Konten dari Pengguna

"Kenapa PPN Jadi Tulang Punggung Pajak Indonesia?"

Jonathan Kirana Siadari

Jonathan Kirana Siadari

Mahasiswa D4 Akuntansi perpajakan Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jonathan Kirana Siadari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Created by Chatgpt
zoom-in-whitePerbesar
Created by Chatgpt

Mendengar kata pajak, banyak orang langsung teringat dengan dengan sistem yang rumit dan sulit dimengerti. Padahal, ada satu jenis pajak yang sebenarnya paling sering kita bayar tanpa kita sadari: Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

Ya, PPN ini nempel di hampir semua transaksi sehari-hari. Beli kopi di kafe, belanja bulanan di supermarket, bahkan langganan aplikasi digital - semuanya kena PPN. Bedanya dengan pajak penghasilan, PPN langsung terasa di dompet kita setiap kali berbelanja.

Lalu, kenapa sih PPN sampai disebut sebagai tulang punggung pajak di Indonesia?

Pertama, cakupannya luas banget. Hampir semua barang dan jasa kena PPN, kecuali yang memang dikecualikan (misalnya sembako tertentu atau layanan kesehatan dasar). Jadi bisa dibilang, setiap orang yang beraktivitas ekonomi pasti ikut berkontribusi.

Kedua, stabil dan rutin. Karena PPN dikutip dari konsumsi masyarakat, penerimaannya relatif stabil, bahkan ketika kondisi ekonomi lagi lesu. Orang mungkin mengurangi belanja besar-besaran, tapi kebutuhan sehari-hari tetap harus jalan, dan di situ PPN tetap masuk.

Ketiga, kontribusinya besar. Data penerimaan pajak menunjukkan PPN menyumbang porsi yang sangat signifikan untuk kas negara. Kalau negara ini ibarat rumah, PPN adalah tiang penyangga yang bikin bangunan nggak roboh.

Namun, tentu saja ada sisi lain. PPN sering dianggap memberatkan masyarakat kecil, karena sifatnya sama rata: kaya atau miskin, kalau beli barang yang kena pajak, tetap harus bayar. Inilah kenapa kebijakan PPN perlu dirancang hati-hati, misalnya dengan pengecualian untuk kebutuhan pokok atau dukungan khusus bagi UMKM.

Intinya, PPN adalah pajak yang paling dekat dengan kita. Mungkin sering bikin struk belanja jadi lebih panjang karena tambahan “10%” di bawahnya, tapi dari situlah negara bisa membiayai jalan, sekolah, subsidi, dan berbagai layanan publik.

Jadi, lain kali saat lihat tulisan PPN di struk belanja, ingatlah: itu bukan sekadar angka tambahan. Itu adalah bentuk gotong royong kita semua dalam menjaga Indonesia tetap berdiri.