Transit Oriented Development di Singapura
Tulisan dari JOSIA BUDI LEKSONO tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dengan bertambah banyaknya kendaraan, jalanan menjadi semakin padat dan kemacetan akan terus meningkat sehingga mobilisasi masyarakat tidak efektif karena waktu yang dibutuhkan untuk melakukan perjalanan akan semakin lama. Transit Oriented Development (TOD) yang diterapkan di Singapura memberikan dampak yang baik bagi Negara maupun masyarakat. Dampak baik yang diberikan dari sistem Transit Oriented Development adalah transportasi publik yang memadai dan juga penataan ruang publik yang diatur sebegitu rupa sehingga kepadatan masyarakat tidak terfokus pada titik tertentu tetapi dapat tersebar. Daerah yang menerapkan Transit Oriented Development juga akan mengalami kenaikan nilai properti dan menciptakan lingkungan yang sehat karena semakin banyak pejalan kaki dan berkurangnya pengguna kendaraan pribadi. Sistem ini membutuhkan kerja sama dari
masyarakat juga, tidak hanya dari pemerintah saja.
Menurut Prayogi, dkk pada “Penerapan Konsep Transit Oriented Development (TOD) Pada Penataan Kawasan Di Kota Tangerang” dalam Jurnal Arsitektur Purwarupa Volume 01 No 02. Transit Oriented Development memiliki beberapa manfaat seperti:
1. Menurunkan kemacetan, polusi udara, dan emisi gas rumah kaca.
Hal ini disebabkan karena adanya penurunan dalam penggunaan kendaraan pribadi, dikarenakan berkurangnya kegiatan transportasi dalam memenuhi kebutuhan hidup. Karena semua fasilitas dapat diakses dengan mudah melalui berjalan kaki atau menggunakan transportasi publik.
2. Menciptakan komunitas masyarakat yang memiliki gaya hidup yang lebih sehat dan aktif.
Adanya pengurangan penggunaan kendaraan pribadi, secara tidak langsung akan meningkatkan jumlah pejalan kaki. Dengan adanya kebiasan masyarakat untuk berjalan kaki, masyarakat akan setidaknya berolahraga sedikit untuk melakukan kegiatan transportasi dan dapat berinteraksi dengan lebih banyak orang.
3. Peningkatan penumpang transportasi publik dan pendapatan daerah dari tarif angkutan.
Karena TOD berpusat pada transportasi transit (bus dan kereta) yang berada pada pusat keramaian, hal ini akan menyebabkan terjadinya peningkatan pada jumlah orang yang menaiki transportasi publik tersebut.
4. Nilai properti yang berpotensi untuk meningkat
Dengan adanya pusat transit yang berada di dekat pusat keramaian, lalu dikelilingi oleh tempat tinggal (perumahan, apartment, dll). Harga jual property property tersebut akan meningkat dikarenakan fasilitas dan mobilitasnya yang tinggi.
5. Peningkatan lapangan pekerjaan bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Sistem TOD akan mengembangkan kota dan juga transportasi publik, dengan adanya pengembangan ini, akan terbuka banyak lowongan pekerjaan bagi masyarakat yang memiliki Pendidikan rendah, seperti sopir ataupun pegawai pusat keramaian seperti mal, supermarket, dll.
6. Mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi, sehingga dapat mengurangi biaya transportasi.
Manfaat terakhir yang disebutkan Prayogi dkk ini, adalah salah satu keunggulan dari TOD. Dengan adanya sistem ini, masyarakat secara tidak langsung akan mengurangi biaya yang biasa dikeluarkan dengan menaiki kendaraan pribadi karena berpindah kepada alternatif yang lebih murah yaitu transportasi publik
Negara Singapura menyadari kebutuhan akan Transportasi Publik yang tinggi terapi tidak dapat diimbangi dengan luas lahan hyang ada dan juga tidak memungkinkan untuk memperluas infrastruktur jalan untuk memenuhi kebutuhan mobilisasi kendaraan.
Land Transport Authority (LTA) dari Singapura mengambil keputusan untuk mengembangkan regulasi tentang biaya parkir kendaraan, pekerjaan yang terintegrasi di mana banyak orang akan dipindahkan untuk bekerja di tempat yang lebih dekat dengan tempat tinggalnya, pengembangan transportasi public dan pengembangan Transit Oriented Development berbasis LRT, MRT, dan Bus.
Singapura menjadi Negara kecil yang berhasil memiliki system transportasi public yang efektif dengan peraturan yang diterapkan berdasarkan Transit Oriented Development. Sisi luar Negara Singapura terdapat sistem MRT untuk mobilisasi jarak jauh, LRT dan Bus ada di bagian dalam Singapura untuk mobilisasi jarak dekat.
Meskipun penerapan sistem TOD akan memberikan banyak manfaat yang baik, namun kenyataannya di Singapura juga terjadi beberapa masalah dari sistem TOD itu sendiri. Masalah pertama yakni, banyak perencanaan pembangunan “kota baru” berdasarkan sistem TOD yang tidak dapat diselesaikan (Cervero and Murakami, 2007).
Masalah yang ditimbulkan selanjutnya adalah masyarakat tidak bekerja berdekatan dengan kota baru, melainkan bekerja pada kota baru lainnya (Barter and Doston, 2013).
Masalah yang ketiga adalah banyaknya lahan kosong dekat stasiun transit transportasi publik, lahan kosong ini diakibatkan oleh lahan yang tidak laku terjual sehingga fungsi lahan tersebut menjadi tidak sesuai perkiraan. Ketiga masalah dari sistem TOD tersebut memang membutuhkan kerja sama dari masyarakat, tidak semata-mata pemerintah yang hanya membuat regulasi.
Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa Sistem Transit Oriented Development di Negara Singapura dapat berjalan cukup baik hingga masa kini, meskipun ada beberapa daerah yang mengalami ketidaktepatan fungsi lahan. Transit Oriented Development jika diimplementasikan dengan baik dan disertai daya dukung yang memadai akan dapat mencapai keberhasilan.
Sistem ini memberikan banyak manfaat bagi masyarakat dan Negara dalam bentuk kesehatan mental, kesehatan lingkungan, ekonomi, bahkan tingkat kriminal karena saling kepercayaan masyarakat terhadap satu sama lain untuk menggunakan transportasi publik.
Maka dari itu, ekonomi dari Negara Singapura sendiri sangatlah maju dan tidak lagi disebut Negara berkembang karena dengan sistem ini, masyarakat dapat memiliki kehidupan yang efisien sehingga pendapatan masyarakat meningkat. Sistem Transit Oriented Development yang ada di Singapura dapat dijadikan contoh baik untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Referensi :
P., A., & Prayogi, L. (2017). PENERAPAN KONSEP TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT (TOD) PADA PENATAAN KAWASAN DI KOTA TANGERANG. Jurnal Arsitektur PURWARUPA No, 01(September), 02nd ser.
Joshi, R. Joseph, Y. Patel, K. & Darji, V. (2017). Transit-Oriented Development: Lessons from International Experiences. Retrieved January 23, 2021, from https://www.researchgate.net/publication/317580038_Transit-Oriented_Development_Lessons_from_International_Experiences

