Menguatkan Budaya Menjenguk di Indonesia Lewat Kebiasaan Cuci Tangan

Saya adalah seorang mahasiswa ilmu keperawatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang suka berbagi informasi sesuai dengan bidang ilmu yang saya pelajari.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Joshua Okta Ramadhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menjenguk orang sakit sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia. Kehadiran keluarga, teman, atau kerabat sering dianggap sebagai bentuk dukungan moral yang dapat membantu mempercepat proses penyembuhan pasien. Tidak jarang, dalam satu waktu, seorang pasien bisa dijenguk oleh banyak orang sekaligus.
Namun di balik niat baik tersebut, ada satu hal yang sering luput dari perhatian: potensi risiko penularan infeksi di lingkungan rumah sakit.
Infeksi nosokomial, atau yang dikenal sebagai healthcare associated infections (HAIs), merupakan infeksi yang terjadi akibat paparan mikroorganisme selama berada di fasilitas pelayanan kesehatan. Sumbernya tidak hanya berasal dari tenaga kesehatan atau alat medis, tetapi juga bisa datang dari pasien lain maupun pengunjung (Pandeiroot et al., 2020).
Artinya, siapa pun yang datang menjenguk memiliki kemungkinan untuk membawa dan menyebarkan mikroorganisme termasuk kita sendiri.
Tanpa disadari, aktivitas sederhana seperti menyentuh pasien, berjabat tangan, atau merapikan tempat tidur dapat menjadi media perpindahan kuman. Tangan menjadi salah satu jalur utama penularan bakteri di rumah sakit (Agustiningsih et al., 2025). Sayangnya, masih banyak pengunjung yang langsung berinteraksi tanpa terlebih dahulu membersihkan tangan.
Di sinilah pentingnya kebiasaan cuci tangan.
Cuci tangan bukan sekadar rutinitas, tetapi merupakan langkah paling sederhana dan efektif dalam mencegah penyebaran infeksi. Bahkan, praktik ini bisa menjadi “perlindungan pertama” bagi pasien yang kondisi imunitasnya sedang menurun. Menurut Suzarli et al. (2025), cuci tangan dengan teknik yang tepat terutama menggunakan metode enam langkah dengan handrub mampu menurunkan jumlah kuman secara signifikan. Enam langkah tersebut meliputi menggosok telapak tangan, punggung tangan, sela-sela jari, punggung jari, ibu jari, hingga ujung jari dan kuku. Seluruh proses ini hanya memerlukan waktu sekitar 20–30 detik, namun dampaknya sangat besar dalam memutus rantai penularan infeksi.
Sayangnya, masih banyak pengunjung yang belum memahami cara tersebut maupun pentingnya melakukannya sebelum dan sesudah menjenguk pasien. Kurangnya pengetahuan ini berdampak pada rendahnya kepatuhan, sehingga risiko infeksi nosokomial menjadi semakin tinggi.
Karena itu, edukasi kesehatan menjadi langkah yang sangat penting. Pemberian informasi melalui penjelasan sederhana, demonstrasi, media visual, hingga praktik langsung terbukti dapat meningkatkan pemahaman pengunjung tentang pentingnya cuci tangan (Suzarli et al., 2025). Ketika seseorang memahami alasan di balik suatu tindakan, ia cenderung lebih mudah untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks ini, perawat memiliki peran yang sangat strategis. Tidak hanya sebagai pemberi pelayanan, perawat juga berfungsi sebagai edukator dan role model dalam penerapan pencegahan infeksi di rumah sakit (Noor et al., 2024). Mereka menjadi garda terdepan dalam mengingatkan, mencontohkan, sekaligus memastikan bahwa kebersihan tangan diterapkan dengan benar oleh semua pihak, termasuk pengunjung. Penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara peran perawat dengan keberhasilan pencegahan infeksi nosokomial (Noor et al., 2024). Hal ini menegaskan bahwa semakin optimal peran perawat, semakin efektif pula upaya pengendalian infeksi yang dilakukan.
Selain itu, pengetahuan juga menjadi faktor dominan dalam menentukan kinerja perawat. Dukungan seperti motivasi dan supervisi dari kepala ruangan terbukti dapat meningkatkan kepatuhan terhadap protokol keselamatan pasien (Zulveritha et al., 2025). Meskipun tingkat kepatuhan perawat sudah cukup tinggi, yaitu mencapai 82,92%, masih ada beberapa aspek yang perlu diperkuat, seperti konsistensi dalam mencuci tangan sebelum tindakan aseptik dan penggunaan alat pelindung diri secara lengkap.
Melihat kondisi tersebut, menjadi jelas bahwa pengunjung rumah sakit bukan hanya sekadar pemberi dukungan moral. Mereka juga memiliki potensi, baik sebagai pelindung maupun sebagai bagian dari rantai penularan infeksi. Oleh karena itu, kesadaran bersama menjadi kunci. Perilaku sederhana seperti mencuci tangan sebelum dan sesudah menjenguk bukan hanya bentuk kepedulian, tetapi juga tanggung jawab.
Karena pada akhirnya, menjenguk bukan hanya soal hadir tetapi juga tentang bagaimana kita hadir dengan aman.
DAFTAR PUSTAKA
Agustiningsih, I., & Afifah, Z. (2024). Transfer IPTEK pentingnya penerapan hand hygiene saat berada di lingkungan rumah sakit. Jurnal Bhakti Civitas Akademika, 8(1), 1–12. https://doi.org/10.56586/jbca.v8i1.394. Diakses pada Jumat, 03 April 2026, pukul 19.15 WIB.
Dawson Zulveritha, P., Peristipwati, Y., & Anggreani, N. A. (2025). Pengaruh pengetahuan, motivasi, supervisi dengan kinerja perawat terhadap pencegahan infeksi nosokomial di ruang rawat gawat darurat RSUD Tarutung. Jurnal Ners, 9(3), 3793–3807. https://doi.org/10.31004/jn.v9i3.45163. Diakses pada Jumat, 03 April 2026, pukul 20.05 WIB.
Noor, S., Hutahaean, S., & Nababan, D. (2024). Hubungan peran perawat terhadap pencegahan dan pengendalian infeksi. Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA, 10(2), 218–223. https://doi.org/10.52943/jikeperawatan.v10i2.1389. Diakses pada Jumat, 03 April 2026, pukul 18.40 WIB.
Pandeiroot, I., Niode, N. J., & Rampengan, N. H. (2023). Analisis pelaksanaan program pencegahan dan pengendalian infeksi nosokomial di Rumah Sakit Umum Daerah Anugerah Tomohon. E-CliniC, 12(1), 111–115. https://doi.org/10.35790/ecl.v12i1.45864. Diakses pada Jumat, 03 April 2026, pukul 21.10 WIB.
Suzarli, S., Maryana, M., & Mardiana, N. (2025). Pengaruh edukasi cuci tangan 6 langkah menggunakan handrub terhadap peningkatan pengetahuan pengunjung RSUD Depati Hamzah Pangkalpinang tahun 2024. Jurnal Penelitian Keperawatan, 11(2), 192–200. https://doi.org/10.32660/jpk.v11i2.827. Diakses pada Jumat, 03 April 2026, pukul 17.55 WIB.
