Komisi II Rapat Bareng LAN, Soroti Potensi Efisiensi Kinerja ASN karena AI

Komisi II DPR RI menyoroti dampak perkembangan teknologi, termasuk artificial intelligence (AI), terhadap kinerja dan jumlah aparatur sipil negara (ASN).
Hal itu terjadi dalam rapat kerja Komisi II dengan Lembaga Administrasi Negara (LAN) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (24/8).
Wakil Ketua Komisi II DPR Dede Yusuf mengatakan digitalisasi berpotensi membuat pekerjaan birokrasi menjadi lebih efisien. Ia mencontohkan penggunaan AI yang kini dapat menggantikan sejumlah pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan beberapa orang.
“Kalau dulu kita memerlukan ada dua tiga orang untuk membuat sebuah presentasi, sekarang tidak perlu, ya,” kata Dede.
Menurutnya, perkembangan digitalisasi juga perlu diikuti dengan evaluasi terhadap kebutuhan jumlah ASN di daerah. Ia mencontohkan kondisi kantor kecamatan yang saat ini dapat memiliki puluhan pegawai.
“Padahal sebagaimana kita ketahui dengan adanya digitalisasi dan lain-lain, mungkin itu mestinya tidak perlu sampai puluhan orang. Mungkin cukup 15 sampai 20 orang,” ujarnya.
Dede mempertanyakan kesiapan pemerintah dalam menghadapi perubahan tersebut, termasuk kemungkinan berkurangnya kebutuhan ASN akibat penerapan teknologi.
“Nah ini konteksnya kalau kita perhatikan juga, bahwa apakah ASN-ASN kita ke depan akan menjadi mass product atau akan terjadi pengurangan?” kata Dede.
Ia pun meminta LAN menyiapkan konsep pengembangan kompetensi ASN agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, termasuk AI.
“Nah, apa ada konsep ke depan terkait dengan pengembangan kompetensi ASN menyikapi perkembangan teknologi, inovasi, termasuk Artificial Intelligence itu?” ujarnya.
Kepala LAN Muhammad Taufik mengatakan pihaknya telah melakukan transformasi pengembangan kompetensi ASN selama hampir dua tahun. Salah satu fokusnya ialah memperkuat pembelajaran di bidang AI dengan melibatkan perusahaan teknologi dan sektor swasta.
“Capaian pelaksanaan transformasi pengembangan kompetensi selama kurang lebih hampir 2 tahun ini dilakukan dengan bagaimana melakukan transformasi memperkuat ekosistem pembelajaran yang melibatkan berbagai pihak termasuk banyak start-up-start-up teknologi terkait private sector yang bergerak di bidang terutama kita ingin memperkuat pengembangan kompetensi di bidang AI,” kata Taufik.
Menurutnya, LAN bekerja sama dengan berbagai perusahaan teknologi, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk memperkuat kompetensi ASN.
“Kita tidak hanya apa partner dari apa dalam negeri, tapi juga luar negeri, ya. Tidak hanya pemerintah, tapi juga dari swasta seperti Microsoft, Google, ada Amazon Web Services, dan seterusnya,” ujarnya.
Taufik mengatakan pengembangan kompetensi tersebut diarahkan agar pembelajaran ASN tidak sekadar menghasilkan sertifikat, tetapi berdampak terhadap kinerja.
“Dan ini kita harapkan memudahkan bagi ASN belajar secara berdampak, belajar yang betul-betul kemudian berorientasi pada outcome,” kata dia.
