Konten dari Pengguna

Optimisme Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Pasca-Reshuffle

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jongen Nugraha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto udara pembangunan proyek LRT Jakarta Fase 1B Rute Velondrome-Rawamangun di kawasan Pramuka, Matraman, Jakarta, Selasa (22/7/2025). Foto: Darryl Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Foto udara pembangunan proyek LRT Jakarta Fase 1B Rute Velondrome-Rawamangun di kawasan Pramuka, Matraman, Jakarta, Selasa (22/7/2025). Foto: Darryl Ramadhan/kumparan

Target ambisius pertumbuhan ekonomi 8 persen pasca-reshuffle perlu ditopang konsistensi kebijakan dan reformasi struktural

Perombakan kabinet (reshuffle) yang dilakukan pemerintah Indonesia pada September 2025 menandai sebuah babak baru dalam arah kebijakan ekonomi nasional. Pergantian mendadak Sri Mulyani Indrawati sebagai Menteri Keuangan yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai figur kredibel di mata investor global dengan ekonom Purbaya Yudhi Sadewa menimbulkan kejutan besar. Pasar modal merespons dengan kehati-hatian; indeks saham sempat melemah, sementara sebagian investor asing menahan diri dalam menyalurkan investasi baru, termasuk aliran Foreign Direct Investment (FDI), sambil mengamati perkembangan lebih lanjut. Di sisi lain, tekanan defisit pada transaksi berjalan mempertegas kerentanan eksternal perekonomian. Meski demikian, muncul optimisme baru: Menteri Keuangan yang baru menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat menembus 8 persen per tahun, sebuah ambisi yang sebelumnya dianggap sulit diwujudkan di tengah ketidakpastian global.

Pernyataan optimistis ini tentu bukan tanpa dasar. Pemerintah meyakini bahwa sinergi antara sektor publik dan swasta dapat menjadi kunci pemulihan cepat. Fokus utama adalah mempercepat investasi, menguatkan daya beli masyarakat, serta memastikan efisiensi kebijakan fiskal tanpa membebani rakyat dengan pajak baru. Jika strategi ini berhasil diterapkan, maka bukan tidak mungkin Indonesia mampu menembus laju pertumbuhan yang lebih tinggi dari rata-rata regional. Apalagi, Indonesia masih menyimpan potensi besar yang belum sepenuhnya tergarap, mulai dari bonus demografi, potensi energi terbarukan, hingga ekonomi digital yang berkembang pesat.

Salah satu pendorong optimisme terbesar adalah bonus demografi. Indonesia saat ini memiliki populasi muda yang besar, di mana mayoritas angkatan kerja berada pada usia produktif. Jika tenaga kerja ini dikelola dengan baik melalui pendidikan, pelatihan, dan penciptaan lapangan kerja, maka akan tercipta peningkatan produktivitas nasional yang signifikan. Bonus demografi hanya datang sekali dalam sejarah bangsa, dan jika gagal dimanfaatkan, justru bisa berbalik menjadi beban sosial. Karena itu, komitmen pemerintah dalam menyiapkan kebijakan ketenagakerjaan, pendidikan vokasi, dan digitalisasi menjadi sangat penting agar potensi ini tidak terbuang sia-sia.

Selain demografi, Indonesia juga memiliki peluang besar dalam sektor investasi hijau dan transformasi digital. Dunia tengah bergerak menuju transisi energi bersih, dan Indonesia dengan kekayaan sumber daya alamnya memiliki posisi strategis dalam memasok kebutuhan energi terbarukan maupun bahan baku penting seperti nikel untuk baterai kendaraan listrik. Komitmen internasional melalui skema Just Energy Transition Partnership (JETP) yang memberikan pendanaan hingga 20 miliar USD dapat menjadi modal penting untuk mendorong bauran energi terbarukan mencapai 34 persen pada 2030. Namun, kenyataannya, pangsa energi terbarukan Indonesia saat ini masih sekitar 12 persen, jauh dari target 23 persen pada 2025. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara target dan realisasi yang perlu segera dijembatani dengan kebijakan yang lebih progresif dan implementasi yang konsisten.

Pada saat yang sama, ekonomi digital Indonesia berkembang pesat. Dengan jumlah pengguna internet yang terus meningkat, pertumbuhan e-commerce, dan munculnya startup teknologi, sektor ini diyakini dapat menjadi salah satu mesin pertumbuhan baru. Apalagi, adopsi kecerdasan buatan, otomasi, dan layanan berbasis data semakin luas, baik di sektor keuangan, transportasi, maupun perdagangan. Jika dikombinasikan dengan investasi asing dan penguatan infrastruktur digital, ekonomi berbasis teknologi dapat meningkatkan produktivitas serta menciptakan lapangan kerja baru, sehingga menjadi faktor penting dalam menopang pertumbuhan menuju 8 persen.

