Konten dari Pengguna

Kisah Sepuluh Tahun Perjuangan Melawan HIV: Mimpi Besar dalam Keterjatuhan

Jufrin Sagita Fedora Divaranti
Mahasiswa Jurnalistik Universitas Multimedia Nusantara
2 Desember 2021 16:28 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Jufrin Sagita Fedora Divaranti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber: https://pixabay.com/id/illustrations/hiv-aids-virus-penyakit-berdarah-1908018/
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: https://pixabay.com/id/illustrations/hiv-aids-virus-penyakit-berdarah-1908018/
ADVERTISEMENT
Mimpi dan kematian merupakan kata yang bertentangan dan sulit untuk berada di satu kalimat yang sama. Ini adalah hal yang dipikirkan oleh Scott Alfaz begitu ia didiagnosis HIV Positif pada 2011 lalu.
ADVERTISEMENT
Scott Alfaz merupakan salah satu penderita HIV yang didiagnosis pada usianya yang masih muda. Lebih tepatnya saat ia baru menjadi seorang mahasiswa baru di salah satu universitas favorit di Indonesia. Kisahnya bermula saat ia ingin menjadi pendonor darah pada salah satu kegiatan UKM di kampusnya. Namun, selang beberapa waktu, Alfaz dihubungi oleh pihak PMI untuk direkomendasikan rujukan untuk tes darah ulang. Selanjutnya, Alfaz melakukan tes darah ulang didampingi oleh salah satu dokter spesialis. Tidak lama, hari itu juga Alfaz mengetahui bahwa ia HIV Positif.
“Saya masih ingat ruangan dokternya. Ruangan yang sempit banget soalnya itu klinik kecil juga. Bahkan, saya masih ingat apa yang saya rasakan waktu saya buka hasil tes itu di ruangan itu juga,” ceritanya.
ADVERTISEMENT
Ia juga bercerita bahwa saat itu perasaannya begitu campur aduk. Kecewa, putus asa, dan marah. Alfaz menyadari kondisi yang dihadapi saat itu adalah akibat dari perbuatannya di masa lalu sebagai pemakai narkoba dan berganti-ganti pasangan seksual sejak usianya masih belasan tahun.
“Yang ada di pikiran saya saat itu adalah saya nggak akan pernah bisa berkeluarga, saya nggak akan pernah bisa punya anak, dan saya takut akan bikin malu keluarga,” Alfaz kembali bercerita dengan mata yang berkaca-kaca mengenang masa lalunya. Kemudian, ia melanjutkan “Ibu saya juga sudah meninggal. Saat itu, saya jadi berpikir tentang saya harus apa sekarang? Ada di kondisi ini dan ditambah ditinggal Ibu saya, sementara tujuan hidup saya yang utama adalah membahagiakan Ibu. Rasanya seperti berkompetisi tanpa ada tropi”.
ADVERTISEMENT
Keinginan bunuh diri ini masih menghantui Alfaz selama hampir dua tahun. Sampai kemudian, ada satu momentum yang membuat Alfaz muda harus memilih dengan tegas apa yang ia inginkan. Apakah mati seperti yang ingin ia lakukan selama ini atau tetap menjalani hidup dan berubah.
“Ternyata waktu itu saya masih 'cupu'. Ternyata takut juga kalau harus mati meskipun technically, waktu itu tuh rasanya sama saja seperti tidak ada keinginan hidup,” ia tertawa. “Jadi saya memutuskan, sudah deh tetap hidup saja. Sehabis itu saya berpikir kalau hidup tetapi tetap saja begini buat apa? Jadi, saya akhirnya memutuskan buat mengubah hidup saya dari pola pikir dan kebiasaan, semuanya saya usahakan ada di kondisi paling baik untuk bisa bikin saya jadi berguna”.
ADVERTISEMENT
Selanjutnya, ucapannya itu terbukti, ia mulai berani bercerita kepada orang-orang di sekelilingnya tentang kondisi yang ia alami. Ternyata, ia mendapatkan dukungan penuh dari orang-orang tersebut. Selain itu, kondisi fisik Alfaz juga semakin membaik, berat badannya kembali naik, kulitnya tidak terlalu menghitam, kembali terlihat segar, dan lain-lain. Bahkan, ia berhasil membuktikan diri dengan lulus tepat waktu dengan predikat cumlaude dan kemudian melanjutkan berkuliah S-2 di Eropa.
HayVee, sebuah platform digital kesehatan mental dan seksual didirikan oleh Alfaz bersama dengan tim untuk menyediakan tempat bagi orang-orang yang mungkin memiliki kesamaan dengan Alfaz terkait kondisi mental dan seksual mereka. Platform ini dibangun Alfaz dengan keinginan agar orang-orang
tempat untuk berbagi, belajar, berkembang, dan berusaha sembuh dari berbagai tekanan mental serta yang paling penting untuk memastikan bahwa orang-orang yang mungkin memiliki kondisi seperti Alfaz tidak merasa bahwa ia sendirian.
ADVERTISEMENT
“Satu persatu mimpi saya mulai terwujud, tetapi yang paling saya tekankan sekarang adalah kegunaan saya untuk orang lain. apa yang bisa saya lakukan untuk membantu mereka? Caranya ya seperti ini,” ujarnya.
Alfaz muda merasa bahwa ia terlalu takut untuk sendiri, ia terlalu takut untuk menerima persepsi orang tentang dirinya sendiri. Hal tersebut kemudian berujung pada bagaimana Alfaz muda memandang dirinya sendiri dan juga kegunaannya. Saat seseorang tidak menghargai dirinya sendiri, maka dia juga tidak akan dapat memandang dirinya berguna bagi orang lain. Hal ini ingin diubah dari Alfaz. Ia ingin menunjukkan bahwa dirinya, yang sempat berada di dalam kondisi paling jatuh sekalipun akan dapat mencapai sebuah hal besar saat ia mulai menghargai dirinya sendiri.
ADVERTISEMENT
“Kalau bisa ngomong sama Alfaz yang dulu, saya ingin ngomong, sudah tidak usah takut. Kamu punya Tuhan dan bahkan meskipun kamu masih sendirian, Alfaz di masa depan yang akan nemenin kamu,” katanya sambil berkaca-kaca.
Mimpi Alfaz saat ini belum selesai. Ia masih berkeinginan untuk membuat platform yang ia miliki menjadi lebih besar seiring dengan menumbuhkan kesadaran bagi masyarakat tentang kesehatan mental dan juga kesehatan seksual. Untuk itu, meskipun saat ini Alfaz masih HIV Positif, pola pikirnya sudah berbeda dan ia berani untuk tetap berkarya dan menjadi bermanfaat bagi orang di sekitar.
“Kalau kamu tidak suka sama sesuatu, ubah hal itu, tetapi kalau itu adalah hal yang tidak bisa berubah, maka ubah cara kamu dalam memandang sesuatu tersebut,” tutupnya.
ADVERTISEMENT