Kesehatan Mental Bukan Tren: Saatnya Kita Lebih Peduli

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Katolik Santo Thomas Medan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Juan Philips M A Habeahan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam beberapa tahun terakhir, isu kesehatan mental semakin sering menjadi perbincangan publik, terutama sejak maraknya penggunaan media sosial. Berbagai istilah seperti “healing”, “burnout”, hingga “overthinking” kini menjadi bagian dari percakapan sehari-hari, khususnya di kalangan generasi muda. Di satu sisi, fenomena ini patut diapresiasi karena menunjukkan adanya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental. Namun di sisi lain, muncul kecenderungan bahwa isu ini mulai diperlakukan sebagai tren semata, bukan sebagai persoalan serius yang membutuhkan pemahaman mendalam dan penanganan yang tepat.
Kesehatan mental sejatinya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan secara keseluruhan. Organisasi kesehatan dunia menyebutkan bahwa kesehatan mental mencakup kondisi kesejahteraan emosional, psikologis, dan sosial yang memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, dan bertindak. Artinya, gangguan kesehatan mental bukanlah sesuatu yang sepele atau dibuat-buat, melainkan kondisi nyata yang dapat berdampak pada kualitas hidup seseorang, bahkan hingga produktivitas dan relasi sosialnya.
Sayangnya, di tengah meningkatnya popularitas isu ini, masih banyak kesalahpahaman yang beredar di masyarakat. Tidak sedikit orang yang menganggap gangguan mental sebagai bentuk kelemahan pribadi, kurang iman, atau sekadar kurang bersyukur. Bahkan, ungkapan seperti “cuma kurang piknik” atau “jangan terlalu dipikirkan” masih sering dilontarkan kepada mereka yang sedang berjuang. Sikap seperti ini bukan hanya tidak membantu, tetapi juga dapat memperburuk kondisi psikologis seseorang karena membuat mereka merasa tidak dipahami dan sendirian.
Fenomena lain yang juga perlu disoroti adalah kecenderungan sebagian orang untuk menggunakan istilah kesehatan mental secara sembarangan. Misalnya, mengklaim diri mengalami depresi hanya karena merasa sedih sesaat, atau menyebut diri mengalami anxiety tanpa diagnosis yang jelas. Hal ini berpotensi mengaburkan makna sebenarnya dari gangguan mental dan dapat mengurangi sensitivitas masyarakat terhadap mereka yang benar-benar membutuhkan bantuan profesional.
Di sisi lain, akses terhadap layanan kesehatan mental di Indonesia masih menjadi tantangan tersendiri. Berdasarkan berbagai laporan, jumlah tenaga profesional seperti psikolog dan psikiater masih belum sebanding dengan jumlah penduduk. Selain itu, stigma sosial juga sering kali menjadi penghalang bagi seseorang untuk mencari bantuan. Banyak yang takut dicap “gila” atau dianggap lemah jika berkonsultasi dengan tenaga profesional. Padahal, mencari bantuan adalah langkah berani dan penting dalam proses pemulihan.
Dalam konteks ini, peran lingkungan menjadi sangat krusial. Keluarga, teman, dan masyarakat memiliki kontribusi besar dalam menciptakan ruang yang aman bagi individu untuk mengekspresikan perasaannya. Mendengarkan tanpa menghakimi, memberikan dukungan emosional, serta menghargai proses pemulihan seseorang adalah bentuk kepedulian yang nyata. Hal-hal sederhana seperti menanyakan kabar dengan tulus atau menyediakan waktu untuk mendengarkan dapat memberikan dampak yang signifikan.
Selain itu, literasi mengenai kesehatan mental juga perlu terus ditingkatkan. Edukasi yang tepat dapat membantu masyarakat membedakan antara kondisi emosional yang wajar dengan gangguan yang membutuhkan penanganan khusus. Media, institusi pendidikan, dan pemerintah memiliki peran penting dalam menyebarkan informasi yang akurat dan bertanggung jawab, sehingga masyarakat tidak hanya ikut-ikutan membicarakan, tetapi juga memahami secara substansial.
Pada akhirnya, kesehatan mental bukanlah tren yang akan berlalu seiring waktu. Ia adalah kebutuhan dasar yang harus diperhatikan secara berkelanjutan. Meningkatnya perhatian terhadap isu ini seharusnya menjadi momentum untuk membangun kesadaran kolektif, bukan sekadar mengikuti arus popularitas. Sudah saatnya kita bergerak dari sekadar “tahu” menjadi benar-benar “peduli”. Karena di balik setiap senyuman yang terlihat baik-baik saja, bisa jadi ada perjuangan yang tidak pernah kita ketahui.