Namun, di balik optimisme tersebut, data terbaru Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) 2025 menunjukkan adanya tantangan besar. Transaksi berjalan masih mencatat defisit signifikan: sebesar –228,2 juta USD pada Triwulan I dan melebar menjadi –3.014,2 juta USD pada Triwulan II. Walau neraca barang tetap surplus—ekspor mencapai 67,9 miliar USD pada Triwulan II dibandingkan impor 57,4 miliar USD—kelemahan masih tampak di sektor jasa dan pendapatan primer. Defisit jasa mencapai –5,5 miliar USD pada Triwulan II, sedangkan pendapatan primer juga mencatat defisit besar –9,8 miliar USD. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketergantungan pada impor jasa dan repatriasi keuntungan investasi asing masih menekan kinerja eksternal Indonesia.

Situasi ini diperparah dengan tren melemahnya Foreign Direct Investment (FDI). Berdasarkan data tradingeconomics.com yang bersumber pada BKPM menunjukkan bahwa arus masuk FDI menurun dari Rp245,8 triliun pada Triwulan IV 2024, menjadi Rp230,4 triliun pada Triwulan I 2025, dan kembali turun menjadi hanya Rp202,2 triliun pada Triwulan II 2025. Penurunan beruntun ini mengindikasikan adanya keraguan investor terhadap iklim investasi nasional pasca gejolak politik dan reshuffle kabinet. Padahal, FDI merupakan salah satu instrumen penting untuk menutup defisit transaksi berjalan sekaligus mendukung pembangunan sektor riil. Jika tren ini tidak segera diatasi, maka akan semakin sulit bagi Indonesia untuk mencapai target pertumbuhan tinggi secara berkelanjutan.

Angka-angka tersebut memberikan catatan penting: ambisi pertumbuhan 8 persen tidak bisa hanya bertumpu pada optimisme politik, tetapi harus disertai upaya serius memperkuat fondasi ekonomi riil. Defisit transaksi berjalan mencerminkan masih rapuhnya daya saing struktural. Untuk itu, diversifikasi ekonomi menjadi keharusan. Indonesia perlu mempercepat industrialisasi berbasis nilai tambah, bukan hanya mengekspor bahan mentah. Sektor manufaktur, ekonomi kreatif, serta industri berbasis teknologi tinggi dapat menjadi jawaban.

Selain itu, defisit jasa dan pendapatan primer menegaskan perlunya reformasi lebih lanjut. Indonesia harus meningkatkan kapasitas jasa domestik, termasuk logistik, transportasi, dan pariwisata agar tidak terus bergantung pada jasa asing. Di sisi lain, strategi mendorong investasi asing harus disertai kebijakan local content dan transfer teknologi agar tidak hanya menghasilkan repatriasi keuntungan ke luar negeri, tetapi juga meningkatkan kapasitas ekonomi domestik.

Meski jalan yang ditempuh penuh tantangan, optimisme pasca-reshuffle tetap penting untuk menjaga semangat pemulihan. Target pertumbuhan 8 persen mungkin ambisius, tetapi bukan mustahil jika pemerintah mampu menunjukkan roadmap yang jelas, menjaga kredibilitas fiskal, dan melakukan reformasi struktural. Pertumbuhan juga harus dipastikan inklusif, yakni mengurangi kemiskinan, memperluas lapangan kerja layak, dan menekan kesenjangan sosial.

Pada akhirnya, reshuffle kabinet yang semula menimbulkan kegelisahan justru dapat menjadi momentum lahirnya fase baru perekonomian Indonesia. Data Neraca Pembayaran dan tren FDI menunjukkan tantangan riil yang harus dihadapi, tetapi sekaligus menjadi pengingat agar kebijakan tidak sekadar berorientasi pada pertumbuhan jangka pendek. Jika pemerintah berhasil mengatasi defisit struktural, memperkuat arus investasi asing, mempercepat transisi energi, serta mengoptimalkan bonus demografi, maka optimisme 8 persen pertumbuhan bukan sekadar retorika. Reshuffle ini bisa menjadi titik balik yang membawa Indonesia lebih tangguh, inklusif, dan kompetitif di kancah global.