Konten dari Pengguna

Si Ambis, Benarkah Seseorang yang Tidak Asyik?

Josephine Samantha Kurniawan

Josephine Samantha Kurniawan

Mass Communication student in Binus University

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Josephine Samantha Kurniawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pelajar. Unsplash.com.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pelajar. Unsplash.com.

“Kamu tuh ambis banget sih. Santai sedikit dong!”

Kala menjadi seorang pengejar ilmu, baik dalam lingkungan sekolah maupun perguruan tinggi, tidak jarang julukan ‘Ambis’ terdengar di kalangan pelajar. Julukan ini identik dengan seseorang yang mengejar prestasi akademik tinggi, mulai dari belajar ketika waktu istirahat tiba, hingga mengumpulkan tugas sekolah yang tenggat waktu belum dekat.

Uniknya, satu kata ini dapat dimaknai dalam konteks positif maupun negatif. Bekerja keras untuk mencapai tujuan tentu baik, namun seseorang yang diberi gelar ambis oleh sekelilingnya kerap dipandang tidak santai atau tidak gaul. Si Ambis sering dipandang sebagai seseorang yang aneh dan berbeda, bahkan dikucilkan pula dari lingkungan sosialnya. Namun, bagaimana sih pandangan negatif ini bisa muncul?

ASAL-USUL STIGMA TERHADAP SI AMBIS

Apabila disuruh memilih antara libur dan sekolah, mayoritas pelajar pasti lebih memilih untuk libur dan istirahat. Begitu pula dengan stigma terhadap si Ambis. Keberadaan stigma ini didorong oleh adanya ketidaksukaan pelajar dalam kewajibannya menuntut ilmu. Belajar dan mengerjakan tugas dipersepsikan sebagai hukuman bagi mayoritas pelajar, sehingga satu-satunya jalan keluar adalah melakukan hal lain selain belajar. Maka ketika melihat si Ambis yang terus belajar ketika usai sekolah, mayoritas pelajar melihat si Ambis seperti sedang menyiksa dirinya sendiri. Ucapan seperti 'Kamu jangan ambis banget, nggak baik tau' pun akrab didengar telinga.

Hal ini dapat menciptakan rasa enggan terlihat rajin bagi seseorang yang memiliki ambisi dalam mencapai target tertentu agar tak dicap sebagai 'anak ambis'. Selain karena tidak ingin dikucilkan atau dianggap berbeda, pelajar pun juga tak ingin dipandang sebagai seorang yang kurang pergaulan.

Akan tetapi, bagaimana dengan keberadaan stigma tersebut? Apakah benar seseorang yang memiliki ambisi selalu merupakan orang yang serius dan tak asyik? Yuk, kita lihat dalam perspektif seorang ‘ambis’ itu sendiri!

MEMAKNAI KEHIDUPAN DALAM KACAMATA SI AMBIS

Ilustrasi pelajar dengan buku menggunung. Unsplash.com.

Mungkin sebagian dari kita terheran-heran mengapa si Ambis bersedia untuk bersusah payah menyicil tugas yang baru saja diberikan dan berpendapat bahwa lebih baik bersantai sedikit daripada berusaha mengejar target tertentu. Namun, apabila kita coba melihat dari perspektif si Ambis, mungkin saja mereka pun terheran-heran dengan orang yang lebih ‘santai’ dalam menghadapi studinya. Bagaimana bisa seorang pelajar yang seharusnya belajar tekun malah bermain setiap hari ketika sebentar lagi ujian tiba?

Ragamnya perspektif dari para pelajar ini tanpa kita sadari dapat diulik dari salah satu filosofi kehidupan, yaitu perspektif eksistensialis oleh filsuf Søren Kierkegaard yang telah mendunia dan memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan pandangan hakikat manusia. Ketika manusia (tak terkecuali usia dan gendernya) berani membuat keputusan dalam kehidupannya sendiri, manusia dapat dikatakan bereksistensi dan memiliki makna hidup. Kemampuan ini dimiliki manusia karena setiap manusia memiliki kebebasan.

Berdasarkan buku berjudul Philosophy: A Text with Readings, kebebasan manusia dalam menentukan pilihan dan arti hidup diyakini Søren Kierkegaard sebagai tanda manusia hidup dan bereksistensi. Pendek kata, tiap individu memiliki kesadaran penuh akan hidupnya dan bebas menentukan pilihan hidup sesuai dengan keyakinan dalam dirinya agar menciptakan makna hidup yang berarti (Velasquez, 2017).

