Solidaritas Para Perantau di Ibu Kota: Gelar Aksi 'Selamatkan Kalimantan'

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Zaki, perantau dari Kalimantan Selatan saat menggelar campaign Pray for Kalimantan di kawasan CFD Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (23/8/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Zaki, perantau dari Kalimantan Selatan saat menggelar campaign Pray for Kalimantan di kawasan CFD Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (23/8/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Sejumlah perantau asal Kalimantan menggelar aksi solidaritas bertajuk Pray For Kalimantan di kawasan Car Free Day (CFD) Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (23/8).

Zaki, perantau asal Kalimantan Selatan yang kini tinggal di Jakarta, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap tanah kelahirannya.

“Kami ingin memberikan informasi kepada khalayak ramai bahwa sekarang terjadi di Kalimantan (karhutla). Yang pertama, kami pagi-pagi sudah mendapatkan kabut asap yang luar biasa,” kata Zaki saat ditemui.

Zaki mengatakan kondisi kabut asap menjadi salah satu hal yang paling dikhawatirkan para perantau Kalimantan. Menurutnya, persoalan tersebut berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, mulai dari kesehatan hingga aktivitas sehari-hari.

Ia menilai penanganan dan mitigasi terhadap kabut asap perlu diperkuat karena persoalan tersebut terus berulang.

“Yang pertama adalah kabut asap yang setiap tahun tidak pernah ada mitigasi yang luar biasa, karena ini memberikan dampak yang sangat luar biasa kepada masyarakat, yang pertama dari segi kesehatannya,” ujarnya.

Soroti Dampak Kabut Asap hingga Mata Pencaharian

BPBD bersama relawan dan damkar melakukan pemadaman dan pendinginan di lokasi karhutla yang dapat dijangkau pada wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur, Rabu (19/8). Foto: BPBD Kabupaten Kutai Kartanegara

Selain kesehatan, Zaki mengatakan kabut asap juga berdampak terhadap mata pencaharian dan mobilitas warga. Jarak pandang yang terganggu, menurutnya, dapat memengaruhi aktivitas transportasi dan pekerjaan masyarakat.

“Yang kedua adalah nafkah, karena jarak pandang kita, transportasi juga. Yang jelas panas banget lah di situ,” katanya.

Zaki juga menyoroti persoalan lain yang menurutnya dirasakan masyarakat di Kalimantan, yakni antrean panjang di SPBU dan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM).

“Yang paling urgent adalah selalu antre SPBU, selalu habis SPBU (BBM) di mana pun di SPBU-SPBU di Kalimantan,” ujarnya.

Ia menyebut berbagai persoalan tersebut menjadi alasan para perantau ikut menyuarakan kondisi Kalimantan dari Jakarta. Menurutnya, aksi itu merupakan bentuk kepedulian warga Kalimantan yang berada jauh dari kampung halaman.

“Ini adalah salah satu bukti kepedulian kami terhadap kondisi Kalimantan sekarang,” tutur Zaki.

Diikuti Perantau dari 4 Provinsi

Zaki, perantau dari Kalimantan Selatan saat menggelar campaign Pray for Kalimantan di kawasan CFD Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (23/8/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Aksi solidaritas tersebut diikuti sekitar 7 hingga 8 orang. Mereka berasal dari sejumlah provinsi di Kalimantan, yakni Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah.

Zaki mengatakan para peserta aksi berasal dari latar belakang yang berbeda.

“Ini berbeda latar belakang kami. Ada dari mahasiswa, ada dari swasta,” katanya.

Mereka memilih kawasan Bundaran HI yang ramai oleh masyarakat saat CFD agar pesan mengenai kondisi Kalimantan dapat diketahui lebih luas.

“Kami ingin supaya khalayak ramai ini tahu bahwa di Kalimantan masih terjadi hal-hal yang ada beberapa poin ini. Yang paling signifikan adalah bahwa ini bentuk kepedulian kami para warga Kalimantan,” ujarnya.

Suasana Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD) di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (23/8/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Zaki menyebut aksi dimulai sekitar pukul 08.30 WIB. Selama aksi berlangsung, Ia mengaku sejumlah warga yang berada di kawasan CFD menunjukkan respons positif, termasuk mengajak peserta aksi berfoto.

“Antusiasmenya sangat tinggi. Inilah yang ingin kita harapkan bahwa warga Kalimantan yang tinggal atau merantau di Jakarta ini, peduli lah terhadap kampung halamannya,” katanya.

Aksi Pray For Kalimantan tersebut rencananya tidak berhenti di Bundaran HI. Zaki mengatakan para perantau berencana melanjutkan aksi solidaritas serupa secara rutin.

“Kemungkinan besar nanti akan berlanjut, tidak cuma di sini. Tetapi kemungkinan besar setiap minggu kami akan melakukan aksi solidaritas ini,” ujarnya.

Zaki sendiri mengaku telah tinggal di Jakarta selama lebih dari 5 tahun. Meski kini mencari nafkah di Ibu Kota, Ia mengatakan kondisi di Kalimantan tetap menjadi perhatian.