Pengalaman di SIAL InterFOOD 2025: Dari Antrean Panjang sampai Matcha 50 Juta

Siswa Penabur Junior College Kelapa Gading
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Josephine Keisya Mahadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Awal Mula: Mantan Picky Eater Coba Keluar dari Zona Nyaman
Sebagai seseorang yang sejak kecil terkenal super picky soal makanan, ajakan untuk mencoba kuliner baru biasanya membuat saya waspada. Bukan karena saya anti eksplorasi, tapi karena takut kecewa. Kenangan masa kecil terhadap makanan “yang kelihatannya enak tapi rasanya mengecewakan” masih terbawa sampai sekarang. Jadi ketika teman saya mengajak pergi ke sebuah food expo, reaksi pertama saya tentu saja menolak. Namun setelah dibujuk berkali-kali, saya akhirnya luluh dan berpikir: sekali-kali mencoba hal baru, kenapa tidak?
Harga Tiket Fantastis dan Antrean Panjang yang Mencabut Kesabaran
Kami memilih pergi ke SIAL InterFOOD 2025, salah satu pameran makanan terbesar di Indonesia. Karena registrasi mendadak, harga tiketnya lumayan berat di dompet—Rp200.000 per orang. Artinya, baru masuk saja kami sudah keluar Rp400.000. Bagi anak SMA, itu angka yang membuat mental sedikit goyah. Tapi ya sudah lah, terlanjur sampai.
Sesampainya di venue, kami disambut antrean yang… luar biasa panjang. Kami harus menunggu sekitar satu jam untuk masuk. Pengunjungnya sangat beragam: anak muda dengan kamera besar, keluarga dengan stroller, konten kreator, dan pecinta kuliner dari berbagai daerah. Meski capek, suasana heboh itu sedikit menghapus rasa kesal.
Booth Pertama: Es Krim Matcha yang Rasanya Surgawi
Begitu berhasil masuk, booth pertama yang membuat kami terpikat adalah booth matcha. Warnanya yang hijau mencolok langsung menarik perhatian. Setelah menimbang sedikit, saya memutuskan mencoba sampel es krim matcha mereka.
Dan wow—rasanya luar biasa.
Tidak berlebihan, tapi ini benar-benar es krim matcha terenak yang pernah saya coba seumur hidup. Creamy, lembut, pekat, tapi tidak pahit. Rasanya realistic dan high-quality, bukan seperti es krim matcha yang sering terasa artifisial.
Saking enaknya, saya sempat bengong beberapa detik. Sampai sekarang saya masih menyesal tidak balik untuk ambil sampel kedua.
Camilan Lain: Sponge cake Lumayan, Es Krim Kelapa Menyesatkan
Setelah pengalaman “keluar dari tubuh” tadi, teman saya mengambil sampel sponge cake. Teksturnya lembut, rasanya oke, walau tidak bikin terkejut seperti matcha sebelumnya.
Tak lama setelah itu, teman saya membeli coconut oil, dan kami mendapat bonus es krim kelapa. Rasanya enak—ringan, creamy, dan segar. Tapi jujur, saya agak menyesal memakannya karena setelah berjalan lebih jauh, ternyata banyak sekali booth yang menawarkan sampel es krim unik lainnya. Namun perut saya sudah penuh dengan es krim kelapa tadi.
Area Jepang: Kekecewaan Takoyaki Dingin
Kami lanjut ke bagian makanan Jepang dan mendapatkan sampel takoyaki. Sayangnya, takoyakinya dingin dan rasanya kurang autentik. Tidak ada rasa gurih khas dashi atau tekstur chewy yang biasanya saya harapkan. Kami pun memutuskan untuk skip saja.
Momen Terlucu: Salah Masuk Booth Matcha Grosir
Beberapa langkah kemudian, kami menemukan booth matcha lain. Tanpa pikir panjang, kami mendekat dan bertanya, “Kak, berapa harga matcha-nya?”
Pegawainya menjawab dengan tenang:
“Untuk kualitas terbaik, 50 juta per kilogram.”
Kami langsung terdiam. Saya dan teman saya saling menatap seperti baru mendengar harga rumah.
Kami mencoba bertanya lagi, “Kalau yang paling murah berapa?”
Dia menjawab, “5 juta per kilogram.”
Rasanya seperti kena jumpscare.
Lalu pegawainya bertanya, “Kalian pemilik kafe, ya?”
Dengan polosnya, kami menjawab, “…Kami anak SMA.”
Yang membuat semuanya lebih lucu, pegawai itu berbicara dalam bahasa Inggris sejak awal karena mengira kami turis. Dia bahkan sempat bertanya, “Where are you from?” dan kami saling pandang sebelum menjawab pelan, “We’re from Indonesia.”
Setelah adegan komedi situasional itu, pegawainya akhirnya menawarkan cup matcha biasa, dan kami membeli. Rasanya enak dan untungnya tidak seharga motor.
Kesimpulan: Capek, Lucu, Mahal, Tapi Worth It
Kalau ditanya apakah pengalaman ke SIAL InterFOOD 2025 ini sepadan dengan antrean panjang dan harga tiket yang bikin hati deg-degan?
Jawabannya: iya, cukup worth it.
Selain bisa mencicipi berbagai makanan baru, suasananya seru, ramai, dan cocok banget untuk hangout bareng teman. Satu tips penting: siapkan stamina dan kesabaran karena antreannya bisa mencapai 1–1,5 jam.
Buat kamu yang suka kuliner, butuh konten, atau sekadar ingin merasakan pengalaman baru, event ini wajib masuk daftar kunjunganmu tahun depan!
