Wujud Nasionalisme Timnas Indonesia dalam Olimpiade Melbourne 1956

Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Airlangga
Tulisan dari Julianus Palermo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sepak bola merupakan salah satu olahraga terpopuler yang dimainkan oleh penduduk di muka bumi. Sepak bola menyusuri setiap jengkal dari setiap wilayah yang ada di dunia. Seluruh wilayah di kesemua benua antara lain Asia, Eropa, Afrika, Amerika, Australia, hingga Antartika terkena oleh dampak dari daya tarik yang dihasilkan oleh Sepak bola. Penyebaran dari sepakbola yang melintas batas hingga ke seluruh penjuru dunia telah memungkinkan suatu budaya di suatu negara yang berbeda untuk mengkonstruksikan bentuk identitas tertentu melalui praktik dan interpretasi atas permainan (Guillianotti, 2006).
Sepak bola merupakan tempat dimana bermacam-macam orang dari berbagai latar belakang suku, agama, ras, dan kebudayaan bisa bersatu dan berkumpul menjadi tim yang solid dan terorganisir. Ada juga pertandingan sepak bola yang berakhir dengan ricuh karena pertengkaran yang terjadi karena latar belakang yang telah disebutkan di atas dan supporter yang tidak “dewasa”. Walau begitu, sepak bola tetap menjadi meeting point yang mendapat perhatian oleh masyarakat (Colombijn, 2010: xix-xx). Sepak bola dapat menjadi budaya di berbagai negara di dunia dan mampu mengalihkan perhatian khayalak ramai serta dapat menghadirkan suatu suguhan olahraga yang tidak hanya beresensi olahraga saja.
Sepak bola sebagai sebuah olahraga juga bisa dimanfaatkan sebagai sarana untuk menumbuhkan dan merepresentasikan nasionalisme dari sebuah negara. Ini salah satu cara yang coba diterapkan oleh presiden Indonesia pertama, Soekarno. Negara pada masa pemerintahannya berusaha untuk menjadi sepak bola sebagai sarana untuk menumbuhkan dan merepresentasikan nasionalisme. Situasi politik Indonesia yang masih belum stabil sejak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 membuat dunia persepakbolaan yang terdiri atas para pemain, supporter, pengelola, dan juga bagi para founding father, menjadi sarana menguatkan nasionalisme dan rasa kebangsaan (Aji, 2013).
Sepak bola tidak hanya dipandang dengan semboyan Romawi “men sana in corpore sano” maupun sebagai suatu kegiatan yang berorientasi kepada pertarungan antar 11 orang melawan 11 orang saja. Menggunakan sepak bola sebagai sarana meningkatkan nasionalisme sejalan dengan pemikiran Sartono Kartodirdjo bahwa nasionalisme harus memiliki wujud prestasi yang sangat diperlukan untuk menjadi sumber inspirasi dan kebanggaan bagi warga negara (Kartodirdjo, 1993:4-5). Dengan sepak bola, nama bangsa dan negara Indonesia dapat dikenang oleh bangsa-bangsa di dunia karena prestasinya yang membanggakan. Sepak bola adalah simbol dari eksistensi dari bangsa dalam kejuaraan dan turnamen antar bangsa dapat dijadikan sebagai suatu wujud dari nasionalisme sehingga nasionalisme seperti yang diungkapkan Slamet Muljana tidak akan hilang begitu saja setelah negara bangsa telah mencapai kemerdekaan dari kolonialisme (Muljana, 2008: vii-viii).
Salah satu kejadian yang menyita perhatian dunia terkait sepak bola Indonesia terjadi pada Olimpiade di Melbourne pada tahun 1956. Sepak bola dalam olimpiade mendapat banyak perhatian dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Banyaknya negara yang berminat untuk mengikuti cabang olahraga sepak bola di olimpiade membuat pihak IOC membuat format baru yaitu melaksanakan kualifikasi di benua masing-masing sebelum olimpiade dilaksanakan. Pada awal dari dilaksanakannya olimpiade pada tahun 1950-an, negara-negara dari Eropa Timur dan Amerika Latin merupakan kekuatan yang mendominasi sepak bola, yaitu Yugoslavia, Rusia, Hungaria, Brasil, dan Uruguay.
Pada keikutsertaannya yang pertama dalam Olimpiade Helsinski 1952, tim nasional sepak bola Indonesia tidak lolos dari kualifikasi zona Asia sehingga tidak bisa berpartisipasi dalam olimpiade. Baru pada Olimpiade Melbourne 1956, Indonesia berhasil lolos dari kualifikasi zona Asia karena lawannya yaitu Taiwan membatalkan keikutsertaannya dalam kualifikasi karena permasalahan diplomatik yang dihadapi dengan Indonesia. Indonesia tidak mau mengibarkan bendera nasional Taiwan serta memperdengarkan lagu kebangsaan Taiwan karena Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik secara resmi dengan Taiwan dan Indonesia juga pada medio tahun 1950-1960an menjalin hubungan diplomatik yang erat dengan Republik Rakyat Tiongkok. Batalnya Taiwan datang ke Jakarta untuk bertanding membuat tim nasional Indonesia mendapatkan “durian runtuh” dari FIFA. Untuk pertama kali dalam sejarah keikutsertaan Indonesia dalam olimpiade, Indonesia mendapat tempat di cabang olahraga sepak bola dan dalam drawing bertemu dengan Rusia yang merupakan unggulan dan favorit sebagai juara cabang olahraga sepak bola di Olimpiade Melbourne yang diadakan dari tanggal 22 November hingga 8 Desember 1956 (“Kes. Indonesia Djadi Ke Melbourne” 1956).
Pertandingan antara Indonesia dan Rusia dilangsung di Stadion Olympic Park yang dekat dengan arena kolam renang juga. Beberapa jam sebelum tim nasional sepak bola bermain, perlombaan renang diadakan di kolam renang tersebut dan terdapat dua atlet renang Indonesia yang sedang bertanding yaitu Habib Nasution dan Ria Tobing. Karena terjadi pertandingan renang tersebut, maka sudah banyak supporter Indonesia yang sebelumnya berkumpul untuk menyaksikan. Setelah pertandingan renang tersebut selesai, maka supporter Indonesia langsung bergeser secara berduyun-duyun ke stadion untuk melibatkan semangat nasionalisme melalui pertandingan sepak bola (Aji, 2016).
Tidak ada yang menyangka bahwa tim nasional Indonesia bisa memberikan perlawanan yang sepadan terhadap Rusia. Indonesia berhasil menahan imbang Rusia dengan skor 0-0 pada perandingan yang berlangsung selama 2x45 menit serta extra time 2x15 menit. Majalah Aneka menjelaskan dalam laporan mengenai pertandingan tersebut bahwa timnas Indonesia tangguh dalam sisi defensif:
Sungguhpun orang-orang Rusia selalu berada dalam pihak menyerang dan barisan depan mereka selalu mengetok-kotok pintu gawang Saelan, bola tidak ada jang masuk. Tembakan2 Strelzsov, itu gol getter Rusia jang terkenal karena kedua belah kakinja hidup dan dapat menendang sama kuat dengan kaki kiri maupun kanan, selalu menjamping atau melajang keudara. Bertubi-tubi matjam serangan orang2 rusia itu, dari tengah, bola selalu digiring oleh Netto, Tatuchine atau Ryjkine. Tetapi dimuka gawang, serbuan mereka itu dapat dibendung oleh pemain2 belakang kita, jang pada hari itu bertekun mati-matian djangan sampai ada satu orang jang lolos.
[...]
Hasil Draw melawan Rusia menimbulkan keheranan dikalangan penonton2. Djuga pers jang hadir dan banjak terdiri dari pers di Eropah dan Australia menjatakan kekagumannja setelah melihat pertahanan Indonesia jang tidak padam itu. Antara lain jang hadir adalah Dr. Willy Meisl, itu ahli sepak bola terkenal di atas dunia ini, dan Sepp Herberger, itu pelatih kesebelasan Djerman, Len Todd dari Brisbane Telegrapgh dan Comentator dalam Australian Brodcasting Company mengatakan bahwa baru sekali ini ia melihat satu pertahanan jang tidak dapat dipatahkan setelah mendapat tekanan jang berat sekali.” (“Indonesia-Russia: 0-0” 1956)
Keberhasilan dari timnas sepak bola Indonesia yang berhasil menahan gempuran dari timnas Rusia ini juga diabadikan oleh surat kabar luar negeri yang mana potongan berita tersebut dijadikan sampul oleh Madjalah Olahraga:
Miracle defence hold Russia to scoreless draw
Indonesia held hot favorite Russia to a scoreless draw in the first hock result of the Olympic football tournament yesterday. When neither side had broken throught after 30 minutes extra time, a replay was ordered for 10.30 a.m. tomorrow at Olympic Park.
