Konten dari Pengguna

Mahasiswa KKN Rancang GreenHouse dari Bambu untuk Petani Tomat di Desa Kenteng

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jovan Adi Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa KKN Rancang GreenHouse dari Bambu untuk Petani Tomat di Desa Kenteng
zoom-in-whitePerbesar

Bandungan, Semarang – Pertanian di Desa Kenteng, Kecamatan Bandungan, menjadi salah satu potensi yang terus berkembang seiring berjalannya waktu. Namun tidak dipungkiri, alam menjadi salah satu faktor yang sangat mempengaruhi hasil panen tiap tahunnya. Curah hujan yang tidak menentu, intensitas sinar matahari, angin, sampai serangan hama kerap membuat hasil budidaya tanaman naik turun.

Berangkat dari persoalan tersebut, mahasiswa yang tengah menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Kenteng, menginisiasi program perancangan greenhouse untuk budidaya tanaman tomat berbasis material bambu. Lokasinya berada di lahan milik salah satu mitra warga setempat. Bukan hanya sebagai pelindung tanaman dari cuaca, greenhouse berbasis bambu ini dirancang guna menghadirkan sarana budidaya tanaman yang lebih terkontrol, namun tetap sederhana dan kontekstual dengan kondisi lokal. Pemilihan bambu sebagai material utama perancangan didasarkan pada pertimbangan ketersediaan material di lingkungan sekitar. Selain itu, penggunaan bambu juga memudahkan masyarakat dalam merealisasikan bangunan ini dikarenakan bambu memiliki harga yang cenderung lebih rendah dibandingkan dengan material lain.

Program ini sejalan dengan sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam mendukung ketahanan pangan (SDG 2), meningkatkan potensi ekonomi petani (SDG 8), serta mendorong inovasi infrastruktur pertanian (SDG 9) yang sesuai dengan kondisi lokal.

Dari Lapangan ke Meja Gambar: Proses Penyusunan Gambar Teknis

Program ini dimulai dengan tahap observasi lahan dan konsultasi langsung bersama pemilik lahan untuk memahami kondisi serta kebutuhan di lapangan. Dari hasil pengamatan tersebut, analisis terhadap tapak pun dimulai—mulai dari sirkulasi hingga arah matahari. Hal ini juga yang membuat program ini berkaitan erat dengan program studi arsitektur, karena perancangan greenhouse turut melibatkan pertimbangan aspek ruang seperti itu. Dilanjutkan dengan software SketchUp, pemodelan 3D greenhouse dibuat untuk memberikan gambaran jelas mengenai bagaimana posisi greenhouse terhadap tapak dan bentuk greenhouse itu sendiri, yang kemudian diajukan kembali kepada pemilik lahan untuk mendapat beberapa masukan. Atap lengkung digunakan dalam perancangan karena dinilai lebih mudah dalam pemeliharaan dan juga dapat menyebarkan cahaya matahari lebih merata dibandingkan dengan atap pelana. Bentuk atap menjadi penting karena hal tersebut menjadi salah satu faktor dalam pertumbuhan tanaman di dalam greenhouse.

Setelah rancangan awal disepakati bersama, tahapan selanjutnya adalah pembuatan denah kolom dan tampak bangunan dengan menggunakan AutoCAD sebagai acuan pembangunan. Perancangan denah kolom juga mempertimbangkan bambu sebagai material dasar, dimana bambu memiliki ketahanan yang cukup rendah dibandingkan material lain. Jarak 2,5 m adalah jarak maksimal antar 2 kolom bambu, hal tersebut menghasilkan rancangan kolom yang sedikit rapat namun tetap mendukung petani dalam melakukan pekerjaan di dalam greenhouse. Setiap tahapan dijalankan secara bertahap dan evaluatif, sehingga rancangan yang dihasilkan dapat mendukung aktivitas di dalam greenhouse tanpa mengurangi kekuatan pada struktur bambu.

Dari Hasil Menuju Keberlanjutan

Melalui rangkaian proses tersebut, program berhasil menghasilkan rancangan greenhouse berupa model 3D dan gambar teknis yang siap dijadikan acuan pembangunan oleh pemilik lahan. Dari rancangan ini diharapkan keberadaan greenhouse ini mendukung produktivitas budidaya tomat yang lebih stabil tiap tahunnya, dan dapat menjadi percontohan bagaimana sarana pertanian sederhana berbasis material lokal bisa menjawab tantangan budidaya hortikultura di dataran tinggi seperti Bandungan.