Transformasi Budaya: Mengenal The 360˚ Leader

Saya seorang pegawai BUMD dan alumnus Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan. Belajar menulis sebagai terapi.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Julpadli tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Saya memiliki sebuah buku yang menginspirasi dan menjadi salah satu rujukan dalam pengembangan diri saya pribadi. Buku tersebut berjudul The 360˚ Leader yang ditulis oleh John C. Maxwell, seorang pakar leadership di Amerika, penulis terlaris versi New York Times dan telah menulis lebih dari 40 buku terkait pengembangan diri dan leadership.

Buku yang terdiri dari 6 bagian dan 1 bagian khusus mengulas tentang makna kepemimpinan dan bagaimana menjadi pemimpin yang efektif. Menurut Maxwell, 99% dari keseluruhan kepemimpinan tidak berasal dari posisi puncak melainkan dari bagian tengah organisasi (middle manager) namun seringkali kita terjebak pada apa yang disebutnya sebagai mitos seputar kepemimpinan. Keterjebakan tersebut lahir dari pengertian dan pemahaman mengenai apa itu kepemimpinan.
Seringkali kita mendiskusikan apakah pemimpin itu dilahirkan (nature) ataukah dibentuk (nurture). Pada makna dasarnya, bagi Maxwell, pemimpin adalah seseorang yang mampu mempengaruhi orang lain untuk mencapai sebuah tujuan bersama. Sehingga kepemimpinan dapat diartikan sebagai seni mempengaruhi orang lain. Pada pengembangan seni inilah Maxwell menghadirkan istilah Pemimpin 360 derajat (The 360˚ Leader). Sebuah konsep kepemimpinan yang efektif dan produktif karena menempatkan individu pemimpin ke segala arah. Maxwell percaya kepemimpinan itu dapat dikembangkan pada setiap individu dan tidak melekat pada sebuah posisi atau gelar belaka.
Pada bagian pertama, diuraikan adanya 7 mitos seputar kepemimpinan. Pertama, mitos posisi. Bagi Maxwell, kekeliruan utama yang dilakukan orang dalam memahami konsep kepemimpinan adalah keyakinan bahwa kepemimpinan muncul hanya jika memiliki suatu posisi atau gelar tertentu. “Sebuah tempat di puncak tidak akan secara otomatis membuat siapapun menjadi seorang pemimpin” pungkasnya. “Ukuran yang sesungguhnya dari kepemimpinan adalah pengaruh – tidak kurang, tidak lebih” lanjutnya. Kita bisa memimpin dari manapun, dalam posisi apapun jika kita meningkatkan keterampilan kepemimpinan dan mengembangkan pengaruh ke orang-orang sekitar.
Kepemimpinan adalah pilihan yang anda buat, bukan tempat yang anda duduki. Siapa pun dapat memilih untuk menjadi seorang pemimpin di mana pun ia berada. Anda dapat membuat suatu perbedaan, tak peduli di mana pun Anda berada” Maxwell.
Kedua, mitos tujuan jabatan. Pada mitos kedua ini, Maxwell bercerita tentang juru tulisnya bernama Charlie wetzel yang bertekad untuk mengikuti lomba lari marathon di pusat kota Chicago. Untuk mengikuti lomba tersebut, Charlie bukan hanya rutin berlatih karena berat badannya diatas bobot ideal untuk pelari marathon namun juga membaca berbagai ulasan tentang perlombaan yang diadakan rutin setiap tahunnya. Ia juga membaca berbagai artikel, berdiskusi dengan pelari marathon lainnya bahkan ia merekrut seorang teman untuk berlari bersama di acara tersebut. Tekadnya mengikut acara tersebut dengan memulai proses dan antusias jauh sebelum acara dimulai.
Bagi Maxwell, kepemimpinan sangat mirip dengan cerita tersebut. Jika kita ingin sukses, kita perlu mempelajari sebanyak mungkin hal tentang kepemimpinan sebelum kita memegang posisi tertentu (tidak menjadikan posisi tertentu sebagai tujuan). Kepemimpinan yang baik dipelajari langsung di lapangan. Memimpin sebaik mungkin di mana pun kita berada adalah hal yang mempersiapkan kita untuk memikul tanggung jawab yang lebih banyak dan besar.
“Menjadi seorang pemimpin adalah proses pembelajaran seumur hidup. Jika anda tidak menguji coba keterampilan kepemimpinan dan proses pembuatan keputusan anda saat taruhannya kecil dan risiko rendah, anda mungkin akan terjerumus ke dalam masalah pada level yang lebih tinggi saat berbuat kesalahan menjadi lebih tinggi, dampaknya meluas, dan keterpaparannya lebih besar”.
Ketiga, mitos pengaruh kuasa. Bagi Maxwell, orang yang tidak memiliki pengalaman dalam memimpin memiliki kecenderungan untuk meremehkan pentingnya jabatan kepemimpinan. Kita mungkin dapat memberikan posisi tertentu kepada seseorang, tetapi kita tidak dapat memberinya kepemimpinan sejati. Kepemimpinan harus diperoleh dengan usaha. Keempat, mitos tidak berpengalaman. Tanpa pengalaman sebagai orang teratas di suatu organisasi, kita mungkin akan terlalu melebih-lebihkan besarnya kendali yang kita miliki ketika di puncak.
Kita seringkali berkomentar terhadap para pemimpin diatas kita bahwa jika kita ada di posisi tersebut, kita bisa melakukan ini atau tidak melakukan itu (dengan demikian menilai bahwa mereka tidak berpengalaman). Padahal kita hanya sedang berandai-andai. Semakin tinggi jabatan, kita semakin sadar bahwa ada banyak faktor yang mengendalikan organisasi tersebut. Berada “di puncak” memiliki rangkaian persoalan dan tantangannya sendiri.
Kelima, mitos kebebasan. Menurut Maxwell, banyak orang berharap kepemimpinan dapat menjadi tiket untuk mendapatkan kebebasan. Kepemimpinan akan memberi solusi bagi persoalan profesional dan karier. Namun, berada di puncak bukanlah penyelesaian segalanya. Menjadi pemimpin teratas bukan berarti kita tidak punya batasan. Tidak peduli pekerjaan apa yang kita lakukan atau posisi apa yang kita raih, kita akan memiliki batasan.
Setiap anak tangga kepemimpinan yang kita tempuh, kita dapati bahwa besar tanggung jawab akan lebih cepat daripada besarnya wewenang yang kita terima. Makin tinggi tangga yang ditapaki, lebih banyak hal yang diharapkan, tekanan pun membesar dan keputusan yang kita ambil memiliki bobot yang lebih besar pula. Seiring dengan kenaikan posisi di organisasi, hak kita akan berkurang namun tanggung jawab kita akan semakin besar.
Keenam, mitos potensi. Maxwell percaya bahwa setiap orang harus berjuang keras untuk mencapai puncak kemampuan diri sendiri, bukan puncak organisasi. Masing-masing dari kita harus bekerja keras untuk mencapai potensi diri yang maksimal, tidak harus selalu untuk mendapatkan posisi di ruang kantor utama. Kadang kala, kita dapat membuat dampak besar dari posisi yang bukan posisi teratas ataupun yang terutama.
Maxwell memberikan contoh yang sungguh tepat tentang hal ini. Ia menceritakan bagaimana Dick Cheney pada tahun 1996 pernah tergoda untuk melanjutkan estafet kepemimpinan George W. Bush sebagai presiden. Dengan kemampuan dan reputasi yang dimilikinya sebagai Kepala Staf Gedung Putih, anggota Kongres 6 periode dan menteri Pertahanan, Dick Cheney sebenarnya mampu mencapai puncak kepemimpinan tersebut.
Ia sadar kemudian berniat untuk pensiun sebagai pengusaha dengan hobi berburu dan memancing di masa tuanya. Namun, George W. Bush memilihnya mengambil peran yang memang layak untuknya yakni sebagai Wakil Presiden Amerika Serikat. Dick Cheney pun mencapai potensinya sebagai Wakil Presiden selama 2 periode. Ia menjadi antitesa dari figur flamboyan.
Ketujuh, mitos semua atau tidak sama sekali. Kita seringkali berandai-andai bahwa jika berada di posisi puncak kita akan melakukan banyak hal baru. Namun jika tidak berada di puncak, kita lalu enggan memberikan apapun yang sebenarnya dapat kita berikan pada organisasi. Bagi Maxwell, hal tersebut terjadi karena kekeliruan dalam mendefinisikan kesuksesan. Akibatnya banyak orang percaya bahwa bukanlah kesuksesan jika tidak berada di puncak. Dengan kondisi frustasi tersebut, sering kali ada rasa kecewa atau bahkan sinis jika melihat orang lain berada diatas. Hal tersebut bukan saja menjadi batu sandungan bagi masing-masing pribadi namun juga berdampak pada organisasi itu sendiri.
Dari keseluruhan mitos yang diuraikan Maxwell kita dapat pelajaran bahwa di mana atau apa pun posisi kita saat ini dalam organisasi kita tetap bisa menjadi pemimpin dengan mengerahkan potensi yang kita miliki dalam bingkai kontribusi. Tidak perlu menunggu berada di posisi tertentu untuk membuat perubahan yang baik, saling menumbuhkan dan bekerjasama di semua tingkatan.
Kita semua mungkin tidak dapat membuat efek instan. Yang penting adalah kita mau melakukan apa yang harus dilakukan untuk membuat efek positif di mana pun kita berada di dalam hidup ini - membuat nilai tambah dengan cara terbaik kepada orang lain.
Perlu kita sadari pula, menerapkan gaya kepemimpinan 360˚ bukanlah tanpa tantangan. Tantangan paling utama adalah seringkali kita berpikir bahwa semua konsep tersebut lebih mudah diucapkan daripada dilaksanakan. Itu memang benar, meskipun sukar bukan berarti mustahil. Segala yang mungkin, kita pasti bisa.
