Dopamine Detox: Kendalikan Dirimu Dari Segala Kecanduan

Mahasiswa Psikologi - Universitas Brawijaya
Konten dari Pengguna
23 November 2022 21:22
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Jose Rizal Rizky Yuliaris tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Menurut (What does dopamine mean? | Nature Neuroscience, t.t.) Dopamine merupakan hormon kebahagiaan, berupa zat kimia di dalam otak yang memiliki peran besar dalam memengaruhi emosi, rasa senang hingga rasa sakit yang bisa dirasakan seseorang. Kadar Dopamine dapat meningkat saat seseorang mengalami sensasi yang menyenangkan. Sehingga dopamin bisa memicu seseorang mengulangi lagi hal yang dia lakukan untuk mendapatkan kesenangan yang sama hingga kecanduan. Contohnya seperti meminum minuman berkafein, bermain game, mengakses media sosial, berolahraga, bernyanyi hingga berdansa.
ADVERTISEMENT
Jika kadar Dopamine menurun, saraf otak tidak mampu bekerja dengan efektif dalam mengirimkan sinyal. Sehingga aktivitas otak menjadi terganggu dalam mengatur berbagai fungsi kognitif dan motorik tubuh. Kekurangan atau kelebihan dopamin bisa menyebabkan gangguan kesehatan. Kekurangan dopamine dapat menyebabkan berkurangnya keseimbangan motorik, konstipasi, kesulitan mencerna makanan, tidak bertenaga, tidak bergairah, cemas, tidak fokus, dan gejala depresi. Sedangkan kelebihan kadar dopamine dapat menyebabkan perasaan mudah gelisah, kecemasan, susah tidur, mania, stres, energi berlebih, halusinasi, mual dan muntah dan depresi.
DOPAMINE DETOX:
Menurut (Effects of alcohol detoxification ons dopamine D2 receptors in alcoholics: a preliminary studi – ScienceDirect, t.t.). Detoksifikasi atau Detox dalam bahasa medis, dilakukan untuk membersihkan tubuh dari hal-hal yang memiliki sifat racun dan mengganggu kesehatan.
ADVERTISEMENT
Sehingga Dopamine Detox dapat diartikan suatu cara untuk membersihkan diri dari kelebihan Dopamine, dengan tujuan untuk mereset sistem otak, agar otak tidak bergantung dengan hal-hal yang menyebabkan candu.
Tujuan dari Dopamine Detox adalah mengurangi kecanduan dengan mengubah kebiasaan buruk, agar menjadi lebih produktif. Pada dasarnya, dopamine tidak dapat dihilangkan dari tubuh. Tetapi, kita dapat mengontrol kadar dopamine dengan cara menghentikan sejenak hiburan tidak sehat yang memiliki dopamine dengan kadar tinggi.
Kadar dopamine yang terlalu tinggi dapat mengurangi konsentrasi sehingga kita kehilangan fokus. Selain itu, kita menjadi lebih malas untuk melakukan kegiatan lain yang lebih berat karena hanya menghasilkan dopamine yang lebih sedikit, atau kurang menyenangkan.
Sebagai contoh, mana yang akan kalian pilih? Berolahraga atau bermain game? Bagi sebagian orang, bermain game akan menjadi pilihan yang lebih menggiurkan dibandingkan dengan olahraga.
Makan merupakan salah satu faktor yang dapat mengaktifkan dopamine. Foto: Dokumen Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Makan merupakan salah satu faktor yang dapat mengaktifkan dopamine. Foto: Dokumen Pribadi
Makan salad buah atau burger? Rata-rata orang akan menganggap burger lebih menggiurkan. Kegiatan yang kalian anggap menyenangkan, akan memicu kalian untuk mengulanginya lagi dan lagi. Masalahnya adalah ketika yang sangat kalian sukai adalah hal-hal yang kurang sehat dan tidak bermanfaat.
ADVERTISEMENT
Sementara makin lama kalian makin menikmatinya, kalian akan terus menambah durasi kegiatan tersebut. Hingga kalian sudah tidak dapat mengontrol diri dan kecanduan. Dengan melakukan dopamine detox, kita secara sadar mengontrol diri agar dapat menghentikan aktivitas negatif yang menyebabkan candu dan mengganti menjadi aktivitas yang lebih positif.
SIAPA YANG MEMBUTUHKAN DOPAMINE DETOX?
Orang yang membutuhkan dopamine detox adalah orang orang yang memiliki kecanduan mencari kesenangan dari hal negatif seperti makan berlebihan, menggunakan media sosial, memainkan game, berbelanja daring, minum alkohol atau menonton video dewasa. Beberapa dari kegiatan tersebut memang terlihat tidak negatif. Apa yang salah dengan makan enak, atau menggunakan media sosial? Namun jika dilakukan secara berlebihan, hal tersebut akan merusak tubuh, mengganggu konsentrasi dan menghabiskan waktu kita yang berharga.
