Bahkan Manusia Super Pun Punya Rasa Takut

Saya seorang pegawai BUMD dan alumnus Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan. Belajar menulis sebagai terapi.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Julpadli tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Refleksi diri dari film Superman 2025
Seorang sahabat sering mengutip perkataan Umar ibn Khattab tentang takdir dan tampak selalu relevan dengan kondisi manusia modern.
Apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku.
Di era ketika segala hal bisa diukur—likes, followers, views, pencapaian karier, saldo rekening, bahkan jumlah langkah harian—manusia modern hidup dalam ilusi bahwa nilai dirinya ditentukan oleh angka. Kita seperti sedang berpacu dalam lomba maraton tanpa garis akhir, terus berlari meski kaki sudah gemetar. Dan ironisnya, sebagian dari kita bahkan merasa bersalah ketika berhenti sejenak. Seolah-olah diam itu dosa.
Lantas kita mencari panutan. Tokoh sempurna. Sosok tak terkalahkan yang bisa menenangkan hati kita. Salah satu tokoh yang terus hidup dalam benak banyak orang adalah Superman. Ia kuat, cepat, bisa terbang, tidak bisa dilukai, dan selalu tahu mana yang benar. Tapi, benarkah Superman benar-benar tanpa cela?
Mari kita tarik napas sebentar. Pikirkan ini: Bahkan Superman pun punya kelemahan. Bukan hanya kryptonite, tapi juga rasa takut. Takut kehilangan orang yang ia cintai. Takut membuat keputusan yang salah. Takut tidak bisa menyelamatkan semua orang. Dan yang paling manusiawi: takut tidak diterima, meski ia adalah penyelamat dunia.
Rasa takut ini bukan milik Superman saja. Ia adalah milik setiap manusia. Termasuk mereka yang terlihat paling kuat, paling sukses, atau paling bijak. Dan jika kita berhenti sejenak untuk menyadari ini, kita akan menemukan satu kebenaran sederhana: kemanusiaan itu sendiri adalah gabungan antara kekuatan dan ketakutan.
Zaman sekarang tidak kekurangan “manusia super”. Setiap hari, media sosial menyajikan tokoh-tokoh sempurna: pengusaha muda sukses, ibu rumah tangga multitalenta, anak-anak jenius, influencer spiritual, dan seterusnya. Mereka tampak tak punya kekurangan. Tapi di balik layar, tak sedikit dari mereka yang hidup dalam tekanan, cemas gagal memenuhi ekspektasi, dan diam-diam merasa kosong.
Kita hidup dalam dunia yang menghargai produktivitas lebih dari perenungan, pencapaian lebih dari ketenangan batin. Kita lekat pada citra—tentang siapa kita, bagaimana orang melihat kita, apa yang harus kita punya. Bahkan dalam waktu luang pun, kita takut tak terlihat “bermanfaat”.
Di sinilah filsafat hadir, bukan sebagai teori tinggi yang hanya bisa dibaca di perpustakaan universitas, tapi sebagai lensa untuk menilik ulang cara kita hidup.
Friedrich Nietzsche punya satu gagasan menarik: Übermensch atau Superman, sang manusia unggul. Ini bukan manusia super dalam pengertian fisik, melainkan seseorang yang berani menciptakan makna hidupnya sendiri. Ia tidak tunduk pada aturan moral lama yang usang, tidak hidup berdasarkan apa kata orang, dan tidak memuja kekuatan eksternal. Übermensch bukan anti-sosial, tetapi anti-kemelekatan terhadap norma-norma yang mengekang jiwa.
Dalam konteks manusia modern, Nietzsche seakan berkata: “Hei, berhentilah memperbudak dirimu demi validasi. Jadilah penentu arahmu sendiri.”
Tapi menjadi Übermensch bukan berarti tidak punya rasa takut. Justru ia berani menatap ketakutan itu, bukan melarikan diri atau menyamarkannya dalam kesibukan. Ia menjadikan rasa takut sebagai bahan bakar, bukan belenggu. Ini bukan perkara menjadi sempurna, melainkan menjadi otentik layaknya bayi yang menerima segala kehidupan dengan tangan terbuka.
Berbeda dengan Nietzsche yang penuh perlawanan, filsafat Stoikisme mengajarkan ketenangan hati melalui penerimaan. Epictetus dan Marcus Aurelius mengatakan, kebahagiaan bukan terletak pada mengontrol dunia luar, tapi dalam menguasai respons kita terhadapnya.
Stoik mengajarkan kita untuk membedakan antara apa yang bisa kita kendalikan (pikiran, sikap, keputusan) dan apa yang tidak bisa kita kendalikan (cuaca, pendapat orang, hasil). Dari sini lahir ketenangan yang sejati.
Dalam konteks Superman: Ia tidak bisa menyelamatkan semua orang. Tapi ia tetap memilih untuk berbuat baik. Ia tidak bisa menghentikan semua kejahatan. Tapi ia tidak menyerah pada ketidakadilan. Ini bukan kekuatan otot, tapi kekuatan batin.
Manusia modern bisa belajar dari sini. Kita tidak bisa mengendalikan perubahan dunia, kemajuan teknologi, krisis ekonomi, atau sikap orang terhadap kita. Tapi kita bisa mengendalikan apa yang kita tanam di hati: apakah kita hidup dengan ketulusan atau kemelekatan. Apakah kita memilih tenang, atau terus dikejar bayang-bayang “kurang”.
Superman, Nietzsche, dan para filsuf Stoik sejatinya berbicara tentang hal yang sama dengan cara berbeda: menjadi manusia bukan tentang menjadi sempurna, tapi tentang keberanian menghadapi keterbatasan.
Kita tak perlu menjadi manusia super. Kita hanya perlu cukup berani untuk mengakui bahwa kita takut. Takut gagal, takut ditinggalkan, takut tak berarti. Dan dari situ, kita bisa mulai membebaskan diri dari jerat kemelekatan yang menyamar sebagai tujuan hidup.
Kemelekatan itu banyak bentuknya: pada status sosial, pada pencapaian, pada opini publik, bahkan pada citra diri. Dan saat kita terlalu melekat, kita mulai hidup bukan untuk merdeka, tapi untuk tampil. Bukan untuk tumbuh, tapi untuk terlihat. Padahal, kehidupan bukanlah panggung untuk dinilai, melainkan ladang untuk dihayati.
Tulisan ini bukan sindiran untuk Superman, melainkan pengingat bahwa bahkan tokoh sekuat apa pun tetap memiliki sisi manusiawi yang rapuh. Justru dari sana, kita bisa belajar bahwa kekuatan sejati bukanlah bebas dari rasa takut, tapi mampu hidup berdampingan dengannya.
Bahkan jika kita merasa kecil, gagal, atau tidak tahu arah, kita tetap punya satu kekuatan: kesadaran untuk memilih. Memilih untuk hadir. Memilih untuk jujur. Memilih untuk tidak menjadi budak kemelekatan.
Ketika merasa tertinggal, berhenti sejenak. Lihatlah ke dalam. Tanyakan: Apakah aku hidup untuk diriku sendiri, atau untuk penilaian orang lain? Karena mungkin, yang membuat kita lelah bukan dunia ini terlalu berat. Tapi karena kita membawa beban yang bukan milik kita. Dan saat kita meletakkan beban itu, kita akan tahu: bahkan tanpa menjadi manusia super, kita telah cukup dengan menjadi manusia. Superman is nobody.
