Membayar PPN, Membangun Indonesia

Mahasiswa D4 Akuntansi perpajakan Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Jonathan Kirana Siadari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ketika kamu iseng memperhatikan struk belanja di minimarket atau mall pernah ga sih kamu melihat kata "PPN" ?. Memang nominalnya tidak besar, namun bila di akumulasikan dari jutaan transaksi setiap hari, jumlahnya bisa bikin negara punya “dompet” yang cukup tebal.
Jadi PPN atau Pajak Pertambahan Nilai adalah salah satu jenis pajak yang kita bayar setiap kali belanja barang atau jasa. Bedanya dengan pajak lain, PPN ini tidak perlu kita urus sendiri sudah otomatis dipungut oleh penjual dan disetorkan ke kas negara. Jadi tanpa sadar, setiap kali kita ngopi di kafe, beli baju baru, atau pesan barang online, kita sedang ikut menyumbang buat negara.

Nah, uang dari PPN ini bukan sekadar angka di laporan keuangan negara. Ia jadi tulang punggung penerimaan pajak. Dari PPN, pemerintah bisa membangun jalan, memperbaiki sekolah, mendukung layanan kesehatan, bahkan membiayai subsidi yang meringankan masyarakat kecil. Dengan kata lain, ada “jejak PPN” di hampir setiap fasilitas publik yang kita nikmati.
Tentu akan selalu ada yang bertanya, “Kenapa sih rakyat kecil juga kena PPN?”. Perlu kita ketahui, PPN bersifat menyeluruh karena dikenakan di hampir semua barang dan jasa. Tapi di sisi lain, pemerintah juga sudah mengatur pengecualian untuk kebutuhan pokok tertentu agar tidak terlalu membebani masyarakat. Intinya, PPN didesain agar adil sekaligus bisa tetap jadi sumber pemasukan utama negara.
Nah, lain kali saat lihat angka PPN di struk belanja, coba pikirkan begini: uang itu tidak hilang, tapi kembali dalam bentuk jalan mulus, rumah sakit, atau sekolah yang lebih layak. Membayar PPN sama artinya dengan ikut membangun Indonesia, sedikit demi sedikit, dari apa yang kita konsumsi setiap hari.
