Mencari Makna Keberanian

Saya seorang pegawai BUMD dan alumnus Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan. Belajar menulis sebagai terapi.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Julpadli tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Keberanian adalah keutamaan inspiratif yang tumbuh bersama harapan akan senantiasa hadirnya keadilan dan kebenaran. Ia digunakan seringkali untuk memuji tindakan manusia. Kita menyebut seorang prajurit berani karena siap sedia menuju medan perang.
Begitu pun ketika seseorang berterus terang mengakui kesalahannya, kita sematkan kata pemberani. Namun, pernahkah kita benar-benar tahu apa arti keberanian itu sendiri? Sebuah pertanyaan yang juga hadir dalam sebuah dialog ribuan tahun silam karya Platon, Lakhes.
Dialog Lakhes adalah salah satu dialog yang ditulis oleh Platon pada masa muda dengan metode dan pendekatan Sokrates, gurunya. Menurut Setyo Wibowo-dosen Filsafat pada Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara dan peniliti sekaligus penerjemah teks Platon, corak Sokratik menekankan pada beberapa hal, yakni: keinginan untuk menemukan definisi universal untuk hal-hal etis. Kedua, memusatkan perhatian pada etika dan politik.
Ketiga, menggunakan cara berpikir induktif. Keempat, seringkali berakhir dengan aporia yakni kebingungan yang mengajak senantiasa berpikir. Dialog Lakhes hadir dalam upaya mencari definisi universal dari keberanian dan berakhir tanpa ada pendefinisian yang disepakati.
Dalam dialog Lakhes terdapat beberapa tokoh yang saling berdiskusi diantaranya Sokrates, Lakhes, Nikias, Lysimakhos, Melesias dan anak-anaknya. Para ahli memperkirakan dialog tersebut terjadi di sebuah palaistra atau gymnasion, ruang interaksi publik di mana pertunjukkan seni, olahraga ataupun diskusi-diskusi intelektual biasa dilakukan. Dialog dimulai dari Lysimakhos yang bertanya kepada Lakhes dan Nikias mengenai apakah hoplomaxia bisa dipilih sebagai model pendidikan untuk anak-anak mereka dapat menjadi manusia yang terbaik (aristoi).
Lysimakhos dan Melesias adalah putra-putra negarawan besar Anthena namun mereka merasa tidak diperhatikan pendidikannya oleh orang tua mereka. Oleh karena itulah, mereka menginginkan pendidikan terbaik untuk anak-anaknya. Sedangkan Lakhes dan Nikias adalah 2 jenderal dan politisi besar yang dikenal tangguh dan melewati beberapa peperangan.
Hoplomaxia adalah sebuah seni bertempur yang dianggap ampuh untuk membekali anak-anak dalam karier militer dan politik. Pada akhir abad ke-5 SM, hoplomaxia merebak tidak hanya menjadi tren namun juga menjadi perdebatan terkait gunanya sebagai pendidikan. Seni bertempur dengan menggunakan senjata menjadi mode latihan militer yang populer dan tersebar luas pada abad ke-4 SM bahkan pada titik tertentu latihan tempur ini dinilai setara dengan retorika oleh kalangan Sofis.
Setelah mendapat pertanyaan tersebut Lakhes dan Nikias memberikan jawabannya masing-masing. Namun keduanya sepakat bahwa Lysimakhos dan Melesias seharusnya menanyakan hal tersebut kepada Sokrates yang berasal dari deme atau desa yang sama dengan Lysimakhos. Sokrates putra Sophronikos sendiri telah dikenal luas dan mendapat pujian oleh anak-anak muda di gymnasion. Meskipun Sokrates paling muda diantara tokoh-tokoh tersebut, ia mengisyaratkan bahwa siap memberikan nasihat-nasihat terbaiknya untuk persoalan yang sedang didiskusikan.
Dengan sopan Sokrates memilih sebagai pendengar dan belajar dari pendapat yang akan dikemukakan masing-masing peserta dialog. Mulanya Sokrates meminta pendapat Nikias mengenai hoplomaxia. Nikias berpendapat bahwa dari berbagai aspek, pelajaran hoplomaxia itu berguna bagi anak-anak muda untuk mengisi waktu luang mereka karena akan meningkatkan kesehatan tubuh mereka tidak kalah dengan yang biasa diberikan di gimnasium apalagi jika digabungkan dengan ketangkasan berkuda. Hoplomaxia sebagai titik pijak yang membuat seseorang berhasrat untuk mempelajari hal-hal yang lebih tinggi lagi seperti strategia, sebuah pelajaran tentang leadership. Dengan itu seseorang akan menjadi lebih gagah berani.
Mendengar penjelasan panjang, Lakhes pun segera menyampaikan pendapat dan sanggahannya terhadap pendapat Nikias. Lakhes menegaskan jika hoplomaxia pantas untuk dipelajari dan memberi manfaat maka hal tersebut tidak akan luput dari orang-orang Lakedaimona dan akan mempelajarinya. Mengingat orang-orang tersebut selalu memperhatikan, mencari dan mempraktikkan pelajaran dan latihan apa pun yang akan membuat mereka lebih unggul dalam peperangan dibandingkan bangsa lainnya. Dan para pengajar hoplomaxia tidak ada yang berani memasuki Lakedaimona, tanah Sparta.
Setelah mendengar pendapat Nikias dan Lakhes, Sokrates mulai menggeser topik bahasan yang cenderung praktis ke arah yang lebih dalam dengan mengajukan pertanyaan filosofis tentang apa itu keberanian? Dengan pertanyaan singkat tersebut, ruang diskusi terbuka lebar dan melampaui batas-batas pendidikan hoplomaxia. Nikias menyadari jika berdiskusi dengan Sokrates mereka akan dibawa kepada hal yang paling mendasar dan itu semua adalah tentang diri kita sendiri.
Atas pertanyaan apa itu keberanian, Lakhes dengan sigap merumuskan bahwa setiap orang yang menjaga teguh posisi dalam barisannya, siap menghadapi musuh dan tidak melarikan diri itulah pemberani. Akan tetapi, Sokrates tidak puas. Ia menanyakan, bukankah ada prajurit yang justru lebih berani ketika mundur dengan cerdas untuk menyusun strategi baru?
Bertahan mati-matian kadang bukan keberanian, melainkan kebodohan.
Definisi pertama pun goyah. Lakhes kemudian mencoba lagi: keberanian adalah keteguhan jiwa. Sekilas, ini terdengar lebih luas dan lebih filosofis. Tetapi Sokrates kembali menguji. Bukankah keteguhan yang lahir dari kebodohan justru berbahaya? Seorang yang keras kepala bisa tampak tegar, namun tanpa pengetahuan ia hanya menjerumuskan dirinya dan orang lain. Maka keteguhan jiwa tanpa kebijaksanaan tidak bisa dianggap keberanian sejati.
Tidak ingin kehilangan momen, Nikias pun segera memberi pendapatnya setelah Sokrates menyatakan mengalami kebuntuan dan kebingungan.
Nikias memulai pendapatnya dengan mengutip perkataan Sokrates sendiri bahwa tiap orang selalu baik dalam hal di mana ia berpengetahuan dan buruk dalam hal di mana ia bodoh. Dengan demikian, jika seseorang pemberani itu dikatakan baik maka dengan sendirinya ia berpengetahuan.
Sokrates kemudian menegaskan bahwa ia menilai maksud dari Nikias adalah keberanian merupakan semacam pengetahuan. Nikias melanjutkan bahwa keberanian adalah ilmu tentang apa yang harus ditakuti atau apa yang harus dipercayai, entah itu dalam peperangan atau situasi lainnya.
Definisi ini terdengar sangat filosofis, mendekati ranah epistemologi, yakni filsafat tentang pengetahuan. Namun, Sokrates kembali menyoroti masalahnya: pengetahuan semacam itu bukan hanya keberanian, melainkan hampir seluruh kebijaksanaan moral. Seorang yang sungguh tahu apa yang pantas ditakuti dan diharapkan akan memiliki pandangan tentang seluruh kehidupan, bukan sekadar tentang keberanian. Maka definisi Nikias terlalu luas, hingga kehilangan fokusnya. Dari uraian Nikias, Sokrates mengejar dengan menyatakan tampaknya keberanian adalah salah satu bagian dari keutamaan atau kebijaksanaan.
Meski dialog tersebut diakhiri tanpa kesimpulan definitif, dari 2 orang lawan bicara Sokrates kita dapat mengurai bahwa Lakhes berorientasi pada ergon (tindakan nyata) sedangkan Nikias berfokus pada logos (pengetahuan). Sehingga keberanian mungkin saja kita konsepsikan sebagai keteguhan jiwa untuk bertindak yang ditopang oleh pengetahuan akan kebaikan-kejahatan.
Tindakan tanpa pengetahuan bisa membuat kita terjebak kepada kecerobohan sedangkan pengetahuan tanpa tindakan akan membawa kita kepada kepengecutan.
Aristoteles, murid Platon, kelak mendefinisikan keberanian sebagai kebajikan yang berada di antara dua ekstrem, yaitu pengecut dan gegabah. Seseorang yang takut berlebihan akan terjebak dalam kepengecutan, sementara seseorang yang sama sekali tidak takut bisa jatuh pada tindakan sembrono. Keberanian yang sejati adalah kemampuan menjaga keseimbangan, berani karena tahu apa yang diperjuangkan dan mengapa layak diperjuangkan.
Keberanian sejati memerlukan semacam penilaian yang rasional: apa yang sedang dipertaruhkan, apakah tujuan tindakan itu benar, dan apakah konsekuensinya layak ditanggung.
Dengan kata lain, keberanian bukan hanya soal hati, melainkan juga soal akal. Dalam konteks modern, ini berarti bahwa keberanian sejati menuntut informasi yang benar, pemahaman yang memadai, dan refleksi moral yang matang.
