Dokter Anak Ungkap Risiko Bayi Diberi Telur Mentah, Jelaskan Cara Redakan Demam

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi dokter. Foto: Volha_R/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dokter. Foto: Volha_R/Shutterstock

Dokter spesialis anak, dr Rendy Yoga Ardian, mengingatkan risiko pemberian telur mentah kepada bayi. Menurutnya, telur mentah berpotensi mengandung bakteri Salmonella yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan hingga infeksi.

Edukasi ini disampaikan menyusul adanya bayi berusia 28 hari di Surabaya yang meninggal dunia setelah diberi telur mentah oleh neneknya demi meredakan demam.

Rendy mengatakan, telur mentah yang terkontaminasi bakteri dapat menimbulkan sejumlah gejala, seperti mual, muntah, dan diare. Kondisi tersebut perlu diwaspadai, terlebih jika terjadi pada bayi yang masih berusia sangat muda.

"Kalau untuk telur mentah, bisa jadi mengandung Salmonella. Jadi anak bisa gangguan pencernaan, seperti mual, muntah, diare," kata Rendy saat dihubungi, Senin (12/10).

Sejumlah telur di Kios Telur Amalia Bintang Telur, Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis (8/10/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Dia menjelaskan, pemberian makanan kepada bayi harus disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangannya. Bayi baru lahir belum siap menerima makanan pendamping ASI (MPASI), terlebih makanan yang tidak diolah hingga matang.

"MPASI paling cepat diberikan di Eropa umur 4 bulan. Di Indonesia 6 bulan," ujarnya.

Menurut Rendy, pemberian makanan yang terlalu dini dan dalam kondisi tidak matang dapat meningkatkan risiko infeksi pada bayi.

"Jadi selain terlalu cepat, makanan yang diberikan juga tidak matang. Jadi sangat berisiko untuk infeksi," katanya.

Karena itu, orang tua perlu memperhatikan asupan bayi dan tidak memberikan makanan yang belum sesuai dengan usianya. Pemberian makanan atau bahan tertentu kepada bayi juga sebaiknya tidak didasarkan pada mitos maupun saran yang belum teruji secara medis.

Cara Meredakan Demam pada Bayi

Ilustrasi bayi baru lahir di rumah sakit. Foto: TheVisualsYouNeed/Shutterstock

Rendy menjelaskan ada sejumlah langkah yang dapat dilakukan orang tua ketika bayi mengalami demam.

Dia menyarankan orang tua melakukan kompres hangat pada beberapa bagian tubuh bayi, seperti kepala, leher, ketiak, dan selangkangan. Orang tua juga perlu memperhatikan suhu tubuh bayi secara berkala.

"Kompres hangat kepala, leher, ketiak, selangkangan," kata Rendy.

Dia turut menyebut pemberian obat penurun panas berupa parasetamol dalam bentuk tetes apabila suhu tubuh mencapai 38 derajat celsius.

"Bisa diberikan parasetamol drop, jika suhu sudah 38," ujarnya.

Rendy juga menyarankan orang tua memantau suhu tubuh bayi secara berkala. Namun, pemberian obat harus memperhatikan usia, berat badan, dosis, serta arahan tenaga medis, terutama pada bayi yang baru lahir.

Selain itu, Rendy mengingatkan pentingnya menjaga kecukupan asupan cairan bayi dengan memperbanyak pemberian ASI.

"Perbanyak minum ASI juga," katanya.

Meski demikian, demam pada bayi baru lahir tidak boleh dianggap sebagai kondisi ringan yang cukup ditangani sendiri di rumah.

Bayi berusia kurang dari tiga bulan dengan suhu tubuh 38 derajat celsius atau lebih perlu segera mendapatkan pemeriksaan medis karena berisiko mengalami infeksi serius.

Orang tua juga perlu segera mencari pertolongan medis apabila bayi tampak lemas, sulit dibangunkan, tidak mau menyusu, mengalami sesak napas, atau menunjukkan gejala lain yang mengkhawatirkan.

Penanganan demam pada bayi perlu dilakukan secara hati-hati. Orang tua tidak disarankan memberikan obat tanpa memastikan dosis yang tepat maupun menunda pemeriksaan medis hanya karena suhu tubuh bayi sempat turun.