tetapi alasan keberadaan kami adalah masyarakat.

Karena itu, loyalitas kepada negara tidak seharusnya diterjemahkan sebagai sikap defensif terhadap kritik. Kritik masyarakat justru dapat menjadi pengingat agar negara hadir dengan cara yang lebih baik.

Seragam juga tidak seharusnya menciptakan jarak.

Semakin besar kewenangan yang melekat pada sebuah seragam, semakin besar pula tanggung jawab pemakainya untuk menahan ego.

Saya tidak tahu apakah pekerjaan-pekerjaan kecil itu akan selalu diingat masyarakat. Mungkin tidak. Namun pengabdian memang tidak seharusnya bergantung pada tepuk tangan.

Ada kepuasan ketika kawasan yang sebelumnya semrawut perlahan menjadi tertata. Ketika masyarakat yang awalnya keberatan akhirnya memahami tujuan penataan. Ketika seseorang yang membutuhkan pertolongan akhirnya sampai kepada pihak yang dapat menanganinya.

Pada akhirnya, menjadi ASN bukan sekadar cerita tentang mengenakan seragam setiap pagi.

Ia adalah pilihan yang harus diperbarui setiap hari: apakah kewenangan yang kita miliki akan membuat masyarakat merasa kecil, atau justru membuat mereka merasakan kehadiran negara?

Saya memilih yang kedua.

Karena di balik seragam ini tetap ada manusia.

Dan di hadapan kami juga selalu ada manusia.

Mungkin sesederhana itulah pengabdian seharusnya dimulai.