kumparan
Food & Travel28 Juli 2018 13:30

Dua Tempat Terbaik untuk Menelusuri Jejak Peradaban Maya di Meksiko

Konten kiriman user
'El Castillo', Chichen Itza, Meksiko (Sumber: Flickr)
Anda pasti pernah mengenal Suku Maya dari buku sejarah sekolah. Anda mungkin juga ingat dunia pernah dihebohkan oleh ramalan berdasarkan kalender suku Maya bahwa kiamat terjadi tahun 2012. Suku ini memang yang paling dikenal dari peninggalannya sebagai suku dengan peradaban yang mengagumkan, termasuk astronomi.
ADVERTISEMENT
Suku Maya adalah salah satu suku yang hidup di Mesoamerika (wilayah Meksiko dan Amerika Tengah sebelum penjajahan Spanyol di abad ke-16). Berkembang selama hampir 3000 tahun, peradaban pra-Kolombia ini mencapai puncaknya pada 250-900 Masehi.
Peta persebaran wilayah tempat tinggal suku Maya (sumber: Pinterest)
Dilansir dari History.com, tidak seperti masyarakat Mesoamerika lainnya, suku Maya umumnya tinggal secara terpusat dalam satu wilayah, yaitu seluruh wilayah Semenanjung Yucatan dan Guatemala, Belize, dan beberapa wilayah dari negara bagian Meksiko (Tabasco dan Chiapas), serta wilayah barat Honduras dan El Salvador. Terpusatnya tempat tinggal suku ini memberikan tingkat keamanan lebih tinggi untuk menghindari serangan dari suku Mesoamerika lainnya.
Peradaban klasik suku Maya berkembang di 40 kota termasuk Tikal, Uaxactún, Copán, Bonampak, Dos Pilas, Calakmul, Palenque dan Río Bec. Setiap kota rata-rata dihuni oleh 5.000 hingga 50.000 orang. Total populasi suku ini pada masanya pernah mencapai 2 juta orang.
ADVERTISEMENT
Reruntuhan bangunan, peninggalan papan batu, tulisan tangan pada prasasti dan dinding, serta meja persembahan, menunjukkan keahlian luar biasa suku ini di bidang arsitektur, pertanian, tulisan hieroglif, kalender, matematika, seni, kedokteran hingga astronomi yang maju.
Ilustrasi peradaban Maya (sumber: http://en.lisapoyakama.org)
Setelah mendominasi sebagian besar Amerika selama ratusan tahun, pada abad ke 8 dan 9 Masehi, peradaban suku Maya tiba-tiba hilang secara misterius. Para peneliti hingga kini masih mencoba menemukan penyebab musnahnya peradaban ini. Berbagai spekulasi pun muncul, mulai dari serangan penyakit epidemik, populasi yang semakin padat, penjajahan asing, bencana alam hingga kekeringan.
Namun, suku Maya ternyata tidak benar-benar musnah. Masih ada sekitar tujuh juta orang keturunan suku Maya yang tinggal di wilayah yang dahulu ditempati leluhur mereka. Beberapa berdiam di negara Amerika Tengah modern, seperti Belize, Guatemala, Honduras bagian barat dan El Salvador. Sebagian besar tinggal dalam kelompok di beberapa negara bagian Meksiko yaitu Yucatan, Campeche, Quintana Roo, Tabasco dan Chiapas.
ADVERTISEMENT
Sekitar lebih dari 400 bangunan peningggalan Maya pun tersebar di berbagai wilayah tersebut. Beberapa di antaranya yang signifikan dan paling sering dikunjungi wisatawan mancanegara berada di Meksiko.
Peta lokasi situs peradaban Maya (sumber: Catolico.info)
Diantara lokasi ratusan situs tersebut, terdapat dua tempat terbaik untuk menelusuri peninggalan suku Maya: Chichen-Itza dan Palenque.
Chichen-Itza, Yucatan
Chichen-Itza, yang berarti “bibir (chi) sumur (chen) rakyat (Itza, salah satu suku Maya yang menetap di wilayah ini)”, pernah menjadi ibu kota dari kerajaan Maya. Dibangun oleh Raja suku Totec bernama Quetzalcoatl, Chichen-Itza adalah simbol pemujaan dan ilmu pengetahuan. Situs ini berada di area seluas 1.547 hektar, di Semenanjung Yucatan, 120 km dari Merida.
ADVERTISEMENT
Salah satu situs peninggalan suku Maya terbesar ini merupakan tujuan wisata arkeologi populer kedua di Meksiko, setelah Teotihuacan. Tercatat sekitar 2,6 juta wisatawan mancanegara mengunjungi situs ini setiap tahunnya (menurut data Kementerian Pariwisata Meksiko/SECTUR dan Institut Antropologi dan Sejarah Nasional Meksiko/INAH, 2017). Chichen-Itza juga masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-bangsa/UNESCO pada tahun 1988.
Di dalam situs Chichen-Itza terdapat beberapa bangunan yang dipisahkan satu sama lain oleh dinding yang rendah. Bangunan yang paling terkenal di situs ini adalah Piramida Kukulkan atau disebut juga “El Castillo” (kastil). Bangunan ini tidak hanya menjadi pusat keagamaan, tetapi juga berfungsi sebagai pusat astronomi suku Maya pada masa itu. Merupakan salah satu dari kuil suku Maya yang paling terawat dengan baik, pada tahun 2007 piramida ini ditetapkan sebagai salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Baru.
Peta situs Chichen-Itza (sumber: http://www.crystalinks.com/pyramidmesoamerica.html)
ADVERTISEMENT
Piramida ini dibangun untuk menyembah Quetzalcoatl, dewa suku Maya yang berwujud seperti ular bersayap. Pada musim semi dan musim gugur ekuinoks (ketika matahari berada tepat di atas garis khatulistiwa), saat matahari terbit dan terbenam, kedua sisi tangga piramida akan menghasilkan bayangan yang menyerupai bentuk ular. Ketika matahari bergerak, 'ular' tersebut tampak perlahan-lahan turun ke bumi. Tak ayal, fenomena magis ini pun menjadi saat yang dinantikan oleh puluhan ribu wisatawan.
El Castillo memiliki empat sisi, dengan masing-masing 91 anak tangga dan 1 anak tangga di puncak bangunan. Jika digabung, total anak tangga pada bangunan ini berjumlah 365 anak tangga, yang menggambarkan jumlah hari dalam tahun matahari. Di bagian puncak bangunan ini, terdapat jalan masuk menuju ruangan tempat penyimpanan Mahkota Batu Jaguar Raja Kukulkan. Anda penasaran seperti apa mahkota itu? Sayangnya, pengunjung kini tidak lagi bisa menyentuh apalagi mendaki hingga puncak El Castillo, menyusul tewasnya seorang turis wanita asal San Diego, Amerika Serikat yang jatuh pada tahun 2006.
ADVERTISEMENT
Di sisi lain situs Chichen Itza ini, terdapat the Great Ball Court, sebuah area lapangan bola tempat masyarakat suku Maya melakukan permainan “pok-ta-pok”. Permainan ini dilakukan dengan melemparkan bola melewati sebuah lingkaran yang menempel di dinding setinggi 7 meter. Bola tersebut terbuat dari bahan karet keras seberat 4-5 kg.
Lapangan bola tempat permainan pok-ta-pok dilakukan (sumber: Flickr)
Menurut chichenitza.com, permainan bola ini bukan sekedar permainan bola biasa melainkan bagian sebuah ritual dan penentuan antara hidup dan mati bagi pemainnya. Bagaimana tidak, sebagai hadiah, pemain yang berhasil melakukan lemparan bola tersebut justru harus menyerahkan kepalanya kepada pemain yang kalah untuk dipenggal dan menjadi persembahan kepada dewa. Gambaran permainan bola ini terukir pada kedua dinding di sisi lapangan ini. Disana Anda dapat melihat ukiran pemain tanpa kepala yang berlutut dengan darah di lehernya, dan pemain lain memegang kepala.
ADVERTISEMENT
Meskipun terdengar aneh, bagi suku Maya, menjadi pemenang dalam permainan ini adalah kehormatan paling tinggi. Pemenang yang juga menjadi korban persembahan mendapatkan tiket langsung menuju surga, sehingga tidak perlu mendaki 13 tangga yang dipercaya menjadi jalan ke surga.
Selain El Castillo dan the Great Ball Court, beberapa tempat lain dapat Anda telusuri di situs Chichen Itza adalah kolam persembahan "the Sacred Cenote", menara observatory El Caracol dan tempat pemujaan templo de guerreros (Temple of Warriors).
Situs Chichen-Itza masih menyimpan misteri yang menunggu untuk diungkap dan ditemukan. Sebuah penggalian yang dilakukan pada tahun 2009, misalnya, mengungkap adanya struktur bangunan terkubur yang diduga berasal dari sebelum periode Kukulkan.
