Belajar atau Sekadar Lulus? Dilema Mahasiswa Masa Kini

Mahasiswi Ilmu Hukum Unika Santo Thomas
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Jolie Cristyandra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah derasnya arus perubahan zaman, mahasiswa dihadapkan pada sebuah dilema yang kian nyata: apakah tujuan utama mereka adalah benar-benar belajar atau sekadar lulus? Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, namun sesungguhnya mencerminkan persoalan mendasar dalam dunia pendidikan tinggi saat ini. Kampus yang seharusnya menjadi ruang pembentukan intelektualitas dan karakter, perlahan bergeser menjadi sekadar tempat memperoleh gelar.
Fenomena ini tidak muncul begitu saja. Tekanan sosial, tuntutan keluarga, hingga realitas pasar kerja yang semakin kompetitif mendorong mahasiswa untuk berorientasi pada hasil akhir, yakni kelulusan. Nilai akademik menjadi tolok ukur utama, sementara proses pembelajaran sering kali dinomorduakan. Tidak sedikit mahasiswa yang lebih fokus mengejar indeks prestasi tinggi dengan cara instan, seperti menghafal tanpa memahami, atau bahkan menyalin tanpa mencerna.
Di sisi lain, perkembangan teknologi dan kemudahan akses informasi turut memperparah keadaan. Alih-alih dimanfaatkan untuk memperdalam pemahaman, teknologi justru sering digunakan sebagai jalan pintas. Tugas-tugas diselesaikan dengan cepat tanpa proses berpikir kritis, diskusi akademik semakin jarang dilakukan, dan budaya membaca perlahan memudar. Mahasiswa menjadi terbiasa dengan kecepatan, namun kehilangan kedalaman.
Kondisi ini tentu berbahaya jika dibiarkan. Mahasiswa yang hanya berorientasi pada kelulusan berpotensi menjadi lulusan yang miskin kompetensi. Mereka mungkin memiliki gelar, tetapi tidak memiliki kemampuan analisis, kreativitas, dan daya saing yang memadai. Pada akhirnya, hal ini tidak hanya merugikan individu, tetapi juga berdampak pada kualitas sumber daya manusia secara keseluruhan.
Lebih jauh lagi, pergeseran orientasi ini juga mencerminkan krisis idealisme mahasiswa. Dahulu, mahasiswa dikenal sebagai agen perubahan yang kritis terhadap berbagai persoalan sosial. Namun kini, sebagian besar justru terjebak dalam rutinitas akademik yang monoton dan pragmatis. Aktivisme menurun, kepedulian sosial melemah, dan keberanian untuk bersuara semakin jarang terlihat.
Namun, tidak adil jika seluruh kesalahan dibebankan kepada mahasiswa. Sistem pendidikan juga memiliki peran besar dalam membentuk pola pikir tersebut. Kurikulum yang terlalu menekankan pada nilai, metode pembelajaran yang kurang interaktif, serta minimnya ruang eksplorasi membuat mahasiswa tidak terdorong untuk berpikir lebih dalam. Kampus sering kali gagal menjadi ekosistem yang menumbuhkan rasa ingin tahu dan semangat belajar sejati.
Oleh karena itu, perlu adanya perubahan yang menyeluruh. Mahasiswa harus mulai menyadari bahwa proses belajar adalah investasi jangka panjang yang tidak dapat digantikan oleh sekadar angka di atas kertas. Belajar bukan hanya tentang memahami materi kuliah, tetapi juga tentang membentuk cara berpikir, sikap, dan karakter. Di sisi lain, institusi pendidikan harus berani melakukan evaluasi dan pembenahan sistem agar lebih mendorong pembelajaran yang bermakna.
Pada akhirnya, pilihan tetap berada di tangan mahasiswa. Apakah mereka ingin menjadi lulusan yang hanya membawa gelar, atau individu yang benar-benar memiliki pengetahuan dan kemampuan? Dilema ini bukan sekadar persoalan akademik, melainkan juga persoalan masa depan. Sebab, dari cara mahasiswa memaknai belajar hari ini, akan ditentukan kualitas bangsa di masa yang akan datang.
