Konten dari Pengguna

Perang Kultur AS: Mengapa “The Left” yang Kuasai Opini Publik AS Benci Trump? (Bag. 1)

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari AmerEurope tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perang Kultur AS: Mengapa “The Left” yang Kuasai Opini Publik AS Benci Trump? (Bag. 1)
zoom-in-whitePerbesar

Ketika Donald Trump berhasil menjadi Presiden Amerika Serikat, yang terjadi bukan hanya perang politik tetapi juga perang KULTUR di Amerika.

Hari ini, The Left menguasai kultur Amerika karena mereka menguasai tiga tonggak penting dalam kehidupan masyarakat, yaitu media massa, perguruan tinggi dan industri hiburan (Hollywood).

Trump yang dua tahun lalu mencalonkan diri menjadi presiden melalui Partai Republican, bukanlah tipe konservatif yang khas Republican. Tidaklah mengherankan, banyak politisi Republican menolak untuk mendukung Trump pada awalnya.

Meskipun bukan konservatif ideal, tetapi Trump secara nyata anti-Left. Nilai-nilai keduanya bertolak belakang sehingga yang diperjuangkan Trump berseberangan dengan visi The Left yang sekarang menguasai opini publik Amerika. Oleh karena itulah, mereka berusaha keras untuk menjatuhkan Trump sebagai presiden.

The Left sering diidentikkan dengan liberal. Identifikasi tersebut tidak sepenuhnya benar bila kita mengacu pada pengertian liberal yang “tradisional”. Seorang talk show host dan penulis Amerika, Dennis Prager, menjabarkan perbedaan keduanya [1].

Apa nilai-nilai The Left?

Salah satunya, The Left TIDAK mempercayai bahwa kekayaan dan kemakmuran adalah HASIL jerih payah dan kerja keras. Fakta adanya orang kaya dan miskin menunjukkan kegagalan moral Amerika.

Dengan anggapan seperti itu, The Left, jika mendapatkan kesempatan untuk memerintah, cenderung menaikkan pajak terutama bagi kalangan atas dan perusahaan besar. Uang yang didapat kemudian dibagi-bagikan ke kalangan bawah dalam bentuk berbagai bantuan (welfare). Welfare tentu bukan hal buruk jika tepat sasaran. Namun, pemerintahan The Left cenderung “meningkatkan” permintaan welfare. Mendapat sesuatu tanpa harus bekerja tentu menarik bagi banyak orang.

Trump sebaliknya mewakili nilai yang berlawanan dengan The Left. Bahkan seluruh kehidupannya menunjukkan penolakan terhadap nilai tersebut. Trump yang adalah pebisnis sukses menganggap kemakmuran yang berhasil diraihnya adalah hasil pencapaian pribadi dan bukan semata-mata pemberian orang lain.

Trump menumpuk kekayaannya dengan membangun real estate dan menjualnya kepada kalangan super kaya. Dia juga bergerak di bidang pakaian dan television show. Trump menunjukkan bahwa, di Amerika, kesuksesan bisa diraih dengan kerja keras.

Oleh karena itu, Trump mendukung penurunan pajak bagi semua kalangan. Dia ingin setiap orang yang bekerja keras dapat menikmati hasilnya, tidak diambil secara berlebihan untuk disebarkan kepada orang lain.

Setelah Trump menjabat presiden, penerima welfare di Amerika turun drastis. Dalam tahun pertama Trump, penerima “Food Stamp” dua juta orang lebih sedikit dibandingkan pemerintahan sebelumnya [2].

Trump memperketat peraturan yang sudah ada sebelumnya dengan mengharuskan penerima welfare yang mampu bekerja untuk bekerja minimal paruh waktu [3].

Karena perbedaan nilai yang diametrikal tersebut, tidak mengherankan jika The Left berusaha melengserkan Trump dengan segala cara termasuk menciptakan opini publik negatif dan “fake news”. Hal tersebut dimungkinkan karena mereka menguasai kebanyakan mainstream media seperti CNN, The Washington Post dan The New York Times. Berbagai lembaga survey yang berafiliasi dengan mainstream media juga dikuasai. Media-media itulah yang biasanya menjadi rujukan media-media Indonesia.

Twitter @AmerEurope

Referensi online:

[1] https://townhall.com/columnists/dennisprager/2017/09/12/leftism-is-not-liberalism-n2380044

[2] http://www.foxnews.com/politics/2018/01/05/food-stamp-recipients-down-2m-under-trump-usda-figures-show.html

[3] https://nypost.com/2018/02/03/trumps-excellent-welfare-reform-opportunity/