Bangkit Kembali untuk Mimpimu, Gagal SNBP Bukan Akhir Perjuangan

Mahasiswa matematika Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari juliana iswandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dunia para pelajar yang harus menuntut diri untuk menjadi siswa terbaik, merasa diri tertinggal dengan pencapaian teman lainnya, dan hidup terasa sia-sia ketika nilai ujian tidak sesuai harapan.
Setiap pelajar pasti akan merasakan fase diri seakan lelah dengan semua hal, tidak memiliki motivasi untuk melakukan kegiatan apapun, hilang arah dalam waktu yang tidak sebentar, banyak hal yang harus dikerjakan namun mereka sendiri seperti enggan menyentuhnya, diri terasa sulit untuk berkembang, dan tertinggal jauh dari sekitar.
Apa kalian pernah di fase seperti ini? Aku yakin semua orang pernah merasakan hal ini, karena aku pun juga pernah di fase lelah dengan semuanya. Apalagi sekarang adalah masa-masa tes masuk kuliah mulai menunjukkan batang hidungnya, seakan menjadi momok menakutkan sekaligus kebahagiaan bagi beberapa pelajar yang ingin meneruskan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
Rasa takut akan kegagalan, takut diri kita mendapat laporan merah setelah belajar mati-matian, takut apa yang didoakan tidak tersemogakan. Kekhawatiran ini selalu menyelimuti hari-hari mereka ketika menuliskan baris-baris rumus yang entah bagaimana mereka bisa memecahkan rumus tersebut.
Terkadang, tes masuk universitas membuat mereka terpacu untuk belajar giat setiap hari, namun terkadang mereka yang enggan melakukan persiapan matang jauh-jauh hari seakan merasakan panic attack ketika belajar walaupun hanya melihat cover buku saja.
Pengumuman SNBP 2023 sudah keluar, banyak tangis bahagia tapi banyak juga tangis pilu. Banyak mereka yang mendapat kabar telah diterima, namun ada juga yang harus merelakan impian untuk diterima jalur SNBP.
Kita mengetahui bahwa SNBP bukanlah jalan satu-satunya untuk diterima di universitas atau perguruan tinggi impian. Tetapi coba kita lihat ke tahun-tahun sebelumnya, Lembaga Ujian Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) mengumumkan 800.852 peserta telah mendaftar pada UTBK-SBMPTN 2022.
Jumlah ini naik dibanding pendaftar UTBK-SBMPTN 2021 sebanyak 777.858 peserta. Data tersebut bisa kita jadikan patokan bahwa kemungkinan besar pendaftaran UTBK-SNBT tahun ini juga akan meningkat lagi daripada tahun sebelumnya dan daya saing mereka juga makin ketat.
Kecemasan pelajar terutama kelas 12 yang didapat dari luar maupun dalam diri bisa menjadi pemicu stres sehingga tidak fokus belajar sekaligus harus memikirkan program studi dan universitas untuk meraih cita-cita mereka.
Kita tidak boleh menyepelekan perjuangan mereka, kita juga tidak boleh menuntut banyak hal walaupun menurut kita demi kebaikan mereka juga. Bagaimana jika tuntutan yang diberikan membuat mereka lebih stres dari sebelumnya, kita harus mendukung dan memberikan ketenangan sebagai orang terdekat mereka.
Kata "semangat" pun terkadang menjadi kata ajaib untuk meredakan kecemasan mereka. Ini adalah saran yang menurutku cukup berguna untuk menemani kelas 12 berjuang meraih universitas impian.
Sikap peduli yang kita tunjukkan akan memberikan arti lebih pada setiap poin soal yang mereka kerjakan. Kita harus memberikan keyakinan kepada mereka bahwa apa pun hasil yang didapat adalah hasil yang terbaik.
Mengapa aku berbicara banyak tentang kecemasan yang dirasakan kelas 12? Fase lelah dengan semua hal dan fase di kelas 12, seperti bertaut satu sama lain. Karena di titik itulah mereka merasakan apa arti perjuangan sebenarnya, perjuangan yang dibutuhkan untuk mendapatkan yang mereka inginkan.
Meskipun mereka mendapat laporan merah di jalur SNBP ataupun jalur masuk yang lain, kita tidak boleh mematahkan semangatnya, kita tidak boleh mengguncangkan emosi mereka, kita harus memacu semangatnya agar tidak kehilangan motivasi dalam waktu yang lama.
Tidak apa jika mereka bersedih setelah mendapatkan laporan merah tersebut, namun jangan sampai kita dan diri mereka sendiri membuat kesedihan tersebut berlarut-larut, kita harus membantu mereka bangkit untuk belajar lebih giat demi masuk ke universitas dan program studi yang diimpikan, karena impian harus dikejar dan diusahakan.
Seorang pemenang adalah mereka yang bangun sekali lagi ketika mereka dirobohkan." —B.I Hanbin.
