Panggung Politik Kita: Adu Argumen Substantif atau Sekadar Sensasi?

Mahasiswa S1 ilmu Hukum UIn Sunan Kalijaga Yogyakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Julkiflin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap kali sebuah persoalan publik muncul, kita tahu ke mana perhatian akan mengalir. Bukan ke dokumen kebijakan yang tebal, bukan ke angka-angka di balik anggaran, dan bukan ke substansi aturan yang sedang dibahas. Perhatian kita mengalir ke potongan video lima belas detik, ke kalimat paling tajam, ke gestur paling dramatis.
Panggung politik kita hari ini memang ramai. Tapi ramai belum tentu berisi. Kadang yang kita saksikan bukan adu gagasan, melainkan adu sensasi — siapa yang paling lantang, siapa yang paling cepat memancing emosi, siapa yang paling fasih membuat kita marah tanpa perlu menjelaskan apa pun. Sorak penonton pun lebih keras daripada isi pembicaraan, dan kita mulai terbiasa mengukur kemenangan dari seberapa riuh sebuah keributan, bukan dari seberapa jernih sebuah penjelasan.
Pertanyaannya sederhana, meski jawabannya tidak: panggung politik kita sedang menguji argumentasi, atau sedang menjual kegaduhan?
Ketika Substansi Kalah oleh Framing
Ada pola yang terasa berulang. Satu kebijakan dilempar ke ruang publik, tetapi yang dibahas bukan isinya. Yang dibahas adalah siapa yang mendukung dan siapa yang menolak. Begitu seseorang dianggap berada di kubu yang salah, argumennya otomatis gugur — bukan karena lemah secara logika, tetapi karena identitasnya.
Kita sering memperdebatkan siapa, bukan apa. Kita menilai pembawa pesan, bukan isi pesan. Akibatnya, sebuah usulan bisa dibolak-balik tanpa pernah benar-benar dibaca, dan sebuah kritik diabaikan hanya karena yang menyampaikannya tidak kita sukai. Inilah bentuk kemalasan berdemokrasi yang paling halus: merasa sudah berpikir kritis padahal baru memilih kubu, merasa sudah berpendapat padahal baru menirukan emosi yang disuntikkan layar.
Sensasi Bekerja Cepat, Argumen Bekerja Lambat
Kita perlu jujur soal satu hal: sensasi memang lebih menguntungkan. Ia menaikkan tontonan, memicu percakapan, dan menghasilkan reaksi dalam hitungan menit. Argumen substantif bekerja sebaliknya — lambat, membosankan, dan sering tidak menghasilkan sorotan apa pun.
Ekonomi perhatian kita memberi hadiah kepada yang paling berisik, bukan yang paling benar. Algoritma tidak peduli apakah sebuah klaim bisa dipertanggungjawabkan; ia peduli apakah klaim itu membuat orang berhenti menggulir layar. Maka lahirlah insentif yang aneh: lebih aman menyerang pribadi daripada berdebat soal data, lebih cepat menjual kemarahan daripada menawarkan solusi.
Masalahnya, demokrasi tidak dirawat oleh kemarahan yang cepat terbakar dan cepat padam. Demokrasi dirawat oleh kebiasaan bertanya, memverifikasi, dan membiarkan gagasan diperiksa secara terbuka — semua itu butuh kesabaran, komoditas yang paling langka di ruang publik hari ini. Selama kita hanya mengejar yang paling menggigit, kita akan terus kehilangan yang paling penting.
Yang Kita Pertaruhkan
Ada harga mahal yang harus dibayar ketika panggung dipenuhi sensasi. Pertama, kebijakan buruk bisa lolos tanpa pemeriksaan serius karena energi publik habis dipakai bertengkar soal simbol. Kedua, publik kehilangan kemampuan membedakan informasi dari provokasi — bahan bakar subur bagi hoaks. Ketiga, dan yang paling berbahaya, kita mulai menganggap wajar jika perbedaan pendapat diselesaikan dengan menghancurkan lawan, bukan dengan mengalahkan gagasan.
Jika terus dibiarkan, yang runtuh bukan hanya kualitas debat publik, tetapi juga kepercayaan bahwa berdemokrasi masih berguna. Ketika warga merasa suaranya hanya bagian dari keramaian yang tak pernah menjelaskan apa-apa, mereka akan berhenti peduli. Dan demokrasi yang ditinggalkan warganya adalah demokrasi yang paling rentan dibajak.
Bukan Salah Panggung, tetapi Salah Kita
Mudah menyalahkan media, politikus, atau algoritma. Sebagian tuduhan itu sah. Tetapi panggung juga dibentuk oleh penontonnya. Setiap kali kita mengklik hanya yang bikin marah, membagikan tanpa membaca, dan menghakimi tanpa memeriksa, kita sedang menabung untuk kegaduhan berikutnya.
Maka perubahan harus dimulai dari kebiasaan sederhana yang tidak populer:
Bertanya lebih dulu sebelum percaya. Siapa yang bicara, apa dasarnya, apa yang ia tinggalkan dari cerita?
Memisahkan orang dari gagasan. Menolak seseorang tidak otomatis membuat gagasannya salah.
Menuntut yang spesifik. Bukan "kebijakan ini buruk", tetapi di bagian mana, dengan bukti apa, dan alternatif apa.
Bersedia mengakui lawan bicara bisa benar. Ini terasa berat justru karena kita sudah terlatih menganggap politik sebagai pertandingan, bukan percakapan.
Tidak ada satu pun dari ini yang menghasilkan sorotan. Tidak ada yang viral. Tetapi justru itu intinya: yang merawat demokrasi hampir selalu hal-hal yang tidak menghasilkan tepuk tangan.
Menutup Panggung atau Mengisi Panggung
Panggung politik kita tidak akan sepi. Sensasi akan selalu punya kursi depan, dan tidak ada gunanya berpura-pura sebaliknya. Pilihan yang tersedia bukan antara panggung yang gaduh dan panggung yang sunyi, melainkan apakah kita bersedia mengisi panggung itu dengan sesuatu yang lebih berat daripada bunyi.
Demokrasi yang sehat memang tidak selalu enak ditonton. Ia kadang membosankan, penuh nuansa, dan menuntut kita menahan diri untuk tidak menyimpulkan terlalu cepat. Tetapi di situlah bedanya antara warga yang hanya mengikuti pertandingan dan warga yang ikut mengurus negara.
Bagu saya, Pertanyaan di judul tulisan ini bukan untuk dijawab dengan satu kata, melainkan untuk dijawab setiap hari — lewat cara kita membaca, mendengar, dan berbicara satu sama lain. Panggungnya sudah berdiri. Tinggal kita memilih: mengisinya dengan argumen, atau membiarkannya tenggelam dalam tepuk tangan bagi sensasi.