ADVERTISEMENT
Masalah utamanya, berbagai bisnis dan perusahaan berusaha mengembangkan produk-produk dan berbagai aplikasi, yang dapat memicu kadar dopamine tinggi pada penggunanya serta membuat mereka menjadi kecanduan. Inilah salah satu alasan mengapa media sosial akan menyuguhkan feed berdasarkan algoritma yang sesuai minat kita sehingga kita akan makin lama menggunakannya. Mereka akan menyajikan rekomendasi berdasarkan apa yang kita cari, kita klik, kita sukai atau kita komentari. Mereka paham bahwa apa pun yang menjadi perhatian kita, akan membuat kita kembali menggunakannya.
Hal-hal yang viral dan disukai banyak orang juga akan terus muncul sebagai rekomendasi dan membuat pengguna media sosial mengikuti versi lain, atau bahkan ingin menikmati ke-viral-an dengan me-recreate postingan tersebut. Begitu juga dengan bermain game. Akan selalu ada level baru untuk ditaklukkan, tantangan baru untuk diselesaikan, musuh baru, persenjataan baru dan terus ada pembaruan game agar selalu ada sensasi baru bagi penggunanya.
ADVERTISEMENT
Dan semua pemicu dopamine tinggi tersebut dapat kita peroleh tanpa banyak usaha atau tenaga. Bagaimana dengan kalian? Berapa banyak waktu yang kalian habiskan di depan layar smartphone kalian? Berapa banyak aktivitas penting yang kalian lewatkan karena kecanduan media sosial?
MEMULAI DOPAMINE DETOX
Saat ingin mulai melakukan dopamine detox, seseorang harus menghindari hal-hal yang memicu dopamin dalam jangka waktu tertentu. Namun, sesungguhnya dalam medis, manusia tidak akan pernah bisa benar-benar melakukan detoksifikasi dopamin. Hal ini disebabkan tubuh manusia secara alami memproduksi dopamin bahkan ketika tidak terkena rangsangan tertentu.
Sedangkan kekurangan dopamine juga berbahaya bagi kesehatan mental. Sehingga istilah dopamine detox, sesungguhnya tidak benar-benar bertujuan untuk mengurangi dopamine, namun lebih mengarahkan agar dopamine dapat dihasilkan dengan cara yang lebih sehat, bermanfaat, tidak merusak kesehatan, tidak mengganggu produktivitas serta tidak membuat kita menjadi malas.
ADVERTISEMENT
Hal-hal yang perlu kalian lakukan saat ingin melakukan Dopamine Detox:
1. Buatlah jadwal kegiatan sehari-hari
Rencana kegiatan harian dengan alokasi waktu yang tepat akan membuat kalian menjadi lebih teratur dan mulai dapat menyelesaikan hal-hal penting yang selama ini kalian hindari dan abaikan.
2. Isi waktu luang dengan aktivitas yang bermanfaat
seperti membaca buku, meditasi, berolahraga atau hobi yang selama ini kalian tinggalkan. Kalian juga bisa menghubungi teman untuk sekadar bersosialisasi.
3. Buatlah halangan untuk aktivitas yang membuat kecanduan
Misalnya kalian sangat senang menggunakan media sosial. Maka sembunyikan aplikasi media sosial dalam folder yang susah kalian lihat ketika kalian membuka handphone. Hal ini menjadi pengingat bahwa kamu tidak boleh mengangkses untuk sementara waktu. Bila tidak berhasil, maka kamu bisa lakukan uninstall program atau aplikasi tersebut.
ADVERTISEMENT
4. Buat batasan
Kamu bisa membuat batasan yang wajar untuk aktivitas yang memang tidak negatif. seperti makan enak, bermain media sosial atau bermain game. Namun buat batasan yang jelas dan patuhi batasan yang telah kamu buat sendiri.
Waktu tidak akan pernah kembali. Apa yang kita lakukan hari ini adalah penentuan apa yang akan menjadi masa depan kita. Dan kita memiliki kendali penuh untuk membuat hari ini dan hari besok lebih bermakna. Banyak hal yang bisa membuat kita bahagia, namun tidak perlu dengan merusak tubuh kita apalagi merusak masa depan kita. “Hidup itu seperti koin. Kamu bisa menghabiskannya sesukamu, tetapi kamu hanya bisa menggunakannya sekali.” Lillian Dickson
Referensi:
Effects of alcohol detoxification on dopamine D2 receptors in alcoholics: A preliminary study—ScienceDirect. (t.t.). Diambil 10 November 2022, dari https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0925492702000872
ADVERTISEMENT
What does dopamine mean? | Nature Neuroscience. (t.t.). Diambil 10 November 2022, dari https://www.nature.com/articles/s41593-018-0152-y
https://www.youtube.com/watch?v=wp4ba0yX-bs
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·