Konten dari Pengguna

Judi Online: Penghancur Masa Depan Remaja

Apakah judi online sangat fatal dampaknya? Yuk kita cari tahu!

Judi online berbasis aplikasi. Foto:https://www.shutterstock.com/id/search/gambling-online
zoom-in-whitePerbesar
Judi online berbasis aplikasi. Foto:https://www.shutterstock.com/id/search/gambling-online

Sebanyak 960.000 pelajar dan mahasiswa terlibat dalam aktivitas judi online pada tahun 2025. Waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar dan mempersiapkan masa depan justru tersita untuk bermain judi online. Uang saku yang diberikan orang tua untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pun habis digunakan untuk berjudi, yang justru dapat menimbulkan kerugian lebih besar. Dampaknya, sebagian remaja terdorong melakukan tindakan kriminal. Salah satu contohnya adalah kasus pembobolan 13 sekolah oleh dua remaja di Desa Banjarwori, Kecamatan Bangilan. Mereka mencuri perangkat elektronik yang kemudian dijual untuk mendapatkan uang guna bermain judi online. Selain itu, terdapat pula kasus seseorang yang membunuh ibunya sendiri setelah ditegur agar berhenti bermain judi online. Fenomena ini menunjukkan bahwa judi online tidak hanya memicu tindakan kriminal, tetapi juga menimbulkan berbagai dampak negatif dalam aspek ekonomi, sosial, pendidikan, dan kesehatan.

Di tengah kesulitan ekonomi yang dihadapi sebagian masyarakat, judi online dianggap oleh sebagian remaja sebagai sarana untuk memperoleh keuntungan dalam waktu singkat. Dengan tampilan yang menarik, bonus yang menggiurkan, serta promosi di berbagai platform digital, judi online semakin mudah diakses. Tidak sedikit orang yang awalnya hanya mencoba karena penasaran atau mengikuti tren di media sosial. Ketika kerugian terus bertambah, sebagian pengguna judi online beralih ke pinjaman online atau yang biasa disebut pinjol untuk mendapatkan modal tambahan. Meskipun terdapat layanan pinjaman online legal yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sebagian orang justru memilih layanan ilegal yang tidak memiliki pengawasan resmi dan berpotensi merugikan mereka. “Laporan terkait aktivitas keuangan ilegal seperti scam dan pinjol hampir setiap hari masuk ke layanan OJK,” ujar Kurnia. Semakin besar jumlah uang yang dipinjam dan digunakan untuk berjudi, semakin besar pula risiko utang yang harus ditanggung. Akibatnya, upaya untuk memperoleh keuntungan justru dapat memperburuk kondisi keuangan mereka.

Selain berdampak pada kondisi ekonomi, judi online juga dapat merusak hubungan dengan keluarga dan teman. Remaja yang mengalami kecanduan judi online cenderung menarik diri dari lingkungan sosialnya. Mereka lebih berfokus pada permainan daripada menghabiskan waktu bersama keluarga. Padahal, anggota keluarga juga dapat merasakan dampak negatif perjudian meskipun mereka tidak pernah bermain judi online. Remaja yang menggunakan pinjaman online untuk membiayai kebiasaan berjudi dapat menumpuk utang dalam jumlah besar. Keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas akan semakin kesulitan apabila harus menanggung utang tersebut, meskipun bukan mereka yang membuatnya. Situasi ini dapat memicu pertengkaran antaranggota keluarga dan mengganggu keharmonisan rumah tangga. Tidak hanya keluarga, lingkungan pertemanan juga dapat terkena dampaknya. Pengaruh teman sebaya dapat membuat remaja lain ikut mencoba judi online hingga akhirnya terjerumus ke dalam kebiasaan yang merugikan. Dengan demikian, dampak judi online tidak hanya dirasakan oleh pemain, tetapi juga dapat meluas kepada orang-orang di sekitarnya.

Bagaimana dengan pendidikan mereka? Dampaknya tentu tidak dapat diabaikan. Remaja yang mulai terjerumus dalam judi online dapat kehilangan fokus belajar dan motivasi untuk bersekolah. Padahal, pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam mempersiapkan masa depan, terutama di tengah perkembangan teknologi dan persaingan dunia kerja yang semakin ketat. Alih-alih berusaha meraih cita-cita, sebagian remaja justru menghabiskan waktu untuk bermain judi online. Ada pula remaja yang bermain judi online dengan harapan dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi. “Judol ini banyak digemari karena modalnya kecil, tapi untungnya berlipat,” ujar Wayan. Meskipun demikian, anggapan tersebut dapat menyesatkan karena judi online memiliki risiko kerugian yang besar dan tidak menjamin keuntungan. Kebiasaan berjudi dapat mengganggu waktu belajar, menurunkan konsentrasi, dan berujung pada penurunan prestasi akademik. Selain itu, beban utang yang terus bertambah dapat menimbulkan tekanan psikologis sehingga semakin menghambat proses belajar mereka.

Dari segi kesehatan, bermain judi online juga dapat menyebabkan kecanduan atau gangguan perjudian (gambling disorder). “Efek ini muncul ketika seseorang menghadapi kekalahan berkali-kali, tetapi masih tetap menyetorkan uangnya untuk judi dengan harapan akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar,” ujar Wayan. Kekalahan yang berulang dapat memicu stres pada remaja sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Mereka juga dapat mengalami frustrasi, bahkan ketika menghadapi masalah kecil. Kondisi tersebut dapat menjadi tanda adanya kesulitan dalam mengendalikan emosi. Kecanduan judi online juga dapat berkaitan dengan kecemasan berlebihan, kesulitan berkonsentrasi, penarikan diri dari lingkungan sosial, serta gangguan pola tidur. Jika tidak ditangani, masalah tersebut dapat memperburuk kondisi psikologis dan meningkatkan risiko munculnya gangguan kesehatan mental lainnya. Remaja perlu mendapatkan perhatian khusus karena rasa ingin tahu, pengaruh lingkungan pertemanan, kurangnya literasi digital, serta minimnya pengawasan dapat meningkatkan risiko mereka terjerumus dalam perjudian online.

Dapat disimpulkan bahwa judi online menimbulkan berbagai dampak negatif, mulai dari masalah ekonomi hingga gangguan kesehatan. Perkembangan teknologi dan maraknya promosi melalui media sosial turut mempermudah penyebaran perjudian online. Oleh karena itu, kesadaran remaja mengenai risiko judi online perlu ditingkatkan melalui edukasi dan literasi digital. Satuan Tugas Pemberantasan Perjudian Daring juga mencatat sebanyak 2,37 juta orang terjerat judi online, dengan 80 persen di antaranya berasal dari kelompok ekonomi menengah ke bawah. Data tersebut menunjukkan pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap risiko perjudian online, terutama di tengah kesulitan ekonomi. Meskipun memperoleh penghasilan di tengah kondisi ekonomi yang sulit bukanlah hal mudah, judi online bukanlah solusi yang tepat. Oleh karena itu, jangan mempertaruhkan masa depan demi harapan memperoleh keuntungan instan. Remaja perlu menghindari perjudian online dan memilih cara yang lebih aman serta produktif untuk meraih cita-cita.

Profil penulis:

Lovyna Chrisella Josephine, siswi SMA Trinitas yang memiliki hobi menggambar dan senang menuangkan ide serta kreativitasnya melalui gambar. Menggambar menjadi salah satu cara untuk mengekspresikan diri dan mengembangkan kreativitas.