Menimipas-Menkes Luncurkan CKG di Lapas se-RI, Fokus Cegah TBC

Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) berkolaborasi dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meluncurkan program cek kesehatan gratis (CKG) bagi warga binaan dan petugas lapas di Lapas seluruh Indonesia.
Seremonial peluncuran program ini digelar di Pulau Nusakambangan pada Senin (29/6). Menimipas Agus Andrianto dan Menkes Budi Gunadi Sadikin hadir langsung dalam acara tersebut.
Agus mengungkapkan, program ini merupakan upaya pihaknya untuk mendeteksi berbagai penyakit, sekaligus mengatasi penyebaran TBC di lingkungan lapas.
“Untuk mendukung program Asta Cita Bapak Presiden dalam mendeteksi dini berbagai penyakit dan penuntasan TBC,” kata Agus.
“Sekaligus eliminasi TBC pada tahun 2030 sebagai yang diamanatkan oleh Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberculosis dan Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025 tentang RPCMM 2025-2029,” sambungnya.
Agus mengatakan, Kemenkes ikut membantu pelaksanaan program ini dengan memberikan sejumlah peralatan medis.
“Bantuan peralatan medis yang diberikan berupa alat monitor pasien, alat cek jantung, peralatan infus, pompa elektronik, dan peralatan medis lainnya,” jelas Agus.
“Bantuan peralatan medis yang diberikan ini akan sangat berarti bagi kami di lingkungan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya jajaran Direktorat Jenderal Pemasyarakatan,” tutur dia.
Agus mengungkap program ini menyasar 272.573 warga binaan dan 48.876 petugas pemasyarakatan yang ada di 532 lapas seluruh Indonesia.
“Secara khusus di Pulau Nusakambangan yang menjadi lokasi kick-off program ini akan menyentuh manfaat sekurang-kurangnya 4.842 warga binaan pemasarakatan dan 926 pegawai,” jelasnya.
Agus menyebut, berdasarkan data Global Tubercolosis Report 2025, Indonesia menempati urutan kedua dengan angka TBC tertinggi, berada di bawah India. Katanya, Indonesia menyumbang 10 persen pengidap TBC dunia.
“Sementara itu jika kita lihat kasus TBC pada lapas dan rutan menunjukkan data tahun 2025 angka preferensi TBC di kalangan WBP mencapai 3,64% atau 7.972 kasus aktif dari total 218.962 warga pembinaan pemasyarakatan,” jelasnya.
Skrining TBC Diperlukan
Sementara, Menkes Budi menambahkan, skrining TBC memang perlu dilakukan di lingkungan lapas. Sebab, di dalam lapas, warga binaan berada di satu ruangan yang sama dengan warga binaan lainnya dalam menjalankan aktivitas.
“Jadi kenapa kita skrining TBC di lapas, karena memang di lapas ini lebih tinggi rata-rata penderita TB, karena dia orangnya itu-itu saja, tidurnya dekat-dekatan, kegiatan kebanyakan di dalam ruangan, sehingga penularannya tinggi," ucap Budi.
