Konten dari Pengguna

Mahasiswa Hari Ini: Aktif di Media Sosial, Pasif di Dunia Nyata.

Jolie Cristyandra

Jolie Cristyandra

Mahasiswi Ilmu Hukum Unika Santo Thomas

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jolie Cristyandra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa Hari Ini: Aktif di Media Sosial, Pasif di Dunia Nyata.
zoom-in-whitePerbesar

Di era digital yang serba cepat, mahasiswa menjadi kelompok yang paling adaptif terhadap perkembangan teknologi, khususnya media sosial. Platform seperti Instagram, TikTok, dan X (Twitter) bukan hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga ruang ekspresi, diskusi, bahkan aktivisme. Namun, di balik keaktifan tersebut, muncul ironi yang patut dipertanyakan: mengapa mahasiswa begitu vokal di dunia maya, tetapi cenderung pasif di dunia nyata?

Fenomena ini bukan sekadar asumsi, melainkan realitas yang semakin terlihat dalam kehidupan kampus. Diskusi panjang di kolom komentar, unggahan kritik sosial, hingga kampanye digital sering kali tidak berlanjut pada tindakan nyata. Mahasiswa yang lantang menyuarakan isu keadilan, lingkungan, atau pendidikan di media sosial, belum tentu hadir dalam forum diskusi, aksi lapangan, atau kegiatan sosial di lingkungan sekitarnya.

Salah satu faktor yang mendorong kondisi ini adalah kemudahan dan kenyamanan yang ditawarkan media sosial. Berpendapat di dunia maya tidak membutuhkan keberanian yang sama seperti berbicara di ruang publik atau turun ke lapangan. Identitas dapat disamarkan, risiko dapat diminimalkan, dan validasi bisa didapatkan secara instan melalui “likes” dan komentar. Hal ini menciptakan ilusi partisipasi, seolah-olah keterlibatan digital sudah cukup menggantikan aksi nyata.

Selain itu, budaya instan juga turut membentuk pola pikir mahasiswa. Segala sesuatu diharapkan serba cepat dan praktis, termasuk dalam menyuarakan pendapat. Proses panjang seperti riset mendalam, diskusi tatap muka, atau pengorganisasian aksi sering dianggap tidak efisien. Akibatnya, mahasiswa lebih memilih jalur yang mudah dan cepat, meskipun dampaknya tidak selalu signifikan.

Lebih mengkhawatirkan lagi, kondisi ini berpotensi melemahkan peran historis mahasiswa sebagai agen perubahan. Dalam berbagai momentum penting, mahasiswa dikenal sebagai kelompok yang kritis, berani, dan aktif dalam mendorong perubahan sosial. Namun kini, peran tersebut mulai tergeser oleh aktivitas digital yang cenderung simbolik. Kritik menjadi sekadar konten, dan kepedulian berubah menjadi tren sesaat.

Di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa media sosial juga memiliki potensi besar sebagai alat perubahan. Banyak gerakan sosial yang bermula dari ruang digital dan kemudian berkembang menjadi aksi nyata. Masalahnya bukan pada medianya, melainkan pada bagaimana mahasiswa memanfaatkannya. Media sosial seharusnya menjadi jembatan, bukan pengganti, dari keterlibatan di dunia nyata.

Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kolektif untuk mengembalikan keseimbangan antara aktivitas digital dan aksi nyata. Mahasiswa perlu menyadari bahwa perubahan tidak cukup hanya dengan mengetik, tetapi juga membutuhkan tindakan konkret. Kampus sebagai ruang intelektual juga harus mendorong budaya diskusi langsung, kegiatan sosial, dan partisipasi aktif yang melibatkan mahasiswa secara nyata.

Pada akhirnya, menjadi mahasiswa bukan hanya tentang terlihat aktif, tetapi benar-benar berkontribusi. Dunia maya mungkin memberikan ruang yang luas untuk bersuara, tetapi dunia nyata adalah tempat di mana perubahan benar-benar terjadi. Jika mahasiswa terus terjebak dalam kenyamanan digital, maka mereka berisiko kehilangan esensi perannya sebagai motor penggerak perubahan.