Konten dari Pengguna

Transformasi Budaya: Prinsip Utama The 360˚ Leader

Julpadli

Julpadli

Saya seorang pegawai BUMD dan alumnus Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan. Belajar menulis sebagai terapi.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Julpadli tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mari kita lanjutkan pembahasan mengenai the 360˚ Leader setelah sebelumnya kita membahas mitos dan tantangan yang dihadapi dalam proses penerapannya. Terdapat 3 bagian buku yang membahas konsep inti yang ditawarkan oleh Maxwell dan merupakan prinsip-prinsip praktis dalam penerapan konsep kepemimpinan 360 derajat.

Dalam penerapan konsep kepemimpinan tersebut, Maxwell membaginya menjadi 3 prinsip; leading up (memimpin ke atas), leading across (memimpin ke samping) dan leading down (memimpin ke bawah). Namun ketiga prinsip tersebut tidak akan bisa terlaksana sebelum menjalankan prinsip utamanya yakni memimpin diri sendiri (leading ourself).

Menurut Maxwell, kunci dari memimpin diri sendiri adalah mempelajari pengendalian diri.

Ia telah mengamati bahwa sebagian besar orang memberikan terlalu banyak penekanan pada pembuatan keputusan daripada manajemen keputusan itu sendiri. Sebagai hasilnya, kebanyakan orang tidak memiliki fokus, kedisiplinan, kesengajaan dan tujuan.

Sebuah cerita menarik diberikan Maxwell untuk menggambarkan prinsip utama tersebut. Seseorang telah membuat resolusi tahun baru, ia memutuskan untuk memulai olahraga dan mendaftarkan diri sebagai member gym. Pada hari pertama kedatangannya di pusat kebugaran, ia mendapati begitu ramainya orang-orang yang turut serta berolahraga. Namun dengan tekad bulat, ia tetap masuk ke arena gym. Baginya, keputusan berolahraga harus tetap utama.

Setelah menyelesaikan sesi olahraga selama 20 menit, ia pun kemudian bergegas keluar dan bertemu dengan manajer gym dan mengeluhkan ramainya orang-orang. Menanggapi keluhannya, sang manajer berkata “jangan khawatir, datanglah kembali 3 minggu mendatang, karena pada saat itu 98% dari orang yang mendaftarkan diri pasti sudah berhenti”.

Memutuskan untuk membuat resolusi berolahraga adalah 1 hal, benar-benar melaksanakannya adalah hal lain. Keputusan untuk ikut serta di dalam 98% orang-orang atau tetap bertahan membutuhkan kemampuan pengendalian diri. Dengan pengendalian diri, seseorang akan mendapat kredibilitas di mata atasan, rekan sejawat dan juga bawahan.

Mengenai pengendalian diri dalam konsep kepemimpinan 360 derajat, Maxwell menjelaskan bahwa terdapat 7 area yang penting untuk diperhatikan. Pertama, bagaimana kita mengelola emosi. Pemimpin yang baik tahu kapan harus memperlihatkan emosi dan kapan harus menahannya. Pada konteks ini, ekspresi emosi dapat ditangkap sebagai upaya untuk mendahulukan kepentingan lebih besar daripada kepentingan diri sendiri karena terkadang ketika berada di posisi tertentu kita memiliki kecenderungan defensif. Mengelola emosi bukan dimaksudkan untuk hidup dalam penyangkalan atau mengubur emosi yang justru bisa mengakibatkan depresi. Kedua, bagaimana kita mengelola waktu. Sebagaimana dikutip oleh Maxwell, seorang psikiater dan penulis, M. Scott Peck, berkata,

Sebelum anda menghargai diri sendiri, anda tidak akan menghargai waktu anda. Sebelum anda menghargai waktu anda sendiri, anda tidak akan melakukan apa pun dengannya”.

Pertanyaan mendasarnya adalah atas waktu yang ada, apa yang pantas kita habiskan dengannya? Dalam keseluruhan aktivitas kehidupan, tampaknya menghabiskan waktu untuk memberikan kebaikan adalah sebuah jawaban akhir.

Ketiga, bagaimana kita mengelola prioritas. Tidak ada yang benar-benar kita ketahui seluruhnya dalam hidup ini untuk itu perlu keberanian mengakui ketidaktahuan kita. Dengan pengakuan tersebut, kita akan mudah saling bertukar peran dengan siapa pun. Serahkan hal-hal yang mungkin orang lain lebih menguasainya tanpa harus merasa terpinggirkan apalagi takut kehilangan panggung. Kesadaran tersebut dengan sendirinya membuat kita mampu menyusun prioritas dan fokus terhadap apa yang memang kita kuasai dengan baik.

Keempat, bagaimana kita mengelola energi. Setiap aktivitas yang kita jalani memerlukan energi. Namun seringkali kita kehabisan energi karena banyak hal yang sebenarnya tidak perlu begitu dipusingkan. Menentukan arah setiap aktivitas, bertindak untuk melakukan dan menangani hal yang benar-benar penting adalah langkah terbaik mengelola energi.

Kelima, bagaimana kita mengelola pikiran. Tuntutan pekerjaan dan laju kehidupan kita dapati terlalu cepat sehingga perlu kiranya kita memiliki waktu dan ruang sendiri untuk berhenti sejenak dan mengambil rehat sebelum bertarung kembali. “Musuh terbesar dari pemikiran positif adalah kesibukan” ujar Maxwell. Menyeruput segelas kopi sembari mendengarkan musik mungkin salah satu diantara pilihan yang menarik untuk mengelola pikiran positif. Saya sendiri menambahkan menulis sebagai bagian dari upaya mengelola pikiran positif tersebut, menulis sebagai terapi ditengah hingar-bingar kehidupan. Menulis hingga larut malam sama seperti menguraikan benang kusut yang menghinggapi kepala. Anda mungkin dapat memulai memancing, meditasi, boxing atau lainnya.

Keenam, bagaimana kita mengelola kata-kata. Kata-kata memiliki kekuatan untuk membangun atau menghancurkan semangat seseorang. Dalam konteks profesional, apa yang kita katakan dan bagaimana mengatakannya dapat secara signifikan mempengaruhi suasana hati dan motivasi orang sekitar. Kata-kata yang tepat dan efektif dapat menjadi salah satu instrumen paling kuat untuk menginspirasi, memotivasi, dan memandu. Pilihan sederhana pada kata-kata dapat membuat perbedaan antara menerima atau menolak pesan yang ingin disampaikan.

Ketujuh, bagaimana kita mengelola kehidupan pribadi. Kita hidup dalam dunia yang menghargai produktivitas lebih dari perenungan, pencapaian lebih dari ketenangan batin. Kita lekat pada citra—tentang siapa kita, bagaimana orang melihat kita, apa yang harus kita punya. Bahkan dalam waktu luang pun, kita takut tak terlihat “bermanfaat”.

Ditengah itu semua kita butuh sebuah sistem nilai yang menghadirkan ketenangan. Kesuksesan adalah bagaimana kita memandang dan memaknai kehidupan. Kita tidak bisa mengendalikan perubahan dunia, kemajuan teknologi, krisis ekonomi, atau sikap orang terhadap kita. Tapi kita bisa mengendalikan apa yang kita tanam di hati: apakah kita hidup dengan ketulusan atau kemelekatan. Apakah kita memilih tenang, atau terus dikejar bayang-bayang “kurang”.

Tidak ada kepemimpinan yang sukses tanpa kemampuan memimpin diri sendiri. Kredibilitas kita sangat ditentukan dari bagaimana kita memandang diri kita sendiri. Kita tak pernah berlomba dengan orang lain, kenapa harus lebih hebat dari yang lain, cukup lebih baik dari diri kita kemarin.

3 maksim sederhana tertulis di pintu masuk kuil Apollo di Delphi, ”gnōthi seautón, mēdèn ágan, engyá pára d’ áta”, kenalilah dirimu, janganlah berlebihan dan tepati janjimu.

Kuil Apolllo di Delphi, sumber: https://commons.wikimedia.org/wiki/user:Luarvick