Oleh karena itu, baik siswa-siswi maupun mahasiswa-mahasiswi, semua memiliki suatu kebebasan untuk memaknai hidupnya. Pun, tak terkecuali si Ambis. Dalam kacamata si Ambis, ia akan mencapai kepuasaan hidup apabila ia meraih prestasi setinggi-tingginya. Seorang Ambis menganggap hidupnya akan lebih bermakna apabila dirinya memaksimalkan potensi dalam pembelajaran dan mengukir prestasi.

Sekedar mendapatkan nilai 90 dan bukan 100 dapat diartikannya sebagai salah satu kegagalan dalam hidup. Si Ambis telah membuat standar studinya yang harus dia lampaui. Apabila dirinya bertindak melenceng dari standar tersebut, makna dalam hidupnya dapat berkurang. Ia dapat menganggap dirinya orang yang gagal dan kurang bekerja keras.

BAGAIMANA KEBENARAN STIGMA NEGATIF TERHADAP SI AMBIS?

Ilustrasi berpikir. Unsplash.com

Seringkali stigma negatif ini muncul karena anggapan bahwa si Ambis sedang menyiksa diri sendiri. Padahal, sama seperti pelajar lain yang menghadiri konser untuk merekam momen bermakna dalam hidup, si Ambis juga sedang memaknai hidupnya sendiri lho.

Daripada dikatakan tidak asyik, lebih tepat dikatakan bahwa prioritas si Ambis berbeda. Waktu yang dikeluarkannya untuk bermain tidaklah sebanyak pelajar lainnya, sehingga menimbulkan kesan bahwa mereka orang yang sangat serius atau tidak asyik. Padahal, tidak jarang lho terdapat orang dengan giat belajar yang tinggi tapi juga eksis seperti Jerome Polin yang menerima beasiswa full di Jepang dan tetap terlihat fun dengan konten-konten YouTubenya yang unik dan lucu.

Pun begitu pula dengan salah satu sahabat saya. Dia kerap kali membuat saya terkesima dengan kecintaannya pada belajar dan menganggap belajar itu seru. Piala menggunung di rumahnya, namun tak jarang kami menghabiskan waktu bersama untuk membahas hal-hal absurd dan konyol.

Tiap manusia memiliki kebebasan dalam mengartikan makna hidup dan makna hidup yang dimiliki tiap manusia tak selalu sama. Perlu diingat kembali bahwa tak setiap individu memiliki pemahaman yang sama dalam memandang prestasi sebagai pelajar. Tolak ukur makna hidup pada setiap pelajar itu berbeda, sehingga ada pula pelajar yang merasa hidupnya lebih bermakna apabila prestasi akademik dikejar dengan bersungguh-sungguh.

Maka, menyederhanakan seseorang yang giat belajar dan berprestasi sebagai tak asyik bukanlah suatu hal yang bijaksana. Nyatanya, keputusan si Ambis yang belajar tekun tidaklah untuk menyiksa dirinya sendiri atau tertekan oleh paksaan. Keputusannya untuk mengukir prestasi setinggi-tingginya adalah untuk menjauhkan dirinya dari hal-hal yang membuat hidupnya kurang bermakna.

Sebaliknya, mengecap siswa-siswi yang terlihat lebih santai dalam lingkungan pembelajaran sebagai tak akan lebih sukses dari si Ambis pun juga merupakan tindakan yang tak dapat dibenarkan. Mungkin saja anak yang lebih santai memiliki prinsip hidup lain yang lebih diutamakan dari mengejar prestasi. Ambil contoh Bill Gates, peringkat keempat dalam orang terkaya di dunia yang drop out dari Harvard untuk menekuni Microsoft. Apabila kita pikirkan secara logika, mungkin keputusan Bill Gates terasa gila. Namun faktanya keputusan gilanya ini lah yang membawanya menjadi dirinya sekarang.

Tak ada kata benar atau salah dan baik atau buruk dalam pilihan hidup manusia, sebab tiap manusia memiliki kebebasan untuk memaknai hidupnya dan membuat tiap individu unik dan autentik. Justru, seseorang yang memiliki makna hidup kuat adalah orang yang hebat, sebab memiliki keberanian dan tekad untuk mencapai makna hidupnya sendiri. Maka baik si Ambis maupun si ‘santai’, tak ada yang lebih baik ataupun buruk.

So, apabila kalian memiliki prinsip kehidupan kuat baik dalam akademis atau bidang tertentu, mungkin saja tanpa kalian sadari kalian pun memiliki julukan si Ambis dalam bidang yang kalian tekuni, lho!