Konten dari Pengguna
Oat Milk di Kedai Kopi: Beneran Pilihan Sehat atau Sekadar Simbol Status?
2 Desember 2025 21:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Oat Milk di Kedai Kopi: Beneran Pilihan Sehat atau Sekadar Simbol Status?
Oat milk kini tren di kafe. Benarkah kita memilih susu nabati karena sehat dan lingkungan, atau cuma ingin terlihat keren dan mampu membayar harga premi? Kupas dilema tren oat milk vs. status sosial.Jose Alvaro Lee
Tulisan dari Jose Alvaro Lee tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Beberapa tahun belakangan, saat memesan latte atau cappuccino di kedai kopi modern, kita hampir selalu ditanya: "Mau pakai susu sapi atau oat milk?" Pilihan susu nabati (khususnya oat milk) tiba-tiba menjadi standar baru, menggantikan susu kedelai atau almond.
ADVERTISEMENT
Di media sosial, influencer gaya hidup sehat bangga menampilkan segelas kopi dengan oat milk sebagai bagian dari rutinitas pagi mereka. Tapi pertanyaan yang menarik untuk kita renungkan: apakah semua orang beralih ke oat milk karena alasan kesehatan dan lingkungan yang tulus? Ataukah sebagian dari kita hanya ikut-ikutan tren demi terlihat up-to-date dan mampu membayar harga yang lebih mahal?
Oat Milk dan Kekuatan Narasi 'Lebih Baik'
Oat milk berhasil menempati posisi puncak di antara susu nabati lainnya karena didukung oleh narasi yang kuat. Pertama, narasi lingkungan: produksi oat milk diklaim menghasilkan emisi karbon lebih rendah dibanding susu sapi. Kedua, narasi kesehatan: sering dipromosikan sebagai pilihan yang lebih baik bagi yang memiliki intoleransi laktosa atau ingin mengurangi konsumsi produk hewani.
ADVERTISEMENT
Kombinasi narasi ini membuat oat milk bukan sekadar bahan minuman, melainkan sebuah pernyataan gaya hidup. Dengan memilih oat milk, seseorang seolah mendeklarasikan: Saya peduli pada lingkungan, saya menjaga kesehatan, dan saya mengikuti tren kuliner terkini. Nilai image ini sangat mahal di tengah masyarakat perkotaan.
Dilema Harga: Pilihan Sehat atau Pilihan Elitis?
Kalau kita jujur, oat milk di kedai kopi hampir selalu dibanderol dengan harga tambahan (sekitar Rp 5.000 hingga Rp 10.000 lebih mahal) dibandingkan susu sapi. Bagi sebagian besar konsumen, ini adalah biaya premi yang cukup signifikan.
Hal ini menimbulkan dilema yang menarik: Apakah memilih oat milk benar-benar didorong oleh keyakinan pada manfaatnya, ataukah ada faktor kemampuan beli yang ikut bermain? Bagi sebagian orang, kemampuan membayar biaya tambahan ini adalah simbol status—bahwa mereka mampu membeli gaya hidup yang dianggap lebih 'bersih' dan 'premium'.
ADVERTISEMENT
Bagi banyak orang, memesan oat milk bukan lagi soal selera atau kebutuhan laktosa, melainkan soal status: terlihat keren, terlihat mampu, atau terlihat 'sudah pindah level' dari pilihan susu biasa. Status sosial yang melekat pada label harga premi ini seringkali lebih menarik daripada kandungan seratnya.
FOMO dan Tekanan Sosial dalam Secangkir Kopi
Fenomena oat milk adalah cerminan klasik dari budaya FOMO (Fear of Missing Out) dan tekanan sosial di lingkungan pertemanan.
Saat berkumpul di kedai kopi, jika semua teman memesan kopi dengan oat milk dan mendiskusikan manfaatnya, memesan susu sapi biasa bisa terasa seperti ketinggalan zaman atau bahkan dianggap 'kurang peduli' pada isu lingkungan. Kita seringkali terpaksa memilihnya bukan karena lidah kita suka (rasa oat milk yang nutty dan lebih tipis mungkin tidak disukai semua orang), melainkan karena takut merasa terasingkan.
ADVERTISEMENT
Oat milk telah bertransformasi menjadi semacam simbol konformitas di kalangan urbanites muda. Dengan segelas oat milk latte di tangan, seseorang merasa otomatis terhubung dengan inner circle yang dianggap progresif, health-conscious, dan up-to-date.
'Sehat' yang Sebenarnya
Sama seperti matcha, kita harus melihat oat milk dengan kritis. Oat milk memang punya beberapa keunggulan. Namun, apakah benar-benar pilihan yang jauh lebih sehat?
Banyak oat milk komersial yang dijual sudah ditambahkan minyak (seperti minyak kanola atau bunga matahari) dan pemanis untuk meningkatkan tekstur dan rasa. Alih-alih mendapatkan minuman super sehat, kita mungkin hanya mendapatkan segelas kopi yang lebih mahal dengan kalori dan lemak tambahan yang sama tingginya.
Intinya, alasan kesehatan seringkali menjadi pembenaran untuk mengikuti tren yang berharga mahal. Dengan label 'nabati' dan 'rendah emisi', kita merasa tidak bersalah saat mengikuti arus konsumsi baru ini.
ADVERTISEMENT
Memilih Oat Milk: Gaya Hidup Pribadi atau Properti Foto?
Di era digital, minuman adalah tentang bagaimana ia terlihat di kamera. Susu plant-based berhasil menjadi bintang karena narasi yang mengiringinya. Foto segelas kopi dengan oat milk bukan hanya memamerkan minuman, tetapi juga memamerkan nilai (peduli lingkungan, sehat) yang dianut si peminum.
Sayangnya, tak jarang oat milk hanya berfungsi sebagai properti foto di kafe. Dipilih karena status dan difoto untuk diunggah, padahal mungkin si peminum lebih menyukai rasa latte dengan susu sapi biasa.
Pilihan Pribadi, Bukan Tekanan Status
Pada akhirnya, keputusan untuk memilih oat milk harus kembali pada diri kita sendiri. Tidak salah kalau memang Anda menyukai rasanya, punya intoleransi laktosa, atau sungguh-sungguh ingin mengurangi jejak karbon. Nikmatilah.
ADVERTISEMENT
Tapi tidak perlu memaksakan diri memesan yang lebih mahal dan tidak disukai hanya karena takut terlihat berbeda, takut ketinggalan, atau ingin pamer status sosial. Tren akan selalu berganti. Hari ini oat milk, besok mungkin susu biji rami.
Jika kita terus membeli hanya karena FOMO, kita akan terus dikejar arus tren. Pilihan gaya hidup yang paling otentik adalah yang benar-benar kita nikmati, dan itu adalah sesuatu yang bisa kita pilih dengan tenang—tanpa tekanan status di media sosial.