.... The Russians were masters everywhere on the filed except where it counted most-in the goal square. Russia sent the ball over the goal line 46 times, forced 23 corner kicks, and compelled keeper Saelan to defend his goal for 20 saves. In all Saelan put the ball back into play 66 times during the 120 minutes of play.
... twenty-one very tired players and one very cold Russian goalkeeper left the field at the end of the two hours (“Miracle Defence” 1956).
Pada pertandingan replay, akhirnya Indonesia harus menyerah kepada Rusia dengan skor telak 4-0. Pada saat itu belum diterapkan mengenai aturan adu tendangan pinalti ketika pertandingan telah melewati 2x45 menit dan 2x15 menit. Pertandingan dengan hasil seri harus dilakukan pertandingan ulang. Meski kalah, tim nasional sepak bola Indonesia berhasil mengharumkan dan membanggakan Indonesia di depan mata bangsa-bangsa di dunia. Para pemain telah berjuang sampai akhir dengan semangat juang serta nasionalisme yang mereka miliki dan para suporter yang menonton langsung di Melbourne juga menunjukkan sikap nasionalisme yang sama besarnya untuk mendukung perjuangan tim olahraga Indonesia dalam gelaran olimpiade. Tim nasional sepak bola Rusia akhirnya keluar sebagai juara dalam cabang olahraga sepak bola dan berhak merengkuh medali emas.
Suatu hasil yang membuat bangsa-bangsa di dunia terkejut dengan ketangguhan tim nasional Indonesia menahan serangan tim nasional Rusia membuat sepak bola Indonesia akhirnya turut berjuang untuk meneguhkan eksistensi bangsanya dan membentuk suatu bangsa yang aktual dan potensial (Aji, 2016). Perjuangan tim nasional sepak bola Indonesia pada Olimpiade Melbourne 1956 juga menjadi suatu bukti dimana memperjuangkan eksistensi dan nasionalisme dari sebuah bangsa dan negara tidak melulu hanya dengan senjata dan berpolitik. Tim tersebut juga menunjukkan bagaimana cara menyalurkan nilai-nilai perjuangan bangsa lewat cara mereka masing-masing yaitu melalui sepak bola dan membawa nama Indonesia harum di dalam gegap gempita serta hingar bingar kejuaraan olahraga antar bangsa-bangsa.
Daftar Pustaka
Aji, Rojil Bayu. 2013. Nasionalisme dalam Sepak Bola Indonesia Tahun 1950-1965. Lembaran Sejarah, Vol 10, (2).
Aji, Rojil Bayu. 2016. Sepak Bola dan Eksistensi Bangsa Dalam Olimpiade Masa Orde Lama (1945-1966). Mozaik Humaniora Vol 16 (1): 92–103.
Colombijn, Freek, “The Politics of Indonesian Football”, dalam Archipel No. 59/2000.
“Free-Kicks.” 1956. Madjalah Olahraga, 25 April.
Giulianotti, Richard, Sepak Bola Pesona Sihir Permainan Global. Yogyakarta: Apeiron Philotes, 2006.
“Indonesia-Russia: 0-0.” 1956. Aneka, 10 Desember.
Kartodirdjo, Sartono, Nasionalisme, Lampau dan Kini, hlm. 4-5. Sebuah makalah yang disampaikan pada seminar tentang “Nasionalisme Indonesia Menjelang dan Pada Abad XXI” yang diselenggrakan oleh Yayasan Bina Darma di kampus Universitas Kristen Satya Wacana tanggal 2-5 Juni 1993.
“Kes. Indonesia Djadi Ke Melbourne.” 1956. Madjalah Olahraga, 5 Djuli.
“Miracle defence hold Russia to scoreless draw.” 1956. Madjalah Olahraga, 5 Desember.
Muljana, Slamet, Kesadaran Nasional Dari Kolonialisme Sampai Kemerdekaan Jilid II. Yogyakarta: LkiS, 2008
