Di Balik Tas Penuh Merch: Kisah Nyata Seorang First-Timer Comifuro

Siswa kelas 12 di PENABUR Junior College Kelapa Gading
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Jolene Valencia Jonatan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sejujurnya, meskipun sudah bertahun-tahun jadi penggemar budaya pop Jepang seperti anime dan VTuber, aku sama sekali nggak pernah kepikiran untuk datang ke konvensi anime. Jadi, bilang kalau pengalaman pertamaku ke konvensi anime terbesar dan paling padat itu “sedikit kewalahan” rasanya meremehkan banget. Waktu temanku pertama kali ngajak, kami berlima langsung heboh bahagia (dan sedikit ngeri mikirin jumlah uang yang bakal hilang). Tapi karena ujian kelas 12 baru saja selesai, kami pikir ini saat yang pas buat lepas penat selama satu hari penuh. Satu hari di mana aku bisa nge-fangirl sepuasnya dan menjelajahi segunung produk dan ilustrasi lucu dari berbagai fandom: anime, VTuber, game; kedengarannya beneran kayak mimpi! Dan ya, harinya memang super berkesan.
Persiapan Lawan "Sold Out"
Walau belum pernah ada yang pergi sebelumnya, kami sudah dengar banyak cerita dari teman dan keluarga yang pernah datang, dan semuanya bilang bakal sangat ramai. Jadi, seminggu sebelum hari-H, salah satu temanku mencetak seluruh katalog vendor di selembar kertas A3, lalu kami menelusuri masing-masing fandom di website katalog Comifuro untuk mencatat barang incaran sebelum menandai booth yang ingin didatangi. Biru untuk booth yang wajib beli, hijau untuk booth yang cuma ingin dikunjungi, kuning untuk titipan teman yang nggak bisa datang, dan oranye untuk booth yang sudah kami preorder online.
Dan kalau itu terdengar sudah cukup gila, tunggu dulu. Kami juga mencetak peta lengkap semua booth di kertas A3 lain demi memastikan kami tahu posisi semua booth yang sudah ditandai. Bisa dibilang, kami benar-benar siap tempur sebelum barang-barang incaran sold out.
Pada Hari-H: Perjalanan ke ICE BSD
Kami berkumpul di rumah salah satu teman lalu berangkat ke ICE BSD jam 08.00 pagi. Sepanjang perjalanan mobil penuh obrolan dan tawa, plus aku yang stress karena buru-buru menyelesaikan makeup di dalam mobil karena nggak sempat di rumah.
Tapi begitu sampai di ICE BSD, kami langsung terdiam melihat betapa panjang banget antreannya, padahal baru jam 9; waktu event baru buka.
Antre Panas, Kena Tipu?
Selama mengantri di tengah lautan cosplayer, sudah jelas kami bakal menunggu lama. Teriknya matahari pagi juga bikin semuanya makin menyiksa. Aku sampai begitu putus asa kepanasan, akhirnya beli payung dari pedagang keliling. Harga awalnya 70 ribu, tapi setelah nego dapat 60 ribu. Waktu aku buka payungnya, aku sempat mikir ditipu. Kualitasnya kurang, ringkih, dan naungannya kecil. Tapi saat itu aku cuma bersyukur bisa sedikit adem dan panasnya jadi lebih tertahankan.
Akhirnya Masuk Gedung, Langsung Borong Merch!
Setelah akhirnya masuk area konvensi, kami memutuskan untuk berpencar jadi kelompok kecil. Fandom kami berbeda dan booth incaran juga beda-beda, dan kalau berkelompok kecil jelas lebih mudah bergerak. Jadi aku dan satu temanku menghabiskan 4 jam berikutnya berpindah dari satu booth ke booth lain membeli merch.
Kami berdua sama-sama suka NIJISANJI, dan kami pikir ini kesempatan emas buat beli merch NIJISANJI yang biasanya susah banget ditemukan bahkan di toko online. Lihat begitu banyak merch streamer favorit kami benar-benar menjaga semangat selama 4 jam berjalan dan menembus keramaian.
Karena dengar sinyal di dalam hall bakal buruk karena jumlah orang yang membludak, aku bawa uang tunai 600 ribu, mikir itu pasti cukup. Tapi ujung-ujungnya aku habis 1,5 juta rupiah. Untung Wi-Fi di event ternyata lancar buat transaksi QRIS.
Capek Dah, Istirahat Dulu Sebentar
Jam 14.50, aku dan temanku memutuskan untuk cari tempat istirahat. Kami keluar Hall 9 dan tanpa sengaja ketemu sekelompok adik kelas. Kami akhirnya duduk di lantai bareng mereka sambil menunggu teman-teman lain menyusul.
Kami semua bawa satu tas penuh merch seperti gantungan kunci, coaster, kaus kaki, handuk kecil, stiker, dan banyak lagi. Kami mulai bongkar belanjaan dengan rasa puas. Saking capeknya jalan dan terlalu excited sama pembelian baru kami, kami sampai lupa belum makan siang.
Sekitar jam 15.30, tiga teman kami lainnya menyusul dan kami duduk ngobrol soal barang-barang yang kami beli. Tapi rasa lapar mulai menyerang, dan temanku menawarkan diri untuk beli makanan. Aku setuju.
Hujan Drama!
Dia ngotot mau pergi sendiri, tapi nggak lama kemudian hujan turun. Awalnya rintik-rintik, tapi cepat banget berubah jadi deras. Temanku langsung chat di grup WhatsApp minta dijemput. Aku dengan sigap mengambil payung overpriced tadi dan pergi menjemputnya bersama satu teman lain. Kami butuh setengah jam buat menemukan dia, dan saat kami temukan, anginnya kencang banget sampai dia basah kuyup. Kami butuh 10 menit tambahan untuk kembali ke Hall 9 dan bertemu teman-teman lainnya.
Yang Awalnya Penipuan, Berubah Jadi Anugerah
Saat kembali, kami bertiga basah semua, apalagi temanku yang sudah kehujanan 30 menit. Lalu aku teringat aku membeli handuk mini, dan temanku membeli kaus kaki lucu. Aku langsung memberikan handuk itu dan dia mulai mengeringkan rambut dan kulitnya sebelum mengganti kaus kaki dengan yang baru dibeli. Siapa sangka payung overpriced, kaus kaki NIJISANJI, dan handuk mini NIJISANJI bisa “menyelamatkan nyawa” temanku dari masuk angin.
Walaupun makanan kami sedikit basah karena hujan, tapi lumayan terlindungi plastiknya, rasanya tetap enak dan bahkan terasa lebih nikmat karena kami lapar dan lelah.
Sampai Rumah, Bongkar Dulu
Begitu sampai rumah, hal pertama yang kulakukan adalah membongkar semua belanjaan dan mendekor ulang semua tasku (tas sekolah, tas pantai, tote bag) dengan merch baru. Aku suka banget bagaimana Comifuro membuatku bisa mempersonalisasi barang-barangku dengan sentuhan kecil fandom yang kusukai.
Pembelian favoritku mungkin coaster dan gantungan HP karena sering kupakai. Aku juga suka banget lembaran stiker yang kubeli, walau setengah diriku menolak menempelkannya karena terlalu lucu.
Kesimpulan: Akankah Aku Pergi Lagi?
Pertanyaannya sekarang: akankah aku datang lagi ke Comifuro? Jawabannya, jelas banget; iya. Walaupun tempatnya jauh dari rumah dan uang yang kuhabiskan sebagai anak SMA terasa pedih, pengalamannya begitu berkesan. Aku yakin bakal mengingat hari itu bahkan ketika nanti aku dan teman-teman SMA berpisah saat masuk kuliah.
Bahkan sekarang, aku dan teman-temanku sedang mempertimbangkan untuk menjual produk buatan kami sendiri di CF22 tahun depan. Meski pasti butuh banyak usaha, Comifuro tahun ini benar-benar memberi dampak positif dan memotivasiku untuk berkembang dan mengejar tujuan yang lebih tinggi ke depannya.