Palenque - Chiapas
ADVERTISEMENT
Jika Anda ingin menikmati peninggalan suku Maya dengan suasana lebih tenang dan jauh dari keramaian wisatawan, maka Palenque adalah pilihan yang tepat. Berada di sebelah selatan negara bagian Chiapas dan Sungai Usumacinta, area Palenque dikelilingi hutan yang lebat. Menelusuri Palenque, Anda akan menemui tidak hanya sejarah tetapi juga budaya Maya yang mistis.
Situs Palenque (sumber: https://io9.gizmodo.com, Peter Andersen)
Meskipun tidak sebesar ibukota Maya lainnya seperti Chichen Itza atau Tikal di Guatemala, Palenque disebut memiliki arsitektur yang paling spektakuler. Reruntuhan bangunan di Palenque ini pun sama pentingnya dengan Chichen Itza. Nilai kemewahan dan kehebatan keahlian suku Maya tampak dari konstruksi dan relief pada bangunan yang masih terpelihara dengan sangat baik. Tema mitologi Maya yang terukir pada bangunan pun seakan menjadi bukti kejeniusan suku Maya.
ADVERTISEMENT
Menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1987, Palenque terdaftar sebagai sebuah Kota Pra-Hispanik dan Taman Nasional. Situs ini merupakan yang paling banyak diteliti dan ditulis. UNESCO menyebut situs arkeologi ini sebagai salah satu situs peradaban suku Maya periode klasik yang luar biasa.
Relief di Palenque (sumber: Wikimedia Commons)
Situs Palenque berdiri di wilayah seluas 1.780 hektar dan terdiri dari sekitar 1.400 bangunan yang terdokumentasi. Namun, hingga tahun 2017, baru 10% yang digali. Diketahui Palenque merupakan pusat kehidupan politik yang penting bagi suku Maya. Palenque mengalami masa kejayaan di antara 500 hingga 700 Setelah Masehi, di bawah kepemimpinan K’inich Janaab Pakal, atau dikenal dengan Pakal Yang Agung (Pakal the Great).
ADVERTISEMENT
Menurut peneliti dari Universitas Texas, David Stuart, sebagaimana dikutip LiveScience, Palenque yang terlihat saat ini adalah kotanya Pakal. Pakal dianggap sebagai pemimpin paling berpengaruh dan menjadi figur panutan bahkan oleh raja-raja setelahnya. Saking hebatnya Pakal, dinding makamnya yang sangat lembab dan berair dianggap turut 'menangisi' kematiannya.
Temple of Inscriptions, Palenque (sumber: Wikimedia Commons)
Salah satu bagian penting dan paling terawat di area situs Palenque ini adalah Templo de las Inscripciones (Temple of Inscriptions) yang pembangunannya diteruskan oleh putra Pakal sekitar tahun 675 sebagai monumen peringatan wafatnya ayahnya. Ketika Pakal meninggal di usia 80 tahun, jasadnya dikubur bersama dengan 5 atau 6 korban manusia di dalam makam yang dipenuhi batu giok, termasuk topeng yang dia kenakan. Makam ini baru ditemukan kembali pada tahun 1952 oleh seorang arkeolog Meksiko, Albert Ruz Lhuillier.
ADVERTISEMENT
Sama seperti El Castillo di Chichen-Itza, akses umum untuk memasuki Temple of Inscriptions juga dibatasi. Namun, masih ada bangunan lain di area situs yang dapat dikunjungi, seperti Temples of the Cross, Temple of the Sun, dan Temple of the Foliated Cross. Sebagai trailer perjalanan selengkapnya di Palenque, Anda dapat melihat video berikut.
Nah, menarik, bukan? Jika Anda berencana akan pergi ke Meksiko, sempatkanlah untuk mengunjungi situs Chichen-Itza dan Palenque ini. Waktu terbaik untuk pergi ke Chichen Itza adalah saat terjadinya fenomena ekuinoks (20 Maret dan 22 September) sehingga Anda bisa menyaksikan turunnya dewa ular bangsa Maya dari puncak El Castillo. Sementara waktu terbaik berkunjung ke Palenque adalah awal Januari hingga pertengahan Februari.
ADVERTISEMENT
Usahakan untuk tiba di kedua destinasi ini pada pagi hari (waktu buka) untuk menghindari keramaian wisatawan. Mengantisipasi suhu yang cukup panas di wilayah ini, bawa serta kacamata hitam dan lotion pelindung dari sinar matahari (sunblock) andalan Anda, ya.
Selamat menelusuri jejak peradaban Maya di Meksiko!
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan