kumparan
12 Mei 2019 12:33

Penyesalan Imigran Gelap yang Memasuki AS lewat Perbatasan Selatan

Carlos Joaquin Salinas dan anaknya, imigran dari Guatemala, yang menyelundup perbatasan selatan AS
Di Amerika, imigran-imigran GELAP yang memasuki Amerika Serikat (AS) melewati PERBATASAN SELATAN menjadi perhatian besar sejak Presiden Trump mengangkat masalah ini. Media-media memberitakan bahwa mereka adalah pencari suaka atau pengungs. Benarkah demikian? Siapa yang mendapatkan keuntungan besar dari imigran-imigran GELAP tersebut? Ikuti cerita seorang imigran gelap di bawah ini!
ADVERTISEMENT
Carlos Joaquin Salinas, petani jagung dari Guatemala, tak bisa mengandalkan usahanya untuk menghidupi keluarganya. Ia memutuskan berangkat ke Amerika untuk bekerja. Langkah pertama yang dia ambil bukanlah memajukan aplikasi visa, melainkan mencari PENYELUNDUP (spanish: “coyote”) yang bisa membantunya memasuki Amerika.
Penyelundup kemudian mematok harga $6.000 untuk dia dan anaknya, Fernando. Iming-iming dari penyelundup, “Berangkat ke Amerika itu seperti pergi ke Disneyland. Semua orang akan menyambutmu dng pekerjaan.”
Carlos sepakat dengan penyelundup. Untuk membayar biaya tersebut, ia menjual tanah, 3 ekor sapi dan 4 ekor ayam plus berhutang. Tujuannya adalah pergi ke Texas Utara dan mencari pekerjaan di sana.
Dalam perjalanannya ke utara, penyelundup mengatur transportasi berupa bis mewah. Tiap imigran ditarik $200-$300 supaya bis tersebut diperbolehkan melewati daerah yang dikuasai gang kriminal terorganisasi.
ADVERTISEMENT
Sesampainya mereka di Meksiko, mereka terkejut karena mereka mrk dioper ke penyelundup lain di negara tersebut, yang ternyata adalah bagian dari jaringan penyelundup terorganisasi. Mereka akhirnya sampe di perbatasan AS dan bergabung dengan ribuan imigran yg sama-sama ingin memasuki AS.
Penyelundup memberitahu para imigran untuk melewati daerah-daerah tertentu menuju perbatasan, kemudian MENYERAHKAN DIRI ke petugas perbatasan AS. Mereka harus mengaku kalau mereka adalah pencari suaka.
Setelah melewati perbatasan dan menyerahkan diri ke petugas, ditangkaplah mereka dan ditempatkan di penampungan yang penuh sesak. Saat itu, Carlos MENYESAL datang ke Amerika. Ternyata mereka tidak disambut dengan tangan terbuka seperti yang dijanjikan penyelundup. Kembali ke Guatemala juga sulit mengingat banyaknya biaya yang sudah dikeluarkan.
ADVERTISEMENT
Carlos juga merasa bersalah kepada anaknya, Fernando. Menurut penyelundup, jika menerobos perbatasan AS sambil membawa anak akan dikasihani dan tidak akan langsung dideportasi.
Selama Maret 2019, terdapat 95.000 migran seperti Carlos dan Fernando yang menerobos perbatasan. Petugas perbatasan AS kewalahan menangani mereka. Tempat penampungan tidak mencukupi. Hakim-hakim pengadilan yang menangani pengajuan suaka juga tidak mencukupi. Menurut Trump, situasi seperti ini adalah SITUASI DARURAT yang harus cepat ditangani.
Petugas imigrasi kemudian menetapkan tanggal bagi Carlos dan Fernando untuk maju ke pengadilan di mana nasib mereka akan ditentukan. Pengadilan akan memutuskan apakah mereka termasuk kategori pencari suaka atau bukan. Sebelum jelas nasibnya, mereka dilarang bekerja di AS.
Carlos dan Fernando kemudian diserahkan ke satu organisasi non-profit yg menangani imigran-imigran “pencari suaka”. Sepupu Carlos yang tinggal di Texas mengirimkan tiket bis yang menghantar mereka ke Texas.
ADVERTISEMENT
Carlos akhirnya mendapatkan pekerjaan memasang kaca jendela dengan pendapatan $100/hari (setara dengan pendapatan 2 minggu di Guatemala) meskipun ia DILARANG BEKERJA karena statusnya yang belum jelas. Ia mengirim sebagian pendapatannya ke keluarganya di Guatemala. Anaknya Fernando didaftarkan ke sekolah negeri di Texas.
Dengan uangnya, Carlos mampu membeli HP. Ia sering WA dengan teman-temannya di Guatemala. Pesannya: “Jangan datang! Jangan menjual harta bendamu untuk datang ke AS. Penyelundup berbohong semua.”
Menurut Homeland Security, imigran yg betul-betul memenuhi syarat sebagai PENCARI SUAKA berkisar 10% saja. Sebagian besar seperti Carlos adalah PENCARI KERJA. Kriteria pencari suka adalah merekayang dipersekusi di negara asalnya
Dari cerita Carlos di atas, terlihat praktik “Catch & Release” imigrasi AS. Mrk ditangkap, diberi tanggal untuk maju ke pengadilan, lalu DIBEBASKAN KE AMERIKA. Praktik seperti ini yang membuat Trump marah. Trump mengatakan hukum imigrasi AS adalah hukum imigrasi PALING BODOH di dunia. Namun, partainya sendiri, apalagi Democrat, tak bersedia membuat hukum imigrasi yang lebih baik.
ADVERTISEMENT
Dengan adanya praktik “Catch & Release” ini, sebagian besar imigran yang sudah menyebar di Amerika TIDAK AKAN muncul di pengadilan. Hanya sebagian kecil saja yang akhirnya datang ke pengadilan.
Cerita Carlos di atas adalah cerita tipikal imigran GELAP di AS. Mereka menerobos perbatasan selatan yang TIDAK BERTEMBOK dan memanfaatkan celah-celah UU imigrasi AS. Siapa yang diuntungkan? JARINGAN PENYELUNDUP yang beroperasi di Amerika Latin. Siapa yang dirugikan? Pembayar pajak AS.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan