Mengenang Kegembiraan Masa Kecil: Permainan Tradisional Sebelum Era Gadget

Perkenalkan, nama saya Jonathan Sebastian saya merupakan seorang mahasiswa aktif semester 3 dari Universitas Bunda Mulia Ancol dengan prodi ilmu komunikasi.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari JONATHAN SEBASTIAN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebelum di era digital mendominasi, permainan tradisional pernah menjadi "pusat hiburan" paling canggih pada zamannya. Permainan tradisional juga muncul sebagai bentuk ekspresi budaya, sarana adaptasi lingkungan, serta alat sosialisasi dan pelatihan fisik yang diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang sejak ratusan tahun lalu. Generasi 90-an dan awal 2000-an tentu ingat betapa meriahnya sore hari tanpa gangguan layar smartphone. Begitu jam menunjukkan pukul empat sore dan terik matahari mulai mereda, suara teriakan teman-teman dari depan rumah menjadi pertanda bahwa petualangan seru siap dimulai. Dahulu, media permainan sangat sederhana. Kita tidak membutuhkan kuota internet, perangkat mahal, atau koneksi Wi-Fi.
Cukup berbekal pekarangan rumah, lapangan RT, atau jalanan kompleks yang sepi, keseruan sudah bisa diciptakan dari bahan-bahan di sekitar kita. Berikut adalah empat permainan legendaris yang pernah mengisi indahnya masa kecil kita:
1. Petak Umpet: Sensasi Menahan Napas di Tempat Tersembunyi.
Permainan petak umpet telah ada sejak abad ke-2 Masehi dan pertama kali dideskripsikan oleh Julius Pollux di Yunani, kemudian menyebar ke berbagai negara dengan nama dan variasi berbeda. Tak ada permainan yang sanggup memicu adrenalin seramai petak umpet. Setelah sesi hompimpa menentukan siapa penjaga "benteng", permainan tradisional di mana satu orang bertugas menjaga dan menghitung sambil menutup mata, semua anak akan berlarian mencari tempat bersembunyi di sekitar area bermain. Momen menahan napas sambil mengintip dari balik pohon, celah selokan, atau belakang jemuran tetangga selalu menghadirkan ketegangan yang seru. Rasa puas tiada tara dirasakan saat berhasil berlari dan menepuk benteng sambil berteriak “Hong (nama teman)” atau “Hong Selamat”.
2. Kelereng (Gundu): Adu Presisi dan Strategi di Atas Tanah.
Permainan kelereng sudah ada sejak ribuan tahun lalu dan berasal dari peradaban Mesir Kuno sekitar tahun 3000 SM. Berbekal kantong plastik berisi bola-bola kaca bening, lapangan tanah langsung disulap jadi arena bertanding dengan membuat lingkaran di atas tanah dengan diameter sekitar 30 sampai 50 sentimeter menggunakan kapur, kayu, atau digores langsung dengan jari/kaki di atas tanah. Bermain kelereng membutuhkan konsentrasi tinggi dan teknik "menyentil" yang pas. Setiap sentilan yang berhasil mengenai kelereng lawan bukan cuma memberikan kepuasan, tapi juga menambah koleksi kelereng di dalam kantong. Kebanggaan tersendiri rasanya jika pulang ke rumah membawa kantong kelereng yang makin berat.
3. Engklek: Uji Keseimbangan dan Keterampilan Lompat.
Engklek adalah permainan tradisional lompat-lompat di atas kotak yang digambar di atas tanah, yang konon berakar dari Romawi Kuno atau Inggris dengan nama hopscotch dan masuk ke Indonesia pada masa kolonial Belanda (dikenal sebagai zondag maandag). Cukup bermodalkan kapur bekas atau pecahan genteng untuk menggambar petak-petak di atas semen, permainan engklek sudah bisa dimulai. Lempar gaco (pecahan genteng), lalu melompatlah dengan satu kaki melintasi setiap kotak tanpa boleh menyentuh garis. Permainan ini melatih keseimbangan tubuh, kelincahan, dan kecermatan. Ada rasa deg-degan saat harus melompati petak milik lawan yang dijadikan "rumah".
4. Congklak: Alunan Nada Bijian dan Strategi Tangan.
Permainan congklak ditemukan di Yordania dan diperkirakan ada sejak tahun 7000 hingga 5000 sebelum masehi, para ahli juga mempercayai bahwa congklak merupakan permainan tertua di dunia. Permainan congklak diyakini berasal dari Timur Tengah atau Afrika yang kemudian menyebar ke kawasan Nusantara melalui jalur perdagangan kuno. Berbeda dengan permainan fisik lainnya, congklak menyajikan ketenangan yang asyik. Berhadapan dengan teman di papan kayu berlubang, jemari kita dengan lihai membagikan biji-biji kerang kecil ke setiap lubang. Suara klotak-klotak dari biji congklak yang jatuh menjadi musik latar yang khas. Di sini, pemain melatih perhitungan dan strategi agar biji di "lumbung" sendiri paling banyak dan tidak mati di lubang yang kosong.
Permainan tradisional bukan cuma soal menghabiskan waktu, tetapi juga tempat kita belajar tentang kehidupan. Kini, riuh rendah suara anak-anak berlarian di lorong kompleks perlahan tergantikan oleh heningnya ruangan bertirai dengan pendar layar gawai. Anak-anak masa kini memang memiliki akses informasi dan hiburan grafis yang jauh lebih canggih, namun ada kehangatan interaksi langsung yang tidak bisa diwakili oleh tombol chat atau multiplayer online.
Mengenang masa-masa bermain tradisional bukan berarti kita menolak kemajuan teknologi. Nostalgia ini adalah pengingat ramah bahwa kebahagiaan sejati sering kali hadir dari kesederhanaan, tatap muka langsung, dan kebersamaan tanpa sekat layar kaca. Permainan tradisional mengajarkan kita tentang kejujuran, arti sportivitas saat kalah, dan indahnya interaksi tatap muka secara langsung.
