Kegiatan MSIB Batch 6 Climate Change Pioneers : Gencarkan Inovasi Berkelanjutan

Juilri Fatma Duha
Student of International Relations at Indonesian Christian University
Konten dari Pengguna
4 Juni 2024 10:02 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Juilri Fatma Duha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Pada hari rabu 15 Mei 2024, Desa Huntu Utara, Bone Bolango, menjadi saksi kemeriahan semangat inovatif mahasiswa angkatan 6 Magang Studi Independen Bersertifikat (MSIB) Kemendikbudristek. Di bawah program Climate Change Pioneers, tim Malahengo (Anton Hay, Ibnu Ashadi, Iko Yuni Diastuti, Juilri Fatma Duha dan Salsabila Hakim) menyelenggarakan bimbingan teknis pembuatan produk inovatif berbasis sustainable agriculture dan zero waste. Kegiatan ini di saksikan langsung oleh Kepala Program MSIB 6, koordinator MSIB Bappeda Litbang, mentor tim pelaksana, kepala desa dan masyarakat.
Gambar Kegiatan Bimbimbingan Teknis yang di hadiri oleh kepala Program MSIB 6
Kegiatan ini bagaikan angin segar bagi masyarakat Desa Huntu Utara yang tengah bergelut dengan isu-isu lingkungan. Para mahasiswa, bagaikan agen perubahan, hadir untuk membekali masyarakat dengan pengetahuan dan keterampilan baru dalam menciptakan produk ramah lingkungan yang bermanfaat bagi pertanian desa yang berkelanjutan.
Gambar Praktek pembuatan Pelet pakan ternak berbahan utama maggot.
Bimbingan teknis ini dikemas dalam format yang menarik dan mudah dipahami. Para mahasiswa tak hanya memaparkan teori, tetapi juga terjun langsung ke lapangan untuk mempraktikkan apa yang telah mereka pelajari. Bersama masyarakat, mereka membuat pupuk organik dari kotoran maggot dan kotoran sapi, pupuk cair organik, pestisida organik, nutrisi tanaman dan pelet pakan ternak berbahan utama maggot.
ADVERTISEMENT
Antusiasme masyarakat Desa Huntu Utara menghadiri bimbingan teknis ini begitu luar biasa. Mereka tak segan-segan untuk bertanya dan mempelajari teknik-teknik baru yang diajarkan oleh para mahasiswa. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat desa memiliki kesadaran dan keinginan yang tinggi untuk hidup selaras dengan alam dan lingkungan yang lebih berkelanjutan.
Gambar praktek pembuatan pupuk padat (kasgot), pupuk cair, nutrisi, dan pestisida organik.
Lebih dari sekadar transfer pengetahuan, bimbingan teknis ini menjadi wadah kolaborasi dan sinergi antara mahasiswa dan masyarakat. Para mahasiswa belajar banyak dari kearifan lokal dan pengalaman hidup masyarakat desa dalam menghadapi tantangan lingkungan. Sementara itu, masyarakat Desa Huntu Utara mendapatkan akses terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi baru yang dapat membantu mereka meningkatkan kualitas hidup dan pertanian yang berkelanjutan.
ADVERTISEMENT