Mengapa Masih Banyak Brand Lokal yang Kurang Dikenal? Bahkan Tutup?

Mahasiswa ITB Ahmad Dahlan Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Jonathan Marcel Pasuan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di balik semangat cinta produk lokal, realitanya masih banyak brand lokal dari UMKM sampai usaha skala menengah yang kesulitan bertahan di tengah persaingan pasar digital. Banyak dari kita bangga pakai produk lokal. Tapi kenapa masih banyak brand lokal yang kurang dikenal, bahkan tutup?
Bukan karena produknya jelek, bukan pula karena tidak ada pasar. Tapi karena strategi digital marketingnya belum tajam.

Sementara brand luar negeri bahkan brand lokal yang sudah besar, punya strategi promosi yang menyatu di kepala konsumen. Mereka tahu kapan harus muncul di TikTok, bagaimana membuat audiens klik “Add to Cart,” dan siapa influencer yang tepat untuk merekomendasikan produk mereka.
Masalah Yang Sering Terjadi :
Tidak Punya Strategi Konten yang Konsisten, Banyak brand lokal hanya posting promosi sesekali. Padahal konsistensi dan storytelling adalah kunci agar audiens merasa dekat dan tertarik beli.
Belum Paham Target Pasar Online, Tanpa data, brand cenderung menebak-nebak konten apa yang disukai audiens. Ini bikin pesan mereka sering tidak nyambung atau tidak menjual.
Kurang Maksimalkan Platform Sosial Media, Banyak UMKM hanya ada di Instagram. Padahal, potensi TikTok, WhatsApp Business, sampai SEO website sangat besar untuk membangun awareness dan penjualan.
Minim Kolaborasi dan Campaign Digital, Brand lokal sering berjalan sendiri tanpa membangun kolaborasi dengan kreator lokal atau sesama UMKM untuk saling mengangkat.
Menurut laporan We Are Social (2024), 77,8% konsumen Indonesia mencari informasi produk lewat internet sebelum membeli. 67% pengguna aktif menggunakan media sosial untuk mencari rekomendasi produk. Platform paling berpengaruh terhadap keputusan pembelian: TikTok (37%), Instagram (29%), YouTube (18%). Sayangnya, banyak brand lokal belum memiliki tim atau strategi khusus untuk menggarap platform tersebut secara optimal.
Solusi Strategi Digital Marketing yang Bisa Diterapkan Brand Lokal :
Mulai dari Cerita, Bukan Langsung Jualan, Ceritakan proses di balik produk, siapa pembuatnya, bahan lokal apa yang digunakan, dan apa filosofi di balik usaha tersebut. Orang suka cerita, bukan hanya promo.
Optimalkan Multi-Channel Presence, Jangan hanya bergantung pada satu media sosial. Gabungkan Instagram untuk visual, TikTok untuk storytelling singkat, dan WhatsApp Business untuk transaksi cepat.
Bermitra dengan Mikro Influencer Lokal, Tidak harus selebgram besar. Influencer dengan 1.000–10.000 followers di komunitas lokal seringkali lebih berdampak karena punya audiens yang loyal.
Gunakan Tools Gratis, Tools seperti Canva, Google Trends, Meta Business Suite, hingga TikTok Ads Library bisa bantu riset dan membuat konten tanpa biaya mahal.
Bangun Komunitas, Bukan Hanya Pelanggan, Ajak audiens jadi bagian dari perjalanan bisnis: buka diskusi di komentar, ajak mereka vote desain, atau libatkan mereka dalam campaign sosial. Ini membangun brand trust jangka panjang.
Era digital tidak lagi milik brand besar saja. Brand kecil pun bisa viral dan laris manis asal tahu cara bermain di dunia digital.
Dengan strategi digital marketing yang cerdas, efisien, dan kreatif, produk lokal bisa punya tempat di hati konsumen dan bahkan menyaingi pemain global.
Jadi, saatnya perusahaan lokal berhenti jualan secara konvensional dan mulai cerdas secara digital.
