BMKG soal Bendung Katulampa Mengering: Pulau Jawa Sudah Masuk Musim Kemarau

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Peta Wilayah Perkembangan Musim Kemarau 2026 di Indonesia. Foto: Dok. BMKG
zoom-in-whitePerbesar
Peta Wilayah Perkembangan Musim Kemarau 2026 di Indonesia. Foto: Dok. BMKG

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan terkait mengeringnya Bendung Katulampa, Bogor. Fenomena ini dinilai dipengaruhi oleh musim kemarau yang sudah mulai melanda pulau Jawa.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan akibat kemarau itu terjadi pengurangan tangkapan hujan di daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung.

“Sebagian besar Jawa telah memasuki musim kemarau, termasuk daerah tangkapan untuk DAS Ciliwung. Di wilayah tersebut kondisi curah hujan bulan Juni dan dasarian I bulan Juli mengalami curah hujan di bawah normal,” kata Ardhasena saat dihubungi kumparan, Minggu (19/7).

Ilustrasi kemarau. Foto: Bay Ismoyo/AFP

Meski demikian, Ardhasena menegaskan, BMKG tidak dapat menyimpulkan bahwa mengeringnya Bendung Katulampa yang semata-mata disebabkan oleh musim kemarau ekstrem.

Menurutnya, penjelasan terkait tinggi muka air sungai menjadi kewenangan instansi teknis yang menangani sumber daya air.

“Untuk atribusi tinggi air pada sungai, perlu dikonsultasi pada PU (Dinas Pekerjaan Umum). BMKG memonitor curah hujan yang berkontribusi pada air sungai, yang saat ini rendah karena musim kemarau,” ujarnya.

Bendung Katulampa Mengering

Kondisi debit air di Bendung Katulampa, Kota Bogor, Jawa Barat, Minggu (19/7/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Pantauan kumparan, Minggu (19/7), menunjukkan aliran di Bendung Katulampa menyusut drastis. Batu-batu besar yang biasanya terendam air kini tampak jelas di dasar sungai.

Sebelumnya, Tinggi Muka Air (TMA) Bendung Katulampa sempat turun hingga menyentuh angka 0 sentimeter pada Sabtu (18/7).

Penjaga Bendung Katulampa, Muhammad Alwan, mengatakan debit Sungai Ciliwung memang mengalami penurunan signifikan akibat musim kemarau. Dalam beberapa hari terakhir, TMA berfluktuasi di kisaran 0 hingga 10 sentimeter.

“Untuk TMA Bendung Katulampa sekarang sudah mulai surut. TMA Bendung Katulampa 0 sentimeter. Dalam beberapa hari memang pernah 0 cuma ada 1-2 jam, terus 10 lagi, 0 lagi, begitu. Dampaknya memang mulai terasa karena musim kemarau,” kata Alwan.