Kumparan Logo

Ladies, Ini Masker yang Direkomendasikan Ahli Agar Terlindung dari Abu Vulkanik

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi masker KN95. Foto: Andrey_Popov/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi masker KN95. Foto: Andrey_Popov/Shutterstock

Dampak erupsi Gunung Anak Krakatau pada Jumat (4/9) tengah malam terasa hingga beberapa hari setelahnya. Abu vulkanik dari letusan kini menyebar luas sampai ke sebagian wilayah Sumatra dan Jawa, termasuk DKI Jakarta.

Untuk melindungi diri dari abu vulkanik, salah satu langkah yang dilakukan adalah menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Meski begitu, masker yang digunakan tidak boleh sembarangan. Mengapa?

Dosen Manajemen Bencana Sekolah Pascasarjana Universitas YARSI Dr. Dicky Budiman, B.Med., MD., MScPH., Ph.D, menjelaskan bahwa abu vulkanik tidak sama seperti debu biasa, Ladies. Berbeda dengan debu yang cenderung halus, abu vulkanik mengandung silika mirip serpihan kaca yang tajam.

Ilustrasi masker KN95. Foto: Onjira Leibe/Shutterstock

“Dalam waktu paparan langung, jika abunya banyak, akan menimbulkan iritasi hidung dan tenggorokan, batuk kering, rasa tidak nyaman di dada. Bahkan, orang sehat pun bisa mengalami keluhan seperti ini, disertai batuk dan iritasi yang meningkat seiring dengan paparan yang makin sering atau lama,” jelas Dicky ketika diwawancarai kumparanWOMAN pada Minggu (6/9).

Jenis masker yang mampu menyaring abu vulkanik ini, menurut Dicky, adalah N95 dan N99 atau masker dengan efisiensi yang setara.

“Yang saya rekomendasikan maskernya adalah masker respirator bersertifikasi industri setara N95 atau FFP2 di standar Eropa. Jadi, bukan masker bedah biasa. Ini juga sudah ada risetnya dari Durham University yang secara spesifik menguji abu vulkanik,” ucap peneliti di Griffith University Australia ini.

Dia mengatakan, efisiensi filtrasi masker N95 dan N99 mencapai lebih dari 98 persen terhadap abu vulkanik. Efisiensi penyaringan masker ini jauh lebih baik dibandingkan masker bedah biasa atau masker kain.

Ilustrasi masker KN95. Foto: JE-pics/Shutterstock

“Efisiensi N95 dan N99 equivalent jauh sekali di atas masker bedah biasa, yang hanya di kisaran 89–91 persen dan masker kain apa pun itu. Kalau masker kain dipakai, efisiensi filtrasinya hanya 44 persen. Jadi, saya tidak menyarankan masker kain. Usahakan masker N95 atau N99,” papar Dicky.

Mengapa masker bedah kurang direkomendasikan? Selain efisiensi filtrasinya lebih rendah, ternyata masker bedah cenderung longgar ketika dipakai di wajah. Kelonggaran tersebut bisa menyebabkan kebocoran, sehingga abu vulkanik bisa masuk ke rongga pernapasan.

Namun, meskipun N95 filtrasinya sangat bagus, efisiensinya tidak akan baik bila dipakainya secara longgar dan tidak melekat dengan wajah.

Ilustrasi masker KN95. Foto: Maridav/Shutterstock

“Jadi, artinya kerapatan di wajah itu jauh lebih menentukan proteksi nyata dibandingkan jenis material filter. Masker N95 ini sudah bagus, tapi kalau dipakainya longgar, dia bisa jadi tidak lebih baik dari masker bedah yang dipakai dengan pas,” tegas Dicky.

Ladies, jika hendak bepergian, jangan lupa memakai masker N95 dan N99 dengan rapat, ya!