Konten dari Pengguna

Jadikan Masa Kecil sebagai Luka yang Dibawa Dewasa

U

User Dinonaktifkan

Kuliah di Universitas Katolik Santo Thomas Medan Fakultas hukum

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari User Dinonaktifkan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh : Joy Carolina Simanjuntak
zoom-in-whitePerbesar
Oleh : Joy Carolina Simanjuntak

Seringkali kita mengira anak itu seperti kertas putih yang bisa kita coretkan apa saja, dan jika salah, tinggal dihapus lalu bersih kembali. Padahal, kenyataannya tidak demikian. Hati anak lebih seperti lilin; setiap sentuhan, kata-kata, dan perlakuan yang kita berikan akan meninggalkan bekas yang membeku dan sulit berubah bentuk.

Luka masa kecil itu tidak pernah benar-benar hilang, ia hanya ditutup-tutupi seiring bertambahnya usia. Anak yang sering dimarahi, dihina, atau ditakuti hari ini, bukan berarti akan menjadi kuat dan tangguh besok. Justru, mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang hidupnya penuh dengan ketakutan, rasa tidak aman, dan luka batin yang sulit disembuhkan.

Bayangkan betapa beratnya menjadi dewasa tapi masih membawa "koper besar" berisi trauma dari rumah sendiri. Mereka mungkin berhasil mencapai kesuksesan, tapi hatinya tetap merasa kosong. Mereka mungkin terlihat tersenyum, tapi di dalamnya ada bagian yang hancur karena cara mereka dididik dulu.

Kesimpulan :

Hati anak sangat rapuh dan segala perlakuan yang diterimanya akan membekas selamanya, layaknya lilin yang membeku. Luka masa kecil tidak pernah hilang, ia hanya tersembunyi dan akan menjadi beban berat yang dibawa hingga dewasa, menyebabkan ketakutan, rasa tidak aman, dan kehampaan batin. Oleh karena itu, jagalah cara kita bersikap dan berkata, karena mendidik bukan untuk meninggalkan luka, melainkan untuk membangun fondasi yang kuat dan bahagia bagi masa depan mereka.