Megawati Minta AI Dikembangkan hingga Mampu Lampaui Otak Manusia

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri saat menyampaikan pidato pada peresmian Monumen Kudatuli di Kantor DPP PDIP, Jakarta, Senin (27/7/2026). Foto: Dok. PDIP
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri saat menyampaikan pidato pada peresmian Monumen Kudatuli di Kantor DPP PDIP, Jakarta, Senin (27/7/2026). Foto: Dok. PDIP

Ketua Umum PDIP sekaligus Presiden Kelima RI Megawati Soekarnoputri meminta para ilmuwan dan pemikir dunia yang hadir dalam forum di Megawati Institute, Jakarta, turut memikirkan perkembangan kecerdasan buatan (AI).

Menurutnya, perkembangan AI saat ini berlangsung sangat pesat dan perlu diarahkan untuk kepentingan manusia.

“Kecerdasan buatan berkembang dengan kecepatan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya,” kata Megawati dalam sambutannya, Jumat (28/8).

Megawati meminta para ilmuwan yang hadir untuk memikirkan pengembangan AI agar dapat melampaui kemampuan otak manusia.

“Saya sangat memohon meminta attention dari para semua, para pintar yang ada di sini. Kita benar-benar harus berpikir supaya kecerdasan buatan ini dapat melebihi otak manusia sendiri,” ujarnya.

Presiden Timor Leste Jose Ramos-Horta, Megawati Soekarnoputri, dan para peserta pertemuan berfoto bersama di Megawati Institute, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (28/8/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Meski mendorong pengembangan AI, Megawati mengingatkan agar kemajuan teknologi tersebut tetap diarahkan untuk kepentingan manusia.

“AI, Artificial Intelligence, dan macam-macam yang sebetulnya harusnya dipergunakan untuk kepentingan manusia,” kata Megawati.

Dia juga mengingatkan potensi teknologi dan data digunakan sebagai instrumen hegemoni baru. Karena itu, perkembangan teknologi menurutnya perlu dibarengi tanggung jawab kemanusiaan.

“Kita harus bersikap kritis ketika teknologi dan data dijadikan alat hegemoni baru,” tuturnya.

“Namun kita juga harus memperkuat tanggung jawab kemanusiaan agar kemajuan teknologi termasuk AI juga berorientasi pada kesejahteraan antarbangsa dan tatanan dunia yang semakin berkeadilan,” pungkasnya.