Konten dari Pengguna

Fear Appeal sebagai Instrumen Propaganda dalam Eskalasi Perang di Gaza 2025–2026

jovita putri noveni

jovita putri noveni

Sedang menempuh pendidikan S1 jurusan Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Sriwijaya tahun ke 3

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari jovita putri noveni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Image by <a href="https://pixabay.com/users/hosnysalah-10285169/?utm_source=link-attribution&utm_medium=referral&utm_campaign=image&utm_content=6261980">hosny salah</a> from <a href="https://pixabay.com//?utm_source=link-attribution&utm_medium=referral&utm_campaign=image&utm_content=6261980">Pixabay</a>
zoom-in-whitePerbesar
Image by <a href="https://pixabay.com/users/hosnysalah-10285169/?utm_source=link-attribution&utm_medium=referral&utm_campaign=image&utm_content=6261980">hosny salah</a> from <a href="https://pixabay.com//?utm_source=link-attribution&utm_medium=referral&utm_campaign=image&utm_content=6261980">Pixabay</a>

Oleh Jovita Putri Noveni, Universitas Sriwijaya

Coba bayangkan kita sedang duduk di kantin kampus, buka media sosial, lalu dalam lima menit sudah melihat puluhan video tentang konflik di Gaza. Ada rekaman ledakan, tangisan warga sipil, pernyataan pejabat yang mengatakan “ini soal hidup dan mati,” atau unggahan yang menegaskan bahwa satu pihak sedang menghadapi ancaman pemusnahan. Rasanya emosional, cepat, dan menekan. Tanpa sadar, kita ikut merasa takut, marah, atau cemas. Di titik inilah sebenarnya propaganda bekerja.

Dalam eskalasi konflik 2025–2026 antara Israel dan Hamas, menurut saya, yang terjadi bukan hanya perang senjata, tetapi juga perang emosi. Salah satu teknik yang paling menonjol adalah fear appeal—strategi komunikasi yang sengaja membangkitkan rasa takut agar publik mendukung sikap atau kebijakan tertentu. Dalam teori komunikasi, fear appeal efektif ketika orang merasa ancaman itu nyata dan percaya bahwa tindakan yang ditawarkan adalah satu-satunya solusi. Jadi bukan sekadar menakut-nakuti, tetapi menakut-nakuti sambil memberi arah.

Kalau kita perhatikan, narasi yang muncul sering kali berbunyi seperti ini: “Kami diserang, kami harus bertahan.” Atau di sisi lain, “Kami sedang dihancurkan, kami harus melawan.” Kedua narasi ini sama-sama menekankan ancaman eksistensial. Artinya, konflik tidak lagi dibingkai sebagai sengketa politik atau teritorial, tetapi sebagai perjuangan bertahan hidup. Ketika isu sudah dibingkai sebagai soal eksistensi, ruang untuk kompromi otomatis mengecil. Publik akan lebih mudah menerima kebijakan keras karena merasa tidak ada pilihan lain.

Menurut saya, di sinilah fear appeal berubah menjadi instrumen propaganda. Ketakutan membuat orang lebih fokus pada rasa aman dibandingkan evaluasi rasional. Dalam situasi penuh ancaman, kita cenderung tidak bertanya terlalu jauh tentang proporsionalitas tindakan atau konsekuensi jangka panjang. Yang penting selamat dulu. Dalam konteks konflik Gaza, framing ancaman ini membantu membangun legitimasi domestik atas langkah-langkah militer yang agresif.

Yang menarik, dan agak mengkhawatirkan dari fear appeal di Gaza tidak hanya ditujukan untuk publik lokal. Ia menyasar dunia. Video korban sipil, gambar bangunan runtuh, dan pernyataan dramatis disebarkan melalui platform global. Konten emosional seperti ini sangat cepat viral karena algoritma media sosial memang cenderung mempromosikan konten yang memicu reaksi kuat. Akibatnya, opini publik internasional ikut terbentuk oleh gelombang emosi tersebut.

Sebagai mahasiswa Hubungan Internasional, saya melihat ini sebagai bentuk transformasi perang modern. Kalau dulu propaganda disebarkan lewat radio atau poster, sekarang ia bergerak melalui feed Instagram dan timeline X. Bedanya, kecepatannya jauh lebih tinggi dan jangkauannya lintas batas. Ketakutan tidak lagi berhenti di wilayah konflik; ia menyebar ke ruang-ruang diskusi global, termasuk di Indonesia. Kita sering kali bereaksi cepat dalam ikut membagikan, mengomentari, atau memihak tanpa sempat memverifikasi konteks secara utuh.

Masalahnya, ketika ketakutan mendominasi ruang publik, polarisasi ikut menguat. Dunia dibagi menjadi dua kubu yang saling menuduh dan saling membenarkan. Dalam kondisi seperti ini, empati bisa berubah menjadi kemarahan, dan solidaritas bisa berubah menjadi kebencian terhadap pihak lain. Fear appeal tidak hanya membangun dukungan, tetapi juga membangun jarak emosional antara kelompok-kelompok yang berbeda.

Bukan berarti rasa takut itu tidak valid. Konflik memang menimbulkan ancaman nyata dan penderitaan nyata. Namun, ketika ketakutan terus-menerus dibingkai secara dramatis dan digunakan untuk mengarahkan opini, kita perlu lebih waspada. Apakah kita sedang merespons fakta, atau sedang merespons framing yang sengaja dibentuk?

Menurut saya, pelajaran dari eskalasi Gaza 2025–2026 adalah ini: di era digital, perang bukan hanya tentang siapa yang menguasai wilayah, tetapi siapa yang menguasai emosi publik. Fear appeal menjadi senjata yang tak terlihat, tetapi dampaknya terasa. Sebagai pembaca, sebagai mahasiswa, dan sebagai warga global, mungkin tugas kita bukan sekadar memilih pihak, tetapi juga belajar mengenali kapan ketakutan sedang dijadikan alat. Karena ketika emosi sepenuhnya mengendalikan opini, rasionalitas yang seharusnya menjadi dasar diskusi internasional perlahan bisa hilang.