Konten dari Pengguna

Mengapa Pendidikan Kita Masih Berkutat pada Angka, Bukan pada Manusia : 2 Mei

Josua Sitanggang

Josua Sitanggang

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Katolik Santo Thomas Medan

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Josua Sitanggang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

doc: ai. /hari pendidikan nasional 2026
zoom-in-whitePerbesar
doc: ai. /hari pendidikan nasional 2026

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) setiap tanggal 2 Mei sering kali terjebak dalam seremoni dan angka-angka statistik. Kita merayakan peningkatan angka partisipasi murni, penurunan tingkat buta aksara, hingga kenaikan jumlah lulusan perguruan tinggi. Namun, di balik grafik yang tampak impresif tersebut, ada pertanyaan mendasar yang terlupakan: Apakah sistem pendidikan kita sedang mencetak manusia, atau sekadar memproduksi angka untuk laporan birokrasi?

Realitas Pahit: Standarisasi yang Mematikan Potensi

Faktanya, sistem pendidikan kita masih sangat terobsesi pada kuantifikasi. Hal ini terlihat dari beberapa fenomena:

PISA (Programme for International Student Assessment): Skor literasi dan numerasi siswa Indonesia secara konsisten berada di papan bawah. Namun, respons pemerintah sering kali hanya berfokus pada "bagaimana menaikkan skor", bukan bagaimana menumbuhkan kecintaan belajar.

Administrative Overload: Guru di Indonesia menghabiskan waktu yang sangat besar untuk mengisi aplikasi dan laporan administratif demi memenuhi beban kerja formal. Waktu yang seharusnya digunakan untuk observasi mendalam terhadap karakter siswa tersedot oleh urusan dokumen.

Mentalitas Kelulusan: Fokus utama siswa, orang tua, dan sekolah masih pada nilai rapor dan ijazah sebagai tiket masuk ke jenjang berikutnya. Akibatnya, kejujuran akademik sering dikorbankan demi "angka aman" di atas kertas.

Untuk menggeser paradigma dari "Angka" menuju "Manusia", diperlukan langkah konkret dari berbagai pihak:

Untuk Pemerintah (Kebijakan) Redefinisi Evaluasi: Lanjutkan transformasi Asesmen Nasional agar tidak sekadar menjadi pengganti UN, tetapi benar-benar menjadi alat diagnosa untuk memperbaiki metode pengajaran, bukan untuk menghakimi sekolah.

Debirokrasi Tugas Guru: Kurangi beban administrasi digital yang berlebihan. Berikan otonomi lebih besar kepada guru untuk melakukan pendekatan personal (personalisasi belajar) kepada siswa.

Pemerataan Infrastruktur: Fokuskan anggaran bukan hanya pada "proyek fisik", tapi pada kualitas SDM di daerah terpencil agar angka literasi bukan sekadar rata-rata semu.

Untuk Masyarakat & Orang Tua (Mindset) Berhenti Mendewakan Nilai: Orang tua perlu memahami bahwa nilai 90 di kertas tidak menjamin anak mampu bertahan dalam dinamika kehidupan sesungguhnya.

Dukungan terhadap Minat: Hargai bakat non-akademik dengan derajat yang sama. Pendidikan adalah maraton panjang, bukan perlombaan lari cepat untuk meraih ijazah.

Untuk Institusi Pendidikan (Praktik) Ruang Dialog: Ciptakan ruang kelas yang demokratis, di mana siswa berani bertanya dan berpendapat tanpa takut salah secara teknis.

Integrasi Etika: Pendidikan karakter tidak boleh diajarkan sebagai hafalan teori, melainkan melalui keteladanan dan pembiasaan sehari-hari.

Pendidikan yang memanusiakan manusia adalah pendidikan yang memerdekakan pikiran dan memperhalus budi pekerti. Jika kita tetap terjebak pada pemujaan angka, kita hanya akan menghasilkan robot yang mahir mengikuti instruksi namun buta akan empati. Di momentum Hardiknas ini, mari kita kembalikan sekolah menjadi "Taman", bukan sekadar mesin pencetak sertifikat.

Pendidikan yang memanusiakan manusia adalah pendidikan yang memerdekakan pikiran dan memperhalus budi pekerti. Jika kita tetap terjebak pada pemujaan angka, kita hanya akan menghasilkan robot yang mahir mengikuti instruksi namun buta akan empati. Di momentum Hardiknas ini, mari kita kembalikan sekolah menjadi "Taman", bukan sekadar mesin pencetak sertifikat.

Pendidikan adalah tentang siapa kita di masa depan, bukan sekadar berapa angka yang kita bawa pulang